oleh

Tangkal Radikalisme dan Terorisme, Jokowi Seru Pendekatan “Soft-Power”

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Dalam rangka menangkal aksi-aksi radikalisme dan terorisme yang hari ini memang marak-maraknya menggerogoti perdamaian dunia, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menawarkan pendekatan “soft-power” sebagai langkah taktisnya.

Hal tersebut Jokowi sampaikan dalam “Arab Islamic America Summit” atau Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Arab Islam Amerika di Conference Hall King Abdulaziz Convention Center, Riyadh, Arab Saudi, Sabtu (20/5/2017).

“Sejarah mengajarkan bahwa kekuatan militer saja tidak akan mampu mengatasi terorisme, dan karennya Indonesia meyakini pentingnya menyeimbangkan pendekatan itu dengan “soft-power”, yaitu lewat pendekatan agama dan budaya,” ujar Jokowi melalui siaran pers Istana Kepresidenan RI, Minggu (21/5/2017).

Baca juga  Lawan Terorisme, BNPT Gencarkan Media Kontra-Narasi

Untuk program deradikalisasinya sendiri, Jokowi mengaku akan melibatkan masyarakat, keluarga, termasuk keluarga mantan narapidana terorisme yang sudah sadar, serta organisasi masyarakat yang concern di bidang penangkalan terorisme.

“Kita juga melibatkan dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, yaitu Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama untuk terus mensyiarkan Islam yang damai dan toleran. Sementara untuk kontra-radikalisasi, Indonesia merekrut netizen muda dengan follower banyak untuk menyebarkan pesan-pesan damai,” jelasnya.

Baca juga  Strategi Cadar dan Cingkrang Menteri Agama

Melalui pendekatan “soft-power” ini, ada empat hal pokok yang menjadi penekanan dari Jokowi. Di antaranya, pentingnya meningkatkan ukhuwah islamiyah dan peningkatan upaya pemberantasan terorisme lewat pertukaran informasi dan penanganan apa yang disebutnya sebagai “foreign terrorist”.

“Penyelesaian akar masalah terorisme lewat pemberdayaan ekonomi inklusif, serta memposisikan diri sebagai bagian dari solusi bukan bagian dari masalah,” tambahnya. (ms)

Komentar