Surplus Listrik, Negara Ini Rela Bayar Warganya Untuk Memakai Listrik

Surplus Listrik, Negara Ini Rela Bayar Warganya Untuk Memakai Listrik

JAKARTA, SUARADEWAN.com -- Jika di Indonesia masyarakat masih menjerit karena tarif listrik yang tinggi, Jerman malah rela membayar masyarakat untuk m

The Resonanz Childrens Choir Juarai EGP for Choral Singing di Slovenia
Teman dan Musuh Amerika di Bawah Kepemimpinan Donald Trump
Warga 6 Negara Muslim Ini Resmi Tidak Bisa Masuk AS

JAKARTA, SUARADEWAN.com — Jika di Indonesia masyarakat masih menjerit karena tarif listrik yang tinggi, Jerman malah rela membayar masyarakat untuk memakai listrik. Penyebabnya hanya satu; Jerman surplus listrik. Banyak sumber energi terbarukan membuat Jerman kelebihan energi.

Dikutip dari Huffington Post, selama ini Jerman memang telah melakukan investasi besar-besaran untuk menghadirkan energi terbarukan. Karena jumlah energi yang dihasilkan berlebih, setiap rumah tangga dibayar untuk menggunakan listrik saat liburan.

Pasalnya, selama musim liburan, permintaan listrik rendah. Cuaca yang hangat di Berlin pada Natal dan hembusan angin yang kuat membuat energi yang dihasilkan pembangkit listrik tenaga angin cukup besar. Harga listrik terus-menerus turun bahkan di bawah 0.

Kejadian seperti ini memang bukan kejadian aneh di Jerman. Pada November 2017 lalu, harga listrik juga tenggelam. Dan kondisi ini terjadi lagi saat tahun baru 2018. Penambahan pembangkit tenaga uap dan juga nuklir membuat jumlah energi yang dihasilkan lebih besar.

Baca juga  Fraksi PPP: Kenaikan TDL Menambah Masalah Ekonomi Baru Bagi Rakyat

Sebuah situs data pasar tenaga listrik Jerman, SMARD melaporkan pada tengah malam di malam natal, konsumen menggunakan listrik 42 ribu megawatt per jam.

Sementara listrik yang dihasilkan dari pembangkit yang ada sebesar 53 ribu megawatt per jam. Di mana 30 ribu mega watt di antaranya dihasilkan dari pembangkit tenaga angin.

Karena Jerman belum menemukan cara untuk menyimpan energi terbarukan, mereka memilih untuk mematikan PLTU dan Pembangkit listrik tenaga nuklir saat sumber energi terbarukan tiba-tiba meningkat.

Untuk itu diperlukan juga pelanggan yang mengonsumsi lebih banyak listrik selama masa kelebihan pasokan itu. Atau energi itu harus diekspor ke daerah terdekat.

Nah, uang bayaran karena menggunakan listrik ini, tidak serta merta langsung diterima masyarakat. Tetapi akan menjadi deposit bagi warga dan memotong biaya tagihan sepanjang tahun.

Pemerintah Jerman juga telah berjanji untuk menghapus pembangkit tenaga nuklir 2022 dan 80 persen sumber energi berasal dari energi terbarukan pada tahun 2050.

Baca juga  Datangi DPD RI Dirut PLN Tegaskan Tidak Ada Kenaikan Listrik

Dikutip dari Independent, hasil dari investasi energi terbaruka di Jerman mulai terlihat dari tahun ke tahun. Pada Maret tahun lalu, pembangkit listrik tenaga angin milik Jerman ini berhasil memproduksi 38.370 megawatt per jam. Angka yang cukup besar dan bisa menutupi lebih dari setengah kebutuhan masyarakat.

Kebijakan perusahaan membayar warga yang memakai listrik mulai terjadi pada tahun 2017. Pada Oktober, pembangkit listrik tenaga angin menciptakan lebih banyak energi ketimbang kebutuhan masyarakat. Pada bulan itu juga, sepanjang hari harga listrik di bawah 0.

Akhirnya, selain mematikan pembangkit listrik lain untuk mengurangi pasokan, mereka membayar warga agar menggunakan listrik. Memang kebijakan ini tidak berlaku setiap hari. Tapi kebijakan membayar warga yang menggunakan listrik ini meringankan beban masyarakat.

Karena secara tidak langsung, semakin banyak listrik yang digunakan saat kebijakan ini digulirkan, maka semakin besar nilai potongan yang didapat pada tagihan yang akan diterima. (ID)

COMMENTS

DISQUS: