Resolusi Dewan Perwakilan AS: Militer Myanmar Lakukan Genosida Terhadap Etnis Rohingya

Resolusi Dewan Perwakilan AS: Militer Myanmar Lakukan Genosida Terhadap Etnis Rohingya

JAKARTA, SUARADEWAN.com -- Dewan Perwakilan Amerika Serikat mendesak pemerintah Myanmarmembebaskan dua wartawan kantor berita Reuters, Wa Lone dan Kya

Kandidatnya Kalah Pemilu, Demonstran di Papua Nugini Bakar Pesawat
Gara-Gara Video Seks, Politisi Perempuan Irak Ini Gagal Caleg
Disertasi Wardani: Hubungan Wakil dan Konstituen, Direkayasa dan Transaksional

JAKARTA, SUARADEWAN.com — Dewan Perwakilan Amerika Serikat mendesak pemerintah Myanmarmembebaskan dua wartawan kantor berita Reuters, Wa Lone dan Kyaw Soe Oo yang divonis satu tahun lalu. Mereka juga menyatakan melalui resolusi kalau angkatan bersenjata/ Militer Myanmar melakukan genosida terhadap etnis Rohingya.

Wa Lone dan Soe Oo dihukum tujuh tahun penjara, karena memberitakan pembantaian yang dilakukan aparat setempat terhadap sepuluh pria Muslim Rohingya tahun lalu. Mereka ditangkap pada 12 Desember 2017. Pengacara kedua wartawan ini akan mengajukan banding yang dijadwalkan pada 24 Desember.

Mengutip Reuters, Jumat (14/12), ini merupakan pertama kalinya pemerintah AS mengungkapkan pendapatnya secara terbuka terkait kasus Rohingya.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah Dewan Perwakilan melakukan pemungutan suara untuk mengesahkan resolusi, dengan hasil 394-1 untuk mendesak pembebasan Wa Lone dan Soe Oo dan mengakui genosida atas etnis Rohingya.

Baca juga  Pidato di Sidang Inter-Parliamentary Union, Fadli Zon Himbau Anggota Parlemen Ikut Berantas Korupsi

Hanya satu anggota dewan yang menolak resolusi tersebut, yakni Andy Biggs dari Partai Republik yang berasal dari Arizona.

Ketika diminta mengomentari pemungutan suara Biggs, Ketua Dewan Perwakilan Daniel Stefanski tidak secara langsung menjawab pertanyaan tersebut.

“Penindasan berkelanjutan Rohingya di Myanmar adalah tidak manusiawi,” tuturnya.

Ia juga mendesak Presiden Donald Trump untuk menggunakan tekanan diplomatik sekuat mungkin untuk mengakhiri pembantaian di Myanmar dan menuntut pembebasan dua jurnalis.

Dewan Perwakilan AS juga menyatakan pembantaian yang dilakukan oleh pasukan Myanmar terhadap Muslim Rohingya merupakan genosida.

Baca juga  Turki Akan Ganti Seluruh Biaya Jika Bangladesh Buka Pintu Menampung Rohingya

“Amerika Serikat memiliki kewajiban moral untuk menyebut kejahatan ini sebagai genosida. Kegagalan untuk menyebutkan fakta ini membuat para pelaku terhindar dari tanggung jawab mereka ke pengadilan. Dengan resolusi ini, Dewan Perwakilan telah memenuhi tugasnya,” kata Ketua Komite Urusan Luar Negeri Dewan Perwakilan, Ed Royce dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari CNN.

Dalam laporan pada 27 Agustus, para penyelidik AS mengatakan militer Myanmar melakukan pembunuhan massal dan pemerkosaan terhadap sejumlah etnis Rohingya.

PBB telah menuding para jenderal angkatan bersenjata Myanmar membiarkan aksi genosida sejak September lalu. Sayang Kedutaan Myanmar di Washington masih belum menanggapi pernyataan tersebut. Begitu pula dengan Gedung Putih. (fey/ayp)

COMMENTS

DISQUS: 0