oleh

Surat Pendek Dari Marwah Daud

Jakarta, suaradewan.com – Sebuah surat pendek yang ditulis oleh Marwah Daud Ibrahim salah satu anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan juga diketahui adalah Ketua Yayasan dari Padepokan Dimas Kanjeng (PDK) Taat Pribadi, beredar ramai di sosial media.

Dalam surat pendek itu Marwah menceritakan bahwa dirinya tidak ada yang berubah. Marwah Daud menjelaskan kalau dirinya masih Marwah yang dulu, baik sebagai seorang alumni di Universitas Hasanuddin atau Alumni di Amerikat.

banner 728x419

“Izinkan saya menyampaikan bahwa saya masih MARWAH YANG DULU, yang Anda kenal sebagai adik atau kakak di HMI, KAHMI dan sesama alumni Universitas Hasanuddin dan Alumni Amerika. Teman trainer atau peserta training di MHMMD,” tulis Marwah Daud dalam Surat Pendeknya yang ramai beredar di What’s Up, di Bintaro, Jakarta Selatan, Kamis (6/10) 2016.

Marwah juga menambahkan bahwa apa yang diperjuangkannya itu lebih besar, bukan hanya sekedar Padepokan dan jauh lebih mulia daripada sekedar membela Guru Besar Padepokan (Dimas Kanjeng). Bahkan alumni Unhas Makassar ini mengatakan kalau saat ini dirinya merasa tengah diperjalankan oleh tuhannya sehingga bisa bertemu dengan orang-orang hebat.

Anggota ICMI ini juga mengatakan kalau pembelaannya kepada sang guru besar Dimas Kanjeng Taat Pribadi ini adalah semacam pencarian atau penemuan ideologi di Abad 21 ini.

“Pembelaan saya terhadap Mas Kanjeng adalah pembelaan menyangkut sebuah proses pencarian,  penemuan  dan atau peneguhan “IDEOLOGI” untuk sebuah Peradaban Baru di Abad 21,” tulis Marwah.

Marwah juga banyak menceritakan semestinya kita sudah harus berani mendobrak kekayaan lokal di nusantara, yang di mana menurutnya Indonesia ini kaya akan Genius Lokal

“Ketika ilmuan mulai bicara Transdimensi, karena teori gravitasi, relativitas dan Fisika Quantum tidak bisa menjawab banyak dan bahkan harus go “beyond” methafisik, sementara di Pulau-Pulau Nusantara begitu kaya dgn “Genius Local.”, tegasnya dalam surat pendek tersebut.

Mengakhiri tulisannya Marwah menjelaskan bahwa dirinya sadar dan sehat walafiat menempuh proses spritualitas ini, dan dia meminta izin kepada semua orang agar memberikannya izin untuk melanjutkan perjanannya. “Sahabat”, izinkan saya melanjutkan perjalanan.” Tutup Marwah Daud di Bintaro. (amie)

Komentar