oleh

Yuzril Ihza Mahendra: Hari Lahir Pancasila Bukan 1 Juni, Tapi 18 Agustus 1945

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Penetapan Hari Lahir Pancasila nyatanya tidak menjadi penetapan yang diakui oleh semua kalangan. Merujuk pada sejarah, Yuzril Ihza Mahendra mengakui bahwa Pancasila lahir tanggal 18 Agustus 1945, bukan pada tanggal 1 Juni sebagaimana diakui oleh pemerintah hari ini.

“Bahwa hari lahirnya Pancasila bukanlah tanggal 1 Juni, tetapi tanggal 18 Agustus ketika rumusan final disepakati dan disahkan,” terang pakar hukum tata negara itu dalam salah satu rilis persnya, Rabu (31/5/2017).

banner 1280x904

Meski Presiden RI Ir. Soekarno kala itu mengumandangkan pidatonya tentang Pancasila pada 1 Juni, tapi bagi Yusril, itu hanyalah berupa masukan belaka. Artinya, tanggal tersebut belum menjadi ketetapan final untuk hari lahir Pancasila sendiri.

“Jika membandingkan usulan Soekarno tanggal 1 Juni 1945 dengan yang ditetapkan tanggal 18 Agustus 1945, cukup mengandung perbedaan fundamental,” lanjut Mantan Menteri Sekretaris Negara ini.

“Bahwa kompromi terakhir tentang landasan falsafah negara, Pancasila, dengan rumusan seperti dalam Pembukaan UUD 1945 adalah terjadi tanggal 18 Agustus 1945,” sambungnya kembali.

Memang, pertentangan tentang Pancasila ini tak hanya berkutat pada hari lahirnya saja, melainkan juga prinsip-prinsip utama yang dikandungnya. Sila Ketuhanan misalnya, terang Yuzril, awalnya diletakkan oleh Soekarno sebagai sila terakhir.

“Tetapi rumusan final justru menempatkannya pada sila pertama,” tambahnya.

Termasuk pula soal bunyi sila Ketuhanan ini sendiri. Yang awalnya berbunyi Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya, tapi karena desakan Soekarno dan Hatta, kalimat ini kemudian dihapuskan dan lalu diganti menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa.

Meski tim perumus lainnya, yakni Kasman Singodimedjo dan Ki Bagus Hadikusumo (tokoh Muhammadiyah) mengaku kecewa, tetapi karena otoritas berada di tangan Soekarno dan Hatta, rumusan tersebut pun akhirnya diterima.

Pro-kontra rumusan ini juga sempat terjadi di wilayah peras-memeras Pancasila. Soekarno mengatakan bahwa Pancasila dapat diperas menjadi Trisila, dan Trisila dapat diperas lagi menjadi Ekasila, yakni gotong-royong.

“Sementara rumusan final Pancasila, menolak pemerasan Pancasila menjadi Trisila dan Ekasila,” lanjut Yuzril.

Tapi terlepas dari pertentangan tentang rumusan Pancasila di atas, yang paling utama menjadi titik tekan Yusril adalah bahwa hari lahir Pancasila bukanlah 1 Juni, melainkan 18 Agustus 1945.

Jadi, apakah peringatan Hari Lahir Pancasila yang berlangsung kemarin secara nasional ini bisa dikatakan ahistoris alias salah-kaprah? (ms)

Komentar