oleh

Tiga Pengertian Tentang Hijrah Menurut Pimpinan Muhammadiyah

JAKARTA, SUARADEWAN.com — Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Abdul Mu’ti, menerangkan bahwa hijrah mengandung tiga pengertian.

Pertama, secara bahasa berarti berpindah dari satu tempat berdomisili ke tempat domisili yang lain.

banner 1280x904

Prof Mu’ti melanjutkan, pengertian kedua, hijrah secara historis berarti berpindahnya Nabi Muhammad SAW dan para sahabat dari Makkah ke Madinah.

Ketiga, hijrah secara spiritual yaitu berhijrah atau meninggalkan semua perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT.

“Dalam memperingati tahun baru Hijriyah ada tiga spirit yang perlu ditransformasikan dalam kehidupan pribadi, sosial, dan budaya,” kata Prof Mu’ti seperti dilansir Republika.co.id, Kamis (20/8).

Baca juga  Dr. Zuly Qodir: Membubarkan HTI Tak Sama dengan Menindas Umat Islam
Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Abdul Mu’ti

Dia menerangkan, pertama, secara pribadi umat Islam hendaknya melakukan hijrah spiritual untuk menjadi manusia yang lebih baik. Yakni berubah dari kebiasaan dan tabiat lama yang tidak baik menuju kebiasaan dan amalan yang utama. Hijrah dari maksiat menuju tobat, taat, dan takwa. Sebab tidak ada kata terlambat untuk menjadi lebih baik.

Spirit transformasi kedua, secara sosial umat Islam perlu memperkuat persaudaraan dan persatuan yang sejati dalam masyarakat yang pluralistis sebagaimana persahabatan muhajirin dan anshar. Rasulullah mempersaudarakan pendatang (muhajirin) dengan penduduk asli (anshar).

“Ketiga, secara politik hijrah memberikan pelajaran tentang masyarakat hukum. Semua warga Madinah terikat dengan Piagam Madinah sebagai Undang-undang yang berlaku bagi semua warga Madinah, Nabi Muhammad SAW sebagai kepala negara Madinah membangun masyarakat yang mematuhi hukum dan menegakkan hukum secara adil,” ujarnya.

Baca juga  Bantu Korban Gempa Lombok, Muhammadiyah Bangun 670 Rumah Hunian Sementara

Prof Mu’ti mengatakan, makna spiritual, sosial, dan politik hijrah itulah yang sekarang ini sangat penting untuk diterapkan dalam kehidupan peribadi, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Di tengah pandemi Covid-19, semangat persatuan dan persahabatan yang diwujudkan dalam sikap saling menghormati, tolong menolong, dan gotong royong. (rep)

Komentar