oleh

Sejarah Kora Beirut Lebanon yang Hancur karena Ledakan

SUARADEWAN.com – Sebuah ledakan besar terjadi di Beirut, Selasa kemarin. Ledakan menewaskan setidaknya 135 orang dan 5.000 terluka, menurut laporan Aljazeera pada Kamis (6/8/2020) pukul 09.00 WIB tadi. Ledakan itu membuat gelombang kejut ke seluruh kota dan menyebabkan kerusakan luas hingga ke pinggiran Beirut.

Tragedi yang terjadi di tengah pandemi COVID-19 tersebut memilukan dunia dan menjadi salah satu bencana terburuk di negara ini.

banner 1280x904

Kota Beirut adalah Ibu Kota Negara Lebanon yang sekaligus menjadi kota terbesar di negara tersebut. Kota ini didiami lebih dari 1,2 juta jiwa dengan luas daerah 19,8 km2. Kota Beirut dulunya dijuluki sebagai “Paris di Dunia Timur” karena suasana kosmopolitannya.

Berdasarkan letak Geografisnya, Beirut berlokasi di antara Bukit Al-Asyrafiyah dan Al-Musaytibah. Terletak di pantai Mediterania di kaki Pegunungan Lebanon. Selain terkenal karena kota kosmopolitannya, kota Beirut ternyata juga memiliki catatan sejarah yang panjang dan menarik.

Kota Beirut berkali-kali disebut dalam beberapa kitab suci termasuk Al Quran dan Hadist. Ada catatan menarik yang disebutkan oleh World Travel Guide mengenai kota ini. Beirut adalah salah satu tempat pertama di Timur Tengah yang memiliki toko kaset ketika label Baidaphon dimulai pada tahun 1907.

Beirut adalah rumah bagi sekolah hukum tertua di dunia. Kota ini juga telah dihancurkan dan dibangun kembali tujuh kali. Sejarah Kota Beirut Situs ensiklopedia ternama, Britannica mencatat, jejak permukiman di Beirut paling awal adalah pada zaman batu ketika daerah tersebut berada di antara dua pulau di delta Sungai Beirut.

Nama Beirut sendiri berasal dari bahasa Prancis Beyrouth. Penggalian di daerah Pusat Kota telah mengungkapkan situs Kanaan yang berasal dari tahun 1900 SM. Hal tersebut dapat dilihat melalui bukti surat-surat dari raja Kanaan di Beirut kepada Firaun Amenhotep IV. Pada abad ke-3 M, Beirut telah terkenal karena sekolah hukumnya. Ketenaran kota ini sebagai pusat perdagangan dan pusat pembelajaran terus berlanjut ketika Kekaisaran Romawi memberi jalan kepada Bizantium, perdagangan sutra.

Di masa inilah Beirut menjadi pusatnya. Akan tetapi, pada 551 terjadi gempa bumi dahsyat bersamaan dengan gelombang pasang. Bencana ini menewaskan sejumlah besar warga dan hampir menghancurkan kota. Sekolah Hukum dengan cepat dievakuasi dan dipindahkan ke Sidon. Bencana ini sekaligus menandai ‘penurunan’ kota yang berlangsung selama berabad-abad.

Baca juga  Rahasia Cantik dan Bibir Seksi Gal Gadot Si 'Wonder Woman'

Pada 635, Beirut direkonstruksi oleh kaum Muslim. Kota ini kembali bangkit sebagai kota yang dikelola Baalbek dan menjadi bagian dari provinsi Muslim Damaskus. Kembalinya perdagangan maritim ke Mediterania pada abad ke-10 menghidupkan kembali pentingnya Beirut, terutama setelah Suriah disahkan di bawah pemerintahan khalifah Fāṭimid di Mesir pada 977.

Selanjutnya pada 1110, Beirut ditaklukkan oleh pasukan militer Perang Salib Pertama dan terorganisir. Kota ini dengan pinggiran pantainya, kemudian menjadi wilayah kerajaan Latin Yerusalem. Tapi kemudian Saladin merebut kembali Beirut dari kuasa Tentara Salib pada1187. Sejarah berlanjut pada tahun 1291 saat Mamluk akhirnya mengusir Tentara Salib. Di bawah pemerintahan Mamluk, Beirut menjadi pelabuhan utama di Suriah untuk para pedagang rempah-rempah dari Venesia.

Popularitas Beirut kembali menurun saat Portugis mengeksplorasi benua Afrika (1498). Portugis mengalihkan perdagangan rempah-rempah Timur dari Suriah dan Mesir. Langkah Portugis ini menjadikan Beirut menurun secara komersial. Untuk selanjutnya, tahun 1516 Beirut disahkan di bawah Pemerintahan Ottoman. Akan tetapi pada abad ke-17, kota ini muncul kembali sebagai pengekspor sutra Lebanon ke Eropa, terutama ke Italia dan Prancis.

Saat itu Beirut secara teknis menjadi bagian dari Provinsi Ottoman Damaskus. Beirut kembali jatuh di bawah kendali amir Maʿn dan Shihab. Dari pertengahan abad ke-17 hingga akhir abad ke-18, tokoh-tokoh Maronit dari pegunungan menjabat sebagai konsultan Perancis di Beirut dan memiliki pengaruh lokal yang besar.

Selama Perang Rusia-Turki tahun 1768-1774, kota itu mengalami pemboman besar-besaran oleh Rusia. Setelah itu direbut dari Amir Shihab oleh Ottoman. Saat Revolusi Industri Eropa mulai tumbuh, barang-barang yang diproduksi oleh pabrik dari dunia Barat mulai menyerbu pasar Suriah Utsmaniyah.

Beirut memulai dari nol dan berdiri hanya untuk mendapatkan keuntungan dari dunia industri modern. Periode 1832–1840, di bawah Muḥammad ʿAlī Pasha, pendudukan Suriah oleh warga Mesir memberikan stimulus yang diperlukan bagi Beirut untuk memasuki periode baru pertumbuhan komersialnya. Tahun 1860 terjadi perang saudara dan memuncak saat pembantaian umat ​​Kristen oleh Druzes. Hal ini membengkakkan populasi Beirut karena para pengungsi Kristen tiba dalam jumlah besar.

Baca juga  Chaos Akibat Lockdown, Ribuan Rakyat Bentrok Lawan Tentara di Libanon

Sementara itu, pengamanan gunung-gunung di bawah pemerintahan otonom yang menstabilkan hubungan antara kota dan pedalamannya. Pada tahun 1888, Beirut dijadikan ibu kota provinsi yang terpisah. Terdiri dari seluruh pesisir Suriah, termasuk Palestina. Sementara itu, para misionaris Protestan dari Inggris Raya, Amerika Serikat dan Jerman serta misionaris Katolik Roma terutama dari Prancis menjadi aktif di Beirut, khususnya dalam pendidikan.

Pada tahun 1866 misionaris Protestan Amerika mendirikan Universitas Protestan Suriah, yang kemudian menjadi Universitas Amerika di Beirut. Pada tahun 1881 misionaris Yesuit Prancis mendirikan Universitas St. Joseph. Beirut pada Abad 20 Pada 1900, Beirut menjadi garda depan jurnalisme Arab. Sekelompok intelektual berusaha untuk menghidupkan kembali warisan budaya Arab dan akhirnya menjadi juru bicara pertama dari Arab barunasionalisme. Beirut diduduki oleh Sekutu pada akhir Perang Dunia I.

Pada 1920 kota ini dijadikan sebagai ibukota Negara Lebanon Raya, yang pada tahun 1926 menjadi Republik Lebanon. Percepatan pertumbuhan ekonomi Beirut di bawah mandat Perancis pada 1920–1943 menimbulkan pertumbuhan penduduk kota yang cepat dan meningkatnya ketegangan sosial. Ketegangan ini meningkat dengan masuknya ribuan pengungsi setelah perang 1948 di Palestina. Ketegangan politik dan sosial di Beirut dan tempat lain di Lebanon, ditambah dengan ketegangan Kristen-Muslim, meletus menjadi permusuhan terbuka pada tahun 1958. Ketegangan terjadi lebih hebat lagi pada 1975-1990.

Dalam kekerasan yang menandai tahun-tahun itu, Beirut menjadi kota yang terpecah-pecah, komunitas orang asing yang sebelumnya besar menjadi menipis. Tapi sejarah panjang Beirut menjadikan kota ini kaya akan kehidupan sosial, budaya sehingga memberikarakter kosmopolitan yang khas dan terkenal hingga kini. (sumber : tirto.id)

Komentar