Tak Mau Kebebasan Terbungkam, Kaum Perempuan Iran Gagas Gerakan Lepas Jilbab

Tak Mau Kebebasan Terbungkam, Kaum Perempuan Iran Gagas Gerakan Lepas Jilbab

Jika Iran dan Amerika Serikat Berperang, Siapa yang Lebih Unggul?
Iran Minta Negara-Negara Muslim Revisi Hubungan Ekonomi dengan AS
Demonstrasi Antipemerintah di Iran Berlangsung Selama Sepekan, 3700 Orang Ditangkap

IRAN, SUARADEWAN.com – Demi membebaskan diri dari jerat penjajahan tubuh oleh kebijakan diskriminatif pemerintah, ribuan kaum perempuan di Iran mengkampanyekan gerakan lepas jilbab bertagar #WhiteWednesdays di media sosial. Kini, kampanye gerakan ini menjadi simbol perlawanan paling riil atas kewajiban yang semena-mena.

Diketahui, gerakan ini pertama kali digagas oleh Masih Alinejad, pendiri My Stealthy Freedom, sebuah gerakan daring yang menentang kewajiban berjilbab di Iran. Secara pribadi, ia tak mau lagi dikungkung dan dipaksa untuk menutupi rambutnya karena hanya berlandas pada satu tafsir yang subjektif.

Dalam sejarahnya, sebelum revolusi Iran pada tahun 1979, semua perempuan Islam di Iran masih leluasa mengatur pakaiannya sesuai keinginannya masing-masing. Tapi fakta tersebut kemudian berubah pasca naiknya Ayatollah Khomeini sebagai penguasa.

Gerakan untuk menentang kebijakan penguasa tersebut pun sampai hari ini terus bergaung. Seperti yang diwakili oleh My Stealthy Freeedom, gerakan tersebut tak pernah hilang. Bahkan, dalam waktu tiga tahun terakhir ini, pihaknya telah menerima lebih dari 3.000 foto dan video yang memperlihatkan para perempuan tanpa jilbab.

Foto-foto dan video-video tersebut diunggah di situs My Stealthy Freedom. Dan sampai hari ini, lembaga ini menjadi wadah bagi para perempuan yang ingin menunjukkan dirinya di depan publik sebagaimana yang mereka kehendaki sendiri, tanpa aturan yang diskriminatif.

“Saya sangat terpacu untuk turut serta dalam kampanye ini,” tutur salah seorang kontributor dalam sebuah video rekamannya.

“Saya ingin berbicara kepada Anda tentang nasib saya yang terkungkung. Mereka (pemerintah) memaksa saya mengenakan jilbab sejak saya berusia tujuh tahun,” sambung sambil melepas jilbab.

Padahal, baginya, kewajiban tersebut bukanlah komitmennya, dan tidak akan pernah ia lakukan. Tapi sayang, karena desakan aturan yang ada, ia merasa terpaksa harus melakukan itu bertahun-tahun.

Sang pendiri My Stealthy Freedom pun merasa kagum dengan keberanian para kontributornya.

“Ketika saya menyatakan kekhawatiran saya tentang keamanan, ia menjawab bahwa ia lebih suka membahayakan pekerjaannya daripada terus hidup di bawah penindasan yang diderita perempuan Iran selama 38 tahun terakhir,” terang Alinejad.

Menurutnya, proyek ini merupakan sesuatu yang didorong oleh cinta, oleh hati. Awalnya ia menjalankan kampanye itu sendirian, dan terus berlanjut hingga mendapat dukungan penuh dari sejumlah kalangan. (ms)

COMMENTS