Sindikat Saracen Dagang Konten Isu SARA di Sosmed Dengan Bayaran Minimal 75 Juta

Sindikat Saracen Dagang Konten Isu SARA di Sosmed Dengan Bayaran Minimal 75 Juta

JAKARTA, SUARADEWAN.com - Sindikat produsen ujaran kebencian melalui Facebook, sindikat Saracen mengungkap manisnya madu keuntungan dagang ujaran kebe

Jangan Sebar Hoaks Ujaran Kebencian Jika Tak Mau Jadi Yang Ke-27
Penyebar Hate Speech di Medsos, PBNU: Itu Calon Teroris
Ingin Dibunuh Netizen, Fadli Zon: Saya Tidak Takut

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Sindikat produsen ujaran kebencian melalui Facebook, sindikat Saracen mengungkap manisnya madu keuntungan dagang ujaran kebencian. Data Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipid Siber) Bareskrim menunjukkan, setiap service mengelola isu dengan ujaran kebencian dan Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA) menghasilkan sedikitnya Rp 75 juta.

Kasubdit I Dittipid Siber Bareskrim Kombespol Irwan Anwar menuturkan, untuk mendapatkan klien sindikat Saracen terlebih dahulu membuat proposal. Klien utamanya adalah para politisi atau yang berkepentingan dengan isu politik. Harganya, Rp 75 juta hingga Rp 100 juta. ”Harganya memang mahal,” ungkapnya.

Baca juga  Cara Jitu Menangkal Cyber Crime di Media Sosial

Dalam proposal itu, Saracen akan menerangkan apa saja yang bisa didapatkan. Misalnya, pembuatan konten, sampai mengarahkan isu itu menjadi viral. Yang menjengkelkan, mereka cerdas untuk membaca isu dan menggabung fakta dengan hoax. Sehingga, informasi yang dilempar membingungkan. Ujung-ujungnya cepat viral.

”Klien mereka banyak, salah satunya waktu polemik kasus Ahok beberapa waktu lalu,” terangnya.

Baca juga  Bukannya Mendamaikan, Vlog Ustadz Ini Justru Tebar Benci dan Fitnah ke Institusi Polri

Dia menjelaskan, penangkapan produsen ujaran kebencian dan SARA itu merupakan yang kali pertama dilakukan. Sebelumnya, hanya pelaku tunggal yang ditangkap. Saracen, disebutnya sebagai kelompok yang kelasnya profesional. ”Masih banyak lho yang begini,” sindirnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, sindikat itu bekerja setidaknya dari tiga kota. Yaitu, Riau, Jakarta dan Cianjur, Jawa Barat. Sampai saat ini, anggota komplotan itu juga masih ada yang dikejar. ”Secepatnya mereka akan kami tangkap,” terangnya. (idr/JPC)

COMMENTS

DISQUS: