oleh

Terlalu Responsif, Pengamat: Jokowi Terjebak Irama Main Kompetitor

JAKARTA, SUARADEWAN.com — Keputusan Calon Presiden Nomor Urut 01 Joko Widodo (Jokowi) untuk merespons setiap kampanye negatif kubu lawannya dinilai justru merugikan sang petahana. Hal tersebut lantaran semua tanggapan yang diberikan akan membuat Jokowi keluar dari pakem komunikasi politiknya selama ini.

Direktur Indonesian Public Institute Karyono Wibowo mengatakan, Jokowi terlihat menanggapi beberapa isu yang terlontar seperti isu kader Partai Komunis Indonesia (PKI), antek asing, dan lainnya. Karyono beranggapan, gaya ini tidak terlihat sebagai karakter Jokowi dan dikhawatirkan membuat kehilangan gayanya yang khas, yakni tenang dalam berpolitik.

Selain itu, isu yang dilontarkan akan menjadi besar apabila ditanggapi oleh seorang Presiden. “Jokowi saat ini terjebak irama main kompetitor,” kata Karyono, di Jakarta, Kamis (27/12).

Beberapa celotehan politik Jokowi yang kerap terlontar, antara lain politisi sontoloyo, genderuwo, tabok hingga gebuk. Ia menyebut pergeseran strategi ini berbeda dibandingkan 1,5 tahun lalu ketika Jokowi masih santun dalam bersikap.

Baca juga  Fahri Hamzah: Kita Enggak Usah Ngomongin Ahok Lagi

Di sisi lain, Karyono melihat ada kekhawatiran Jokowi melihat surveinya yang cenderung stagnan. Apalagi, Jokowi beberapa kali menyinggung masalah Brexit hingga Pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS) 2016.

Hal tersebut diperparah dengan Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin yang memilih membalas politik identitas dengan langkah serupa. Hal ini dinilai malah berpotensi menjadi bumerang bagi Jokowi. “Misal soal (kepantasan) menjadi imam dan bukan imam, tim Jokowi ikut mainkan isu ini,” katanya.

Padahal, menurut Karyono, pihak yang menyerang atau percaya dengan isu seperti kriminalisasi ulama memiliki preferensi politik ke kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Oleh sebab itu, Jokowi diminta fokus untuk menyampaikan saja prestasi pemerintahan sebagai petahana. “Keberhasilan pembangunan banyak, yang mencolok itu infrastruktur,” katanya.

Baca juga  Pengamat: Prabowo Bisa Kalahkan Jokowi di Pilpres, Jika Punya Tiga Hal Ini

Sementara itu, Pengamat Politik dari Exposit Strategic Politica, Arif Susanto, mengatakan fenomena ini mirip dengan Pilpres Amerika Serikat. Ketika itu Hillary Clinton memilih terus merespons kampanye dan propaganda negatif kepada dirinya. Sikap reaktif ini yang turut membawa kekalahannya terhadap Donald Trump. “Tim Prabowo dan Sandiaga bermain di media sosial dengan propaganda negatif dan semasif itu Jokowi dan Ma’ruf Amin bereaksi,” kata Arif.

Menurut Arif, kubu Prabowo dalam kampanyenya membangun narasi pesimisme, politik kecemasan. Dilihat dari perspektif politik, hal ini merupakan strategi kubu lawan untuk membujuk pemilih. “Tentu bagi petahana yang dijual keberhasilan, capaian pembangunan yang diklaim selama 4 tahun. Sebaliknya bagi penantang, mereka jualan kegagalan pemerintah,” ujarnya. (kd)

Komentar