oleh

Wabendum KOHATI PB HMI Ikut Konferensi International di Rusia

VLADIVOSTOK-RUSIA, SUARADEWAN.com – Pengurus Kohati PB HMI Tri Rahayu Mayasari berkesempatan mengikuti  Konferensi  Internasional di Vladivostok, Rusia. Konferensi yang dilaksanakan selama 5 hari Minggu-Rabu (1-5 Desember 2017) ini dihadiri oleh sekitar 70 delegasi dari berbagai negara.

Informasi yang dihimpun SuaraDewan,  Konferensi ini diselenggarakan oleh MUNRFE yang bekerja sama dengan Far Eastern Federal University. Model United Nations of the Russian Far East (MUNRFE) adalah salah satu NGO tertua di Rusia Timur, yang mempunyai tujuan untuk mengembangkan softskill dan leadership para generasi muda berbakat agar mampu berkontribusi pada isu-isu internasional. Konferensi MUNRFE diadakan secara rutin tiap tahun dan mendiskusikan isu-isu global dalam format debat sidang PBB untuk meningkatkan kemampuan kepemimpinan generasi  muda.

SuaraDewan berkesempatan mewawancari Tri Rahayu yang akrab disapa Yayuk ini, Berikut petikan wawancara SuaraDewan (SD)  ­dengan Perempuan kelahiran Kediri ini pada Jumat (8/12) via telephone.

SD : Selama 5 hari mengikuti Konferensi di Rusia, apa saja yang bisa anda ceritakan ?

TR : Baik, jadi dalam konferensi ini, peserta melakukan presentasi, oleh panitia pelaksana disana kami dibagi menjadi 3 komite yakni Dewan Keamanan (Security Council), Bank Dunia (World Bank), Komisi Pencegahan Kejahatan (Commission on Crime Prevention and Criminal Justice) dan Komisi Pengembangan Berkesinambungan (High-level political forum on sustainable development). Tiap delegasi diminta untuk mewakili Negara yang telah dipilih saat registrasi, bukan mewakili asal Negara yang sebenarnya. Kebetulan dalam kesempatan ini, saya menjadi delegasi dari Negara Pakistan.

PB Kohati HMI Tri Rahayu Mayasari, perempuan kelahiran Kediri.

Sepanjang forum berlangsung, saya  harus mampu memberikan solusi atas isu global yang terjadi di Pakistan, dan juga masyarakat internasional. Di sinilah letak tantangan dalam berdiskusi karena delegasi harus benar-benar menguasai isu di Negara yang diwakili. Delegasi tidak bisa menyampaikan pendapat pribadi, melainkan harus memposisikan dirinya sebagai perwakilan dari Negara yang telah ditentukan oleh panitia.

SD : Manfaat yang kamu dapat selama mengikuti Konferensi ini?

TR : Konferensi ini sangat memberikan manfaat besar bagi generasi muda, termasuk saya. Selain mengasah kemampuan berbahasa Inggris dan public speaking, forum ini sangat berguna untuk menstimulus generasi muda agar sadar untuk berkontribusi  menemukan solusi atas permasalahan kemanusiaan dan lingkungan yang sedang terjadi di kancah internasional. Selain itu, forum ini memberikan kesempatan kepada saya untuk membangun internasional networking dengan para delegasi yang berasal dari berbagai Negara.

Baca juga  Kritik Pemkot Tangsel Soal Sampah, HMI Gelar Aksi Bersih-bersih di Situ Kuru

SD : Selama disana ada yang membuat kamu terkejut atau semuanya berjalan seperti yang kamu bayangkan sebelumnya ?

TR : yang jelas disini sangat dingin ya, selama di Rusia saya terkejut dengan delegasi asal Rusia, meskipun mereka masih duduk di semester awal Strata Satu (S1) pengetahuan mereka sangat luas, terutama terkait dengan isu internasional. Hal ini memicu saya untuk lebih giat menempa ilmu dan memperluas jaringan agar mampu berkontribusi lebih terhadap sesama.

Sebagai Negara besar yang memiliki tingkat literasi sangat bagus, gaya hidup pemuda-pemudi Rusia sangat berbeda dibanding pemuda-pemudi Indonesia. Hal penting yang patut dicontoh adalah mereka tidak mengutamakan kebutuhan tersier, misal handphone. Meskipun penampilan  fisik mereka sangat cantik dan tampan, mereka  hanya menggunakan handphone tipe lamadan dan laptop tipe jadul (berukuran sangat besar). Ketika saya tanya, salah satu mahasiswi Rusia mengatakan bahwa mereka mengutamakan budaya intelektual, misalnya membaca, bukan penampilan. Artinya mereka tidak begitu mengutamakan konsumerisme, mereka membeli sesuatu sesuai kebutuhan.

Sebagai Negara multicultural, masyarakat Rusia tidak melupakan tradisi. Hal ini jelas terlihat pada gaya hidup mereka, misal: setelah makan mereka seringkali mengkonsumi coklat sebagai hidangan penutup. Ketika ditanya kenapa melakukan hal tersebut, mereka menjawab bahwa itu adalah bagian dari tradisi mereka.

Pemerintah Rusia mempunyai kebijakan yang bagus untuk mengatur masyarakatanya. Misal, jika kita melanggar rambu lalu lintas saat berjalan kaki maka kita akan dapat tilang. Meski kita hanya sebagai pejalan kaki. Jadi sebagai pejalan kakipun kita harus taat dengan rambu lalu lintas. Sebagai negara besar, Rusia sangat memperhatikan kesejahteraan masyarakat lokal, terbukti dengan jarangnya Produk Fast Food asing yang berjamur di kota, mayoritas adalah restaurant lokal. Yang menarik, masih banyak toko yang tidak menggunakan mesin chasier, masih kita temui toko menghitung jumlah belanjaan konsumen secara manual dengan kalkulator.

Baca juga  Kesehatan Masyarakat Korowai Cenderung Terabaikan, HMI Cabang Jayapura Galang Aksi Sosial

SD : Disana kamu telah mampu mempresentasikan negara Pakistan, apa yang bisa kamu ceritakan tentang negara ini? Dalam kaitannya dengan isu Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak misalnya? Karena KOHATI adalah organisasi yang memberi perhatian khusus terhadap isu kekerasan terhadap perempuan?

TR : Saya sempat ngobrol dengan delegasi asal Pakistan. Meskipun dalam sejarah PM India pernah dijabat perempuan namun fakta dilapangan cukup membuat sedih, saya pernah membaca berita bahwa menurut kelompok HAM perempuan di Pakistan, jumlah kekerasan terhadap perempuan di negara itu naik dalam setahun belakangan. Kasus perempuan diculik, dibunuh, dan diperkosa di Pakistan mencapai ribuan kasus setiap tahun, menurut Yayasan Aurat di Pakistan, kelompok yang memantau laporan media mengenai aksi kekerasan terhadap perempuan, dalam laporan terbaru Aurat, masalah infrastruktur dan sistem peradilan yang tidak efektif di Pakistan, bersama praktik budaya kuno, menjadikan isu kekerasan terhadap perempuan tidak ditangani baik.

Di Indonesia sendiri ? Setelah kasus pemerkosaan dan pembunuhan YY dan kasus dokter membunuh istrinya bisa dibayangkan betapa dalamnya luapan emosional kami terhadap kondisi kekerasan terhadap perempuan di tanah air. Dan saya dan teman-teman di KOHATI akan menjadi bagian untuk sama-sama dengan Komnas Perempuan, teman-teman di Cipayung Plus dan tentunya masyarakat luas, kita bersama-sama berjuang menyuarakan ini. Sebab, kami yakin perjuangan yang tidak dilakukan secara berjamaah, keberhasilannya sangat kecil. (ag)

Komentar