oleh

Sebelum Corona, 6 Pandemik Ini Juga Terburuk Sepanjang Sejarah

JAKARTA, SUARADEWAN.com — WHO resmi menyatakan bahwa Covid-19 yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 sebagai pandemi global. Dalam kurun waktu kurang dari tiga bulan, penyakit ini telah menyebar ke 123 negara dengan lebih dari 126.000 orang terinfeksi.

Di awal kemunculan virus ini, beberapa ahli memprediksi bahwa Covid-19 bisa menjadi pandemi selanjutnya. Terlebih di dunia modern yang saling terhubung, virus disebut dapat menyebar dengan kecepatan seperti pesawat jet.

banner 1280x904

Ini jauh berbeda jika dibandingkan dengan beberapa puluh tahun lalu, yang kecepatan penyebaran virus masih dalam ukuran kapal uap.

“Dalam hal ini kita lebih berisiko,” kata pakar penyakit menular Amesh A. Adalja, MD, senior di Johns Hopkins Center for Health Security, dilansir Health, (28/1/2020).

Selain dunia yang saling terhubung, Adalja juga mengatakan kota atau wilayah padat penduduk bisa membuat virus lebih cepat menyebar. Wilayah padat penduduk bak lingkungan yang matang untuk menyebarkan penyakit pandemi dengan cepat.

Selain Covid-19, ada 6 pandemi terburuk sepanjang sejarah modern. Berikut rangkumannya:

1. Wabah Besar London (Great Plague of London)

Dilansir History.com, Wabah Besar London adalah wabah penyakit di Kerajaan Inggris yang membunuh sekitar 100.000 orang atau 20 persen penduduk London.

Wabah diidentifikasi sebagai penyakit pes, yakni infeksi oleh bakteri Yersinia pestis dan ditularkan melalui kutu.

Wabah pes secara teknis muncul pertama kali di tingkat pandemi pada abad ke-14 dengan The Black Death.

Namun kemudian muncul untuk kedua kalinya di London pada 1655 untuk Wabah Besar London. Wabah ini kemudian meruncing pada 1666.

Meski sudah ada sejak abad ke-14, anehnya wabah pes masih ada sampai sekarang. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS, daerah pedesaan di AS bagian barat, beberapa bagian Afrika, dan Asia terkadang masih mengalami wabah pes.

Manusia biasanya terjangkit wabah pes, termasuk wabah septikemia dan wabah pneumonik, karena kontak dengan kutu atau hewan yang terinfeksi.

Baca juga  Mantan Menkes: Bangkitlah Indonesia Sekarang Juga, Jangan Tunggu Vaksin

Gejala dari penyakit pes antara lain demam yang muncul tiba-tiba, sakit kepala, kedinginan, dan lemah lesu. Selain itu, salah satu atau lebih kelenjar getah bening bengkak dan nyeri saat ditekan.

Untungnya, antibiotik modern berhasil mengobati wabah ini.

2. Flu Spanyol

Menurut CDC, flu Spanyol adalah pandemi influenza yang menyebar di seluruh dunia antara 1918 sampai 1919. Flu Spanyol disebabkan oleh virus H1N1 yang berasal dari burung, meski tidak jelas dari mana asal virusnya.

CDC memperkirakan, sekitar 500 juta orang atau sepertiga dari populasi dunia terinfeksi virus ini pada masa itu. Wabah flu Spanyol menyebabkan sedikitnya 50 juta kematian di seluruh dunia.

Masih banyak hal yang belum dicatat terkait flu Spanyol. Namun CDC mencatat, flu Spanyol mengakibatkan kerusakan paru-paru yang parah dan cepat.

“Pada 1918, korban virus pandemi memiliki paru-paru berisi cairian, serta radang paru-paru parah dan radang jaringan paru-paru,” menurut CDC.

3. Flu Asia

Pandemi lain adalah Flu Asia. Penyakit ini bermula di Asia Timur pada 1957. Flu Asia disebabkan oleh virus jenis H2N2 yang pertama kali terdeteksi di Singapura pada Februari 1957.

Dari Singapura, virus menyebar ke Hong Kong pada April 1957, kemudian ke kota-kota di pesisir AS pada musim panas 1957. Diperkirakan 1,1 juta orang meninggal karena flu Asia di seluruh dunia.

4. Pandemi Flu 1968 atau Flu Hong Kong

Pandemi flu 1968 atau disebut flu Hong Kong berasal dari China pada Juli 1968. Flu Hong Kong disebabkan oleh virus influenza A (H3N2), yakni wabah flu pandemi ketiga yang terjadi pada abad ke-20.

Virus ini menewaskan sekitar satu juta orang di seluruh dunia.

Menurut Encyclopedia Britannnica, diyakini bahwa pandemi Flu Asia 1957 memicu munculnya pandemi 1968 melalui proses yang disebut antigenic shift, di mana ada perubahan kecil pada gen virus flu yang dapat menyebabkan perubahan di permukaan protein dari virus HA (hemagglutinin) dan NA (neuraminidase) yang memicu respons kekebalan tubuh.

Baca juga  Legislator Ini Usul Kompleks Parlemen di Senayan Diubah Jadi RS Darurat Tambahan

Pada akhirnya perubahan antigenik itulah yang menyebabkan orang bisa terkena flu lebih dari sekali.

Hal ini pula yang menurut CDC mengapa vaksin flu tahunan diperlukan. Tak lain untuk perlindungan terbaik terhadap virus dan sifatnya yang selalu berubah.

5. Pandemi Flu 2009

Pandemi flu 2009 di AS, awalnya dikenal sebagai flu babi, terjadi pada 2009 dengan virus influenza baru, H1N1, yang sebelumnya tidak diidentifikasi pada hewan atau manusia.

Virus ini sebenarnya pertama kali terdeteksi di AS, dan menyebar dengan cepat melintasi AS dan dunia.

Menurut CDC, antara 12 April 2009 dan 10 April 2010, ada 60,8 juta kasus, 274.304 rawat inap, dan 12.469 kematian di AS karena virus. CDC juga memperkirakan bahwa sekitar 575.400 orang meninggal di seluruh dunia.

Pandemi flu 2009 terutama menyerang anak-anak dan orang dewasa paruh baya (orang dewasa yang lebih tua memiliki kekebalan, kemungkinan dari paparan sebelumnya terhadap virus H1N1 yang serupa).

Pandemi secara resmi berakhir pada 10 Agustus 2010, tapi virus (H1N1) pdm09 terus beredar sebagai virus flu musiman, menyebabkan penyakit, rawat inap, dan kematian di seluruh dunia setiap tahun.

6. HIV / AIDS

Human immunodeficiency virus (HIV) adalah virus penyebab immunodeficiency syndrome (AIDS) yang pertama kali ditemukan pada awal 1980-an.

AIDS pertama kali terdeteksi di komunitas gay Amerika tetapi diduga berkembang dari virus simpanse dari Afrika pada 1920-an.

Sekarang, menurut data terbaru dari CDC dari 2006, itu berkembang menjadi proporsi pandemi, dengan sekitar 65 juta infeksi dan 25 juta kematian di seluruh dunia.

Namun, pengobatan baru telah memungkinkan lebih banyak orang untuk hidup dengan HIV. (kompas)

Komentar