Tidak Netral Saat Pilkada dan Pemilu, BKN: 991 ASN Terancam SanksiIlustrasi ASN

Tidak Netral Saat Pilkada dan Pemilu, BKN: 991 ASN Terancam Sanksi

Jual Beli Jabatan di DKI Jakarta Marak Terjadi
Resmi! Dibuka 19 September, Ini Cara Daftar CPNS 2018
Terhitung Sejak Januari 2019, Gaji PNS Naik 5 Persen

JAKARTA, SUARADEWAN.com — Data Kedeputian BKN Bidang Pengawasan dan Pengendalian Kepegawaian (Wasdalpeg) menetapkan sebanyak 991 Aparatur Sipil Negara (ASN) yang terlibat dalam pelanggaran netralitas (data: per Januari 2018 s/d Juni 2019).

Hal tersebut sebagaimana disampaikan oleh Kepala Biro Humas Badan Kepegawaian Negara (BKN) Mohammad Ridwan. Menurut Ridwan 299 sudah diproses sampai tahap pemberian sanksi yang terdiri dari 179 dikenakan sanksi disiplin dan 120 dikenakan sanksi kode etik.

“Adapun 692 sisanya yang belum ditetapkan sanksi masih dalam tahap pemeriksaan dan klarifikasi lebih lanjut dengan pihak instansi masing-masing,” kata Ridwan dalam siaran persnya Selasa (23/7) petang.

Pemberian sanksi tersebut sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN) Pasal 12 bahwa ASN dalam menjalankan tugas dan fungsinya harus tanpa intervensi politik.

999 Kasus keterlibatan ASN dalam aktivitas politik adalah seperti keberpihakan terhadap calon pasangan tertentu dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Tahun 2018, serta pada Pemilihan Umum (Pemilu) Tahun 2019 lalu.

Baca juga  Jual Beli Jabatan di DKI Jakarta Marak Terjadi

Sebelumnya BKN sudah melakukan sinkronisasi data pelanggaran netralitas dengan instansi pemerintah daerah (Provinsi/Kota/Kabupaten) pada tanggal 4–10 Juli 2019. Mengingat dari total 991 ASN yang terlibat pelanggaran netralitas, 99.5% berstatus pegawai instansi pemerintah daerah.

Ditambahkan oleh Ridwan, ketentuan jenis pelanggaran dan sanksi disiplin untuk ASN yang terbukti melanggar netralitas diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin PNS.  Terdapat dua jenis pelanggaran dan hukuman yang akan dikenakan bagi ASN yang melanggar netralitas.

Jenis pelanggaran netralitas berkategori sanksi hukuman disiplin sedang meliputi: Ikut serta sebagai pelaksana kampanye; Menjadi peserta kampanye; Mengadakan kegiatan yang mengarah keberpihakan terhadap pasangan calon; Memberi dukungan kepada calon anggota Dewan Perwakilan Daerah atau calon Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah; Terlibat kampanye untuk mendukung calon Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah; dan Mengadakan kegiatan yang mengarah kepada keberpihakan terhadap pasangan calon yang menjadi peserta pemilu sebelum, selama, dan sesudah masa kampanye meliputi pertemuan, ajakan, imbauan, seruan, atau pemberian barang kepada PNS dalam lingkungan unit kerjanya, anggota keluarga, dan masyarakat.

Baca juga  Guru Honorer Mogok Mengajar, DPR: Pemerintah Harus Segera Merespon!

“Terhadap pelanggaran itu, sanksi yang diterapkan dapat berupa: Penundaan kenaikan gaji berkala selama satu tahun; Penundaan kenaikan pangkat selama satu tahun; dan Penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama satu tahun,” jelas Ridwan.

Kedua, jenis pelanggaran netralitas yang berkategori hukuman disiplin berat meliputi: sebagai peserta kampanye dengan menggunakan fasilitas negara; Membuat keputusan dan/atau tindakan yang menguntungkan atau merugikan salah satu pasangan calon selama masa kampanye; Menggunakan fasilitas yang terkait dengan jabatan dalam kegiatan kampanye; dan Menjadi anggota dan/atau pengurus partai politik.

Terhadap pelanggaran itu, menurut Ridwan, sanksi yang diterapkan dapat berupa: Penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama tiga tahun; Pemindahan dalam rangka penurunan jabatan setingkat lebih rendah; Pembebasan dari jabatan; hingga Pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri sebagai PNS. (sk/ind)