Rupiah Diperkirakan Konsisten Melemah Sampai Tahun 2020

Rupiah Diperkirakan Konsisten Melemah Sampai Tahun 2020

JAKARTA, SUARADEWAN.com -- Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) sampai saat ini masih terus berfluktuasi. Hanya saja, Rupiah begitu

Pacu Revolusi Wirausaha Kalangan Muda, Begini Strategi Ketua PB HMI
Bulog Komitmen Serap Gabah Dari Petani
Bom Surabaya Akan Naikkan Kesadaran Pengusaha Asuransikan Aset Bangunan

JAKARTA, SUARADEWAN.com — Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) sampai saat ini masih terus berfluktuasi. Hanya saja, Rupiah begitu konsisten terdepresiasi. Hingga Jumat (5/10), Rupiah melemah ke level Rp 15.182 per USD.

Ekonom Instute For Development of Economic and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menilai depresiasi itu akan terus berlanjut hingga 2020. Pasalnya, Indonesia masih merasakan tekanan dari perekonomian global.

“Secara umum sampai 2020 ekonomi Indonesia akan diterpa badai besar disaat itu rupiah akan konsisten melemah,” ujarnya, Sabtu (6/9).

Baca juga  Terendah Sejak Krisis 1998, Nilai Tukar Rupiah Nyaris Rp. 15.000 per USD

Indikasi lainnya, lanjut Bhima, perihal potensi penyesuaian terhadap harga bahan bakar minyak (BBM). Sebab, saat ini harga minyak dunia sudah mencapai USD 85 per barel. Jika tidak disesuaikan, rupiah akan semakin tak perkasa terhadap dolar.

“Belum lagi cepat atau lambat harga BBM akan disesuaikan. Ini pukulan kedua bagi daya beli masyarakat,” jelas dia.

Di sisi lain, pelemahan Rupiah saat ini berimbas pada harga barang kebutuhan pokok. Menurutnya, deflasi yang terjadi selama Agustus dan September 2018 hanya bersifat sementara.

Baca juga  Pemerintah Upayakan Bensin Satu Harga di Daerah Terpencil

Ia menambahkan, deflasi tersebut juga membuat para pedagang menahan keuntungannya yang membuat harga di pasaran turun. Namun, dirinya tidak yakin para pedagang bisa terus menerus mengurangi marjinnya.

“Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Nonmigas atau indeks harga grosir/agen naik sebesar 0,08persen terhadap bulan sebelumnya. Artinya pedagang dan produsen sedang memangkas marjinnya, karena kenaikan harga jual di tingkat konsumen bisa turunkan omset. Dilematis. Pertanyaan nya pedagang kuat potong marjin sampai kapan?,” tandasnya. (jwp)

COMMENTS

DISQUS: