oleh

Saksi Ahli Paparkan Perbedaan Kata Penistaan dan Penodaan

Fhoto Sidang Ahok

JAKARTA,SUARADEWAN.com – Pengadilan menghadirkan saksi ahli pidana dalam sidang lanjutan kasus dugaan penodaan agama yang didakwakan kepada Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Sidang yang digelar di Auditorium Kementerian Pertanian, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (21/2) untuk mendengarkan keterangan terkait rujukan pasal yang paling tepat untuk kasus yang tengah menjerat mantan Bupati Belitung Timur tersebut.

banner 728x419

Muzakkir, saksi ahli pidana yang dihadirkan dalam sidang tersebut, dalam keterangannya menyebut bahwa pernyataan Ahok soal Al Maidah, yang dipakai lebih kepada penodaan bukan penistaan.

Sebab penistaan, menurutnya sama dengan mencemarkan. Dari perspektif Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) yang ada adalah penodaan, sehingga jika merujuk pada teks hukum, maka pasal yang paling tepat dipakai dalam kasus tersebut adalah  pasal 156a KUHP.

“156a sudah ada teks hukum. Bahasa Indonesia menggunakan kata penodaan. Tidak bisa diubah penistaan,” paparnya.

Dirinya pun menjelaskan makna penodaan. “Sesungguhnya itu memiliki kosa kata dua-duanya sama. Artinya yang satu dikatakan menista Alquran, Al-Maidah 51, yang kedua menodai Al-Maidah 51. Kata ternoda dipakai ada sedikit aspek obyek” paparnya.

“Dalam arti kata seperti menodai bendera, ada obyek yang ternoda. Kalau penistaan sama dengan penghinaan obyeknya, tapi lebih kepada merendahkan martabat, kehormatan atau nama baik obyek bersangkutan,” sambungnya.

Menurutnya, penodaan membuat obyek yang disasar yakni dalam pernyataan Ahok adalah agama, yang lebih spesifik Al-Maidah 51.

Dirinya menyebut bahwa letak penodaannya karena memakai kata dibodohi atau dibohongi, karena Al Qur’an merupakan kitab suci yang memilki derajat martabat yang tinggi di dalam agama islam.  (DD)

Komentar

Berita Lainnya