oleh

Sayyidah Khadijah, Dicintai Allah, Malaikat, dan Rasulullah SAW

JAKARTA, SUARADEWAN.com — Tiada seorang wanita di dunia yang lebih indah budi pekertinya daripada Sayyidah Khadijah binti Khuwailid SA Istri tercinta baginda Rasulullah SAW dalam hal kebijaksanaan, kesucian, kesederhanaan, dan kemandirian.

Ketika banyak penduduk makkah menyembah berhala, ia tidak melakukannya. Saat kebanyakan masyarakat makkah membunuh anak perempuannya, Khadijah justru menunjukkan bahwa seorang perempuan mampu menjaga diri dan kehormatannya.

Khadijah binti Khuwailid merupakan sosok mukminah yang secara tulus menerima Allah sebagai Rabbnya, sehingga DIA pun ridha terhadapnya.

Pernikahan suci Rasulullah Saw dengan Sayyidah Khadijah SA menandai keluarga pertama dalam Islam. Keluarga ini merupakan pusat gerakan Islam di dunia yang memikul tugas-tugas dan tanggung jawab yang berat dalam kekufuran dan kemusyrikan serta menyebarkan panji-panji tauhid dan keadilan di seluruh dunia.

Rumah tangga ini merupakan dasar pertama bagi tauhid, yang menggabungkan pasukan-pasukan yang setia dan siap sedia untuk menembus ke seluruh alam, untuk membuka hati manusia untuk menuju jalan kebenaran.

Sayyidah Khadijah banyak mengorbankan harta untuk dakwah Rasululullah, ia seorang pribadi yang mandiri. Pengalaman hidupnya yang menjadi seorang pedagang sukses, membuatnya memiliki jiwa kepemimpinan dan kemandirian. Atas keperibadiannya ini Rasulullah Saw memujinya:

“Demi Allah, Allah tidak pernah menggantikan yang lebih baik darinya. Dia beriman saat orang-orang ingkar, dia membenarkanku saat orang-orang mendustakanku, dia membelaku dengan hartanya saat orang-orang menghalangiku,” (HR. Ahmad).

Sayyidah Khadijah dijuluki Ath-Thahirah, yakni wanita yang bersih dan suci, dan sungguh Allah telah mengganjarnya dengan sebuah rumah dari permata di surga. Tak ada hiruk pikuk dan rasa lelah disana. (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad).

Rasulullah mencintai khadijah dari lubuk hatinya yang terdalam dan sangat menghormatinya. Beliau menuturkan: “Sungguh, aku dikaruniai rasa cinta kepadanya.” Begitu juga dengan Khadijah, ia membalas cinta dengan cinta, kesetiaan dengan kesetiaan, serta pengorbanan dengan pengorbanan. Ia beriman pada suaminya, dakwah yang disampaikannya, dan juga pada tujuan-tujuannya yang suci, dan mencurahkan keseluruhan dirinya untuk itu.

Baca juga  Ketua DPR Puan Maharani Terima Penghargaan 'Inspiring Woman 2020'

Aisyah Ra menuturkan: “Saat menyebut ihwal Khadijah, Nabi tidak pernah jemu memuji dan memohonkan ampunan untuknya,” HR. Ath-Thabrani. Aisyah pun mengakui: “Meskipun aku tidak mengenal Khadijah, tetapi aku tidak pernah lebih cemburu kepada siapapun kecuali kepadanya.”

Sayyidah Khadijah adalah seorang istri yang langsung turut mengalami dan menyaksikan duka derita Rasulullah dalam menunaikan dan menyebarkan risalah Islam. Ia tidak hanya menghibur Rasul, tetapi juga melindungi keselamatannya. Khadijah adalah ‘tempat berlindung bagi Rasulullah’, darinya Rasulullah memperoleh keteduhan hati. Keceriaan wajahnya senantiasa menambah semangat dan kesabaran Rasul untuk terus berjuang.

Khadijah tampil mendampingi Rasulullah dengan penuh kasih sayang, cinta dan kelembutan. Wajahnya senantiasa membiaskan keceriaan, dan bibirnya meluncur kata-kata jujur. Setiap kegundahan Rasulullah dia dengarkan dengan penuh perhatian, lalu memotivasi dan menguatkan hati Nabi. Yang keluar dari mulutnya adalah tutur kata yang lemah lembut sebagai penyejuk dan penawar hati.

Kebesaran dan jasanya tidak hanya diakui Rasulullah, orang-orang muslim, tapi diakui dan mendapatkan penghormatan dan penghargaan langsung dari Allah Swt.

Nabi berkisah, “Jibril berkata padaku: ‘sampaikan salam dari Tuhannya kepada Khadijah!’, setelah mendengar salam tersebut, Khadijah menjawab, ‘Allah lah pemelihara kedamaian dan sumber segala damai. Salamku untuk Jibril.” HR. Bukhari-Muslim.

Ibnu Qayyim menuturkan: “Ucapan salam seperti itu merupakan keistimewaan yang tidak pernah dianugerahkan kepada seorang wanita pun, selain dia.”

Untuk itu, Khadijah berhak mendapatkan balasan yang layak atas segala kebaikannya. Nabi bersabda: “Jibril pernah mendatangiku lalu berkata: ‘Sampaikanlah berita gembira kepada Khadijah bahwa dia akan mendapatkan sebuah rumah di surga. Rumah itu terbuat dari mutiara berongga. Dia tidak akan mendapati hiruk pikuk atau merasakan keletihan di dalamnya’.”

Rumah tangga Rasulullah dan Khadijah adalah teladan. Di dalamnya hidup sepasang suami-istri yang hidup harmonis berlandaskan cinta dan keikhlasan. Suami-istri hidup saling pengertian dan saling menghargai. Khadijah adalah wanita pertama yang dinikahi Nabi, dan beliau tidak memadunya hingga ia wafat. Sungguh, kepergian Khadijah merupakan kesedihan tersendiri bagi Nabi.

Baca juga  Mengapa Muslim Uighur Alami Diskriminasi? Sejarahnya Berakar Sejak Dua Abad Lalu

Sayyidah Khadijah SA adalah istri yang setia mendampingi suaminya dalam segala keadaan, dengan pengkhidmatan terbaik bagi suaminya. Ia seorang pendidik terbaik yang telah berhasil membesarkan anak-anaknya. Darinyalah lahir keturunan Rasulullah SAW, melalui putrinya Sayyidah Fathimah Az-Zahrah sebagai penerus keturunan suci Rasulullah hingga saat ini.

Semua mazhab dan golongan dalam Islam tidak memungkiri keutamaan Sayyidah Khadijah, istri kinasih dari Nabi Muhammad SAW ini. Khadijah adalah pelopor kebangkitan perempuan Islam. Dia telah menaikkan harga diri dan kehormatan wanita yang di masa jahiliyah tidak ada harganya.

Akhirnya, Sayyidah Khadijah sangat diperhitungkan diantara perempuan salehah di dunia ini. Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik perempuan adalah Maryam binti Imran (sambil menunjuk ke arah langit), dan sebaik-baik perempuan adalah Khadijah binti Khuwailid (sambil menujuk ke arah bumi),” HR. Bukhari-Muslim dan Tirmidzi).

Rasulullah juga pernah bersabda: “Cukuplah bagi kamu mengikuti diantara perempuan-perempuan di dunia ini yakni Maryam binti Imran, Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, dan Aisyah binti Muzahim.”

Wallahu a’lam bish-showab.

Editor: Takbier Wata

Komentar