oleh

Takut Minyak Babi, Sejumlah Sekolah Islam di Yogyakarta Tolak Imunisasi

YOGYAKARTA, SUARADEWAN.com – Di Yogyakarta, tersiar kabar bahwa ada sejumlah sekolah berbasis Islam, mulai dari tingkat SD hingga SP, seperti Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Tsanawiyah (MTS), menolak program imunisasi dari pemerintah. Alasannya penolakannya karena takut jika bahan imunisasi tersebut mengandung unsur haram seperti minyak babi.

Hal ini sebagaimana diterangkan oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama Daerah Istimewa Yogyakarta (Kanwil Kemenag DIY). Ia menemukan ada 8 (delapan) sekolah yang keseluruhannya dikelola swasta menyatakan menolak mengikut program imunisasi campak atau Measles Rublla.

banner 1280x904

“Yang menolak itu sebenarnya sekolahnya, bukan siswanya. Siswanya nggak ada masalah, sekolahnya yang protektif,” terang Kepala Kanwil Kemenegag DIY Luthi Hamid, Kamis (27/7/2017).

Baca juga  Terkait Pembubaran HTI, Raja Yogyakarta: Itu Hak Presiden

“Saat kami datangi bersama Dinas Kesehatan, mereka menolak karena takut ada unsur haram dalam bahan imunisasi itu. Kami tegaskan dan menjamin tak ada yang haram. Ini demi kesehatan,” tambahnya.

Menurut Lutfi, mestinya pengelola sekolah tidak harus menggunakan orientasi ideologis dalam menyikapi persoalan kesehatan.

“Sekarang ini sesuatunya serba transparan. Jika suatu barang sudah diketahui dan dibuktikan indikator keharamannya tidak ada, maka kita anggap halal. Begitulah cara kita beragama,” jelasnya.

Meski demikian, pihak Kanwil Kemenag DIY tetap akan melakukan pendekatan khusus agar sekolah-sekolah yang menolak program imunisasi tersebut bisa diyakinkan. Sebab ini menyangkut masa depan dan kesehatan peserta didik, tak ada kepentingan lain di luar itu.

Baca juga  Berkat Putusan MK, Yogyakarta Dimungkinkan Dipimpin Gubernur Perempuan

“Yang menolak sekarang sudah mau, kami akan pantau sampai program dilaksanakan,” tandasnya.

Hal senada juga sempat disampaikan oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X. Ia meminta agar program imunisasi campak tetap berjalan sesuai rencana.

“Terkati warga yang menolak, kami minta dilakukan pendekatan dan komunikasi lebih intens. Ini hanya persoalan komunikasi,” harap Sultan.

Komentar