Tragedi Kemanusiaan Christchurch

Tragedi Kemanusiaan Christchurch

Dilanda Krisis Perumahan, Selandia Baru Larang Orang Asing Beli Properti di Negaranya
Buya Syafii dan ARB Mengutuk Keras Pelaku Penembakan di Christchurc
Topan Gita Terjang Selandia Baru, 1.000 Turis Terjebak

oleh : Jaya Suprana

SUARADEWAN.com – PADA 15 Maret 2019 tercatat dengan darah sebagai hari terkelam dalam lembaran sejarah peradaban Selandia Baru. Penembakan keji biadab tiada tara terjadi di dua masjid di Kota Christchurch, Selandia Baru.

Penembakan pertama dilancarkan di Masjid Al Noor, Jumat (15/3/2019) pukul 13.45 waktu setempat menewaskan sekitar 30 warga sipil. Dikutip dari AP News, penembakan kedua dilakukan di Masjid Linwood dan menewaskan 10 warga sipil.

Sampai saat naskah ini ditulis, terberitakan jumlah korban tragedi kemanusiaan Christchurch menjadi 49 orang, dua orang di antaranya adalah warga negara Indonesia.

Penembakan pertama dilancarkan di Masjid Al Noor, Jumat (15/3/2019) pukul 13.45 waktu setempat menewaskan sekitar 30 warga sipil. Dikutip dari AP News, penembakan kedua dilakukan di Masjid Linwood dan menewaskan 10 warga sipil.

Sampai saat naskah ini ditulis, terberitakan jumlah korban tragedi kemanusiaan Christchurch menjadi 49 orang, dua orang di antaranya adalah warga negara Indonesia.

Baca juga  Ini 5 Negara Teratas Dalam Indeks Demokrasi Dunia, Indonesia?

Tragedi Kemanusiaan

Saya tidak mampu membayangkan betapa hancur perasaan saya sendiri apabila orang yang saya kasihi jatuh menjadi korban angkara murka kebengisan pembinasaan keji tiada tara.

Saya mustahil mampu mengerti apalagi membenarkan pembinasaan yang dilakukan seorang insan manusia terhadap puluhan sesama manusia yang sama sekali tidak melakukan kesalahan apa pun terhadap sang pembunuh. Malah sang pembunuh dengan yang dibunuh tidak saling mengenal satu sama lain. Bahkan puluhan insan yang dibunuh sedang berada di rumah ibadah demi mendekatkan diri masing-masing dengan Allah Yang Maha Kuasa.

Kepengecutan sang pembunuh makin terjelaskan pada kenyataan bahwa para puluhan korban sama sekali tidak bersenjata untuk membela diri. Fakta bahwa sang pelaku terorisme Christchurch adalah bukan Muslim seharusnya menyadarkan para penderita Islamophobia atas kekeliruan memfitnah Islam sebagai agama yang mengajarkan kebencian dan kekerasan.

Baca juga  Dilanda Krisis Perumahan, Selandia Baru Larang Orang Asing Beli Properti di Negaranya

Sungguh amat sangat mengerikan bahwa kebencian dapat sedemikian dahsyat mengkhilafkan kalbu seorang insan manusia sehingga bukan hanya membenci namun bahkan secara biadab membinasakan sesama manusia hanya akibat beda asal usul tanah tumpah darah, warna kulit dan agama.

Saya tidak berdaya apa pun dalam menghadapi prahara kemanusiaan yang terjadi di masjid Al Noor dan masjid Linwood, Christchurch, Selandia Baru, kecuali melalui naskah sederhana yang dimuat Kantor Berita Politik RMOL ini, saya menyampaikan rasa ikut berduka sedalam-dalamnya kepada para sanak-keluarga yang ditinggalkan para korban serta bersujud demi dengan penuh kerendahan hati memanjatkan doa memohon Yang Maha Kasih berkenan melimpahkan anugrah kekuatan lahir dan batin kepada segenap sanak keluarga yang ditinggalkan, serta memohon agar Yang Maha Kuasa berkenan menerima arwah para korban di sisi Beliau. Amin. (sumber: rmol.co)

Penulis adalah seorang pembelajar kemanusiaan.

COMMENTS