Supres Revisi UU KPK Terbit, Ketua KPK: Gerakan Antikorupsi dalam Kondisi MengkhawatirkanKetua KPK Agus Rahardjo (tengah) bersama Wakil Ketua KPK Laode M. Syarif (kiri) dan Saut Situmorang (kanan)memberi keterangan pers (12/9)

Supres Revisi UU KPK Terbit, Ketua KPK: Gerakan Antikorupsi dalam Kondisi Mengkhawatirkan

Kena OTT, Bupati Pakpak Bharat Jadi Tersangka Suap Proyek PU
Enam LSM Pegiat Anti Korupsi Laporkan Fahri Hamzah ke KPK
KPK Kantongi Tersangka Baru Kasus Korupsi e-KTP

JAKARTA, SUARADEWAN.com — Rapat paripurna DPR pada 3 September 2019 lalu menyetujui usulan revisi UU yang diusulkan Badan Legislatif (Baleg) DPR yaitu usulan Perubahan atas UU Nomor 30 tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK).

Presiden lalu menandatangani surat presiden (surpres) revisi UU tersebut pada 11 September 2019 meski ia punya waktu 60 hari untuk mempertimbangkannya.

Merespon hal tersebut, Ketua KPK Agus Rahardjo menilai  gerakan antikorupsi dalam kondisi yang mengkhawatirkan dengan mulusnya rencana revisi UU No 30 tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi. Ia berharap kekhawatiran ini didengar oleh pengambil kebijakan.

“Kemudian yang berikutnya gerakan antikorupsi berada dalam kondisi mengkhawatirkan. Kita masih berharap mudah-mudahan concern kita semua didengar oleh pengambil keputusan baik di DPR maupun di pemerintahan bahwa gerakan antikorupsi itu butuh penguatan-penguatan, bukan pelemahan,” tambah Agus Rahardjo di Jakarta, Kamis (12/9).

Baca juga  Alasan Negara Tidak Punya Uang, Fahri Minta KPK dan Komnas HAM Dibubarkan

Agus berharap agar revisi Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) didahulukan. Kemudian dilanjutkan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).

“Baru setelah itu dan kita pada waktu bicara RUU KUHP sudah bicara dengan Presiden di Istana Bogor, disetujui UU Tipikor (Tindak Pidana Korupsi) di luar, setelah itu kita mestinya memperbaiki UU Tipikornya karena masih ada kesenjangan dengan UNCAC (United Nations Convention against Corruption) belum ada korupsi di sektor swasta, belum menyentuh perdagangan pengaruh, memperkaya diri dengan cara tidak sah, lalu asset recovery,” tambah Agus.

Menurut Agus, setelah revisi UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi baru membahas revisi UU KPK. Namun ia justru menyayangkan sikap pemerintah dan DPR yang melawati langkah-langkah tersebut.

“Tapi secara mengejutkan langsung melompat ke UU KPK, kita terus berjuang untuk supaya gerakan antikourpsi di negara kita makin kuat,” ucap Agus.

Baca juga  Diancam Digugat Setnov, KPK: Kami Siap Hadapi

Sebelumya Ketua KPK Agus Rahardjo juga pernah mengatakakn bahwa KPK sedang berada di ujung tanduk bila rancangan tersebut jadi disahkan sebagai UU.

Sejumlah keberatan KPK terhadap RUU KPK tersebut adalah pegawai KPK tidak lagi independen dan status pegawai tetap akan berubah dengan merujuk kepada UU aparatur sipil negara (ASN).

Setelah itu KPK memiliki Dewan Pengawas dan menghapus penasihat karena dalam draf unsur KPK adalah pimpinan. Kemudian KPK perlu minta izin kepada Dewan Pengawas dalam melakukan penyadapan, penyitaan dan penggeledahan.

Selanjutnya penyelidik hanya boleh dari kepolisian, tidak ada penyidik independen.  Penuntutan KPK juga tidak lagi independen karena harus berkoordinasi dengan Kejaksaan Agung. KPK juga kehilangan kriteria penanganan kasus yang meresahkan publik. Kemudian KPK berwenang menghentikan penyidikan dan penuntutan. (rep)