oleh

Resmi, Hukuman Cambuk Ditiadakan di Kerajaan Arab Saudi

RIYADH, SUARADEWAN.com – Kerajaan Arab Saudi pimpinan Raja Salman mengakhiri cambuk sebagai bentuk hukuman, menurut sebuah dokumen pengadilan tinggi kerajaan yang dilihat Reuters, Jumat (24/4).

Keputusan Komisi Umum untuk Mahkamah Agung yang diambil bulan ini ini akan membuat hukuman ini digantikan dengan hukuman penjara atau denda, atau campuran keduanya.

banner 1280x904

“Keputusan itu merupakan perpanjangan dari reformasi hak asasi manusia yang diterapkan di bawah arahan Raja Salman dan pengawasan langsung Pangeran Mahkota Mohammed Bin Salman,” kata dokumen itu.

Ilustrasi Hukuman Cambuk

Hukum cambuk diterapkan untuk menghukum berbagai kejahatan di Arab Saudi. Tanpa sistem hukum terkodifikasi yang selaras dengan teks hukum syariah atau hukum Islam, para hakim memiliki keleluasaan untuk menafsirkan teks-teks agama dan memunculkan penafsiran sendiri.

Baca juga  SBY dan Prabowo Hadir pada Penyambutan Raja Salman di DPR

Kelompok-kelompok hak asasi manusia mendokumentasikan kasus-kasus sebelumnya di mana hakim Saudi telah menghukum cambuk para penjahat karena berbagai pelanggaran, termasuk pelecehan publik.

“Reformasi ini adalah langkah maju yang penting dalam agenda hak asasi manusia Arab Saudi, dan hanya salah satu dari banyak reformasi yang baru-baru ini dilakukan di Kerajaan ini,” kata presiden Komisi Hak Asasi Manusia (HRC) Awwad Alawwad kepada Reuters.

Baca juga  Tolak Radikalisme, Raja Salman Usir Rizieq Shihab dari Arab Saudi

Bentuk-bentuk lain dari hukuman fisik, seperti potong tangan untuk pencurian atau pemenggalan kepala untuk pembunuhan dan pelanggaran terorisme, belum dicabut.

“Ini perubahan yang disambut baik tetapi seharusnya sudah dilakukan bertahun-tahun lalu,” kata Adam Coogle, Wakil Direktur Divisi Timur Tengah dan Afrika Utara pada Human Rights Watch. “Tidak ada yang menghalangi Arab Saudi mereformasi sistem peradilannya yang tidak adil.”

(Laporan Marwa Rashad dan Raya Jalabi; Ditulis oleh Raya Jalabi; Disunting oleh Chizu Nomiyama dan Alex Richardson) (reuters)

Komentar