oleh

Soal Kapal China, PB HMI: Itu Gelagat Kolonial dan Kelancangan Bilateral

banner-300x250

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Merespon penetrasi kapal-kapal berbendera Tiongkok (China) di laut Natuna utara, Pengurus Besar Himpunan mahasiswa Islam (PB HMI) mewanti-wanti pemerintah Indonesia untuk serius menyudahi manuver kapal China dan menyebutnya sebagai gelagat kolonialisme. Ungkapan protes PB HMI ini disampaikan langsung oleh wakil bendahara umum PB HMI Sadam Syarif di Jakarta pada Jum’at (03/01/2020).

“Kami minta pemerintah untuk tegas dan serius menangani masalah penyusupan kapal China di zona ekonomi ekslusif (ZEE) perairan Natuna utara. Dan pemerintah wajib berwaspada, Itu gelagat kolonial”, tegasnya.

Menurutnya, manuver memalukan bangsa asing dan ekspansi kapitalisme secara ofensif di masa lalu, merupakan pelajaran penting bagi Indonesia untuk tidak bersikap lemah di hadapan asing yang bersikap lancang atas kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia saat ini.

Baca juga  Meramu Sosok Pemimpin Pilihan Rakyat Riau

“Indonesia mesti bersikap tegas dan jelas untuk mengutuk keras kelancangan China yang mencedarai hubungan bilateral kedua negara ini”, ungkap Sadam.

Lebih jauh Sadam mengingatkan bahwa, PB HMI menghormati dan menghargai upaya pemerintah yang memilih China sebagai mitra strategis pembangunan ekonomi dan bisnis nasional, namun perihal kedaulatan negara yang bahkan telah disepakati oleh dunia internasional melalui konvensi Hukum Laut (UNCLOS) PBB ini diusik, maka tidak salah jika Indonesia perlu mempertimbangkan untuk meninjau kembali kontrak-kontrak proyek strategis bersama China.

Baca juga  Meneropong Metamorfosa Kader HMI

“Ini momentum tepat untuk mengevaluasi kembali kontrak bilateral kita dengan China. Sehingga bangsa ini tidak perlu terperangkap dalam pada ambisi kapitalisme China, tutup aktivis HMI asal cabang Kupang ini. (aw/her)