Tangkal Radikalisme dan Terorisme, Jokowi Seru Pendekatan “Soft-Power”

Tangkal Radikalisme dan Terorisme, Jokowi Seru Pendekatan “Soft-Power”

BIN: Ada 41 Masjid dan 50 Pencaramah Dengan Paham Radikalime
Kesenjangan Sosial Jadi Celah Tumbuhnya Kelompok Radikal
Tudingan Terorisme Sebagai Pengalihan Isu Itu Salah Besar

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Dalam rangka menangkal aksi-aksi radikalisme dan terorisme yang hari ini memang marak-maraknya menggerogoti perdamaian dunia, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menawarkan pendekatan “soft-power” sebagai langkah taktisnya.

Hal tersebut Jokowi sampaikan dalam “Arab Islamic America Summit” atau Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Arab Islam Amerika di Conference Hall King Abdulaziz Convention Center, Riyadh, Arab Saudi, Sabtu (20/5/2017).

“Sejarah mengajarkan bahwa kekuatan militer saja tidak akan mampu mengatasi terorisme, dan karennya Indonesia meyakini pentingnya menyeimbangkan pendekatan itu dengan “soft-power”, yaitu lewat pendekatan agama dan budaya,” ujar Jokowi melalui siaran pers Istana Kepresidenan RI, Minggu (21/5/2017).

Baca juga  Safari Ramadan: Ketua DPR Minta Ulama Jaga Umat

Untuk program deradikalisasinya sendiri, Jokowi mengaku akan melibatkan masyarakat, keluarga, termasuk keluarga mantan narapidana terorisme yang sudah sadar, serta organisasi masyarakat yang concern di bidang penangkalan terorisme.

“Kita juga melibatkan dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, yaitu Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama untuk terus mensyiarkan Islam yang damai dan toleran. Sementara untuk kontra-radikalisasi, Indonesia merekrut netizen muda dengan follower banyak untuk menyebarkan pesan-pesan damai,” jelasnya.

Baca juga  Densus 88 Ringkus Pria di Cibubur Karena Terindikasi Bom Kampung Melayu

Melalui pendekatan “soft-power” ini, ada empat hal pokok yang menjadi penekanan dari Jokowi. Di antaranya, pentingnya meningkatkan ukhuwah islamiyah dan peningkatan upaya pemberantasan terorisme lewat pertukaran informasi dan penanganan apa yang disebutnya sebagai “foreign terrorist”.

“Penyelesaian akar masalah terorisme lewat pemberdayaan ekonomi inklusif, serta memposisikan diri sebagai bagian dari solusi bukan bagian dari masalah,” tambahnya. (ms)

COMMENTS