oleh

Ramadhan, Pandemi, dan Gerak Yang Tak Boleh Berhenti

Oleh: Takbier Wata*

Maka ketika engkau telah selesai mengerjakan suatu urusan, maka kerjakanlah urusan berikutnya” (QS. Al-Insyirah : 7).

Manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang bergerak. Tak ada yang menetap pada dirinya kecuali hasrat untuk terus menuju, pada sesuatu yang dicintainya, yang membahagiakannya, yang membantu kesempurnaannya setinggi-tingginya.

Dengan bergerak, sebagaimana gerak adalah bentuk eksistensi. Maka gerak itu akan berhenti suatu saat di suatu tempat, ketika tak menemukan lagi alasan atau sebab gerak, maka pada saat itu eksistensinya pun menghilang, tidak bergerak maka mati.

Gerak itu arah menuju sehingga harus bepergian kepada yang dituju, yaitu tujuan. Tujuan itu jauh kedepan, sebagaimana puasa di bulan Ramadhan ditujukan untuk mencapai takwa. Lantas setelah takwa, apalagi? Bagaimana jika tidak menjadi takwa?

Bepergianlah, sabda Baginda Nabi Saw, kau akan disehatkan. Berjalanlah di muka bumi, firman Tuhan dalam Qs. An-Naml (27):69, dan lihatlah bagaimana akibat (yang ditimpakan) pada mereka yang berbuat dosa. Bepergian membawa kita pada cerminan apa yang dapat dilakukan manusia. Bagaimana batas-batas sempit itu hilang. Bagaimana rintangan itu ditaklukkan. Bagaimana tekad yang kuat mengalahkan beragam alasan. Bagaimana manusia dapat berada pada setinggi-tingginya derajat kemuliaan.

Ramadhan kali ini bagi sebagian orang berbeda dengan sebelumnya, Ramadhan yang tak terlalu ‘semarak’ karena pandemi global Covid-19, semua orang di semua negara dibuat bingung, panik, tak berdaya bahkan bagi negara superpower yang memiliki orang-orang hebat sekalipun. Semua itu mudah bagi Allah, sebagaimana dulu DIA hanya mengutus seekor serangga untuk menghukum seorang Namrudz Raja yang begitu perkasa, kuat, zalim, sombong dan bahkan mengaku-aku sebagai Tuhan itu.

Bagaimana Fir’aun yang perkasa tewas setelah ditenggelamkan dan digulung gelombang laut merah. Bagaimana Jalut/Gholiath tubuhnya tinggi besar serupa raksasa, roboh bukan oleh pedang, panah apalagi tombak, tapi oleh batu ketapel kepunyaan Daud As, remaja ingusan yang dipandang sebelah mata olehnya. Bagaimana Pasukan Abrahah yang pongah ingin hancurkan bangunan Ka’bah mati bergelimpangan setelah dihujani batu api oleh burung ababil.

Ramadhan di tengah pandemi tahun ini akan segera berlalu, dan semoga kita semua menjadi takwa. Jikapun belum menjadi takwa, bukan berarti tak bermakna sama sekali, sehingga gerak menuju takwa itu harus tetap terus diikhtiarkan meski di luar ramadhan. Sebagaimana sejatinya sebulan ini adalah kawah candradimuka untuk bulan-bulan berikutnya. Tetaplah bergerak, bepergianlah kata Nabi, sebab bepergian itu menyehatkan jiwa. Ia makanan ruh yang sering terlupa. Dan semoga dipertemukan lagi dengan Ramadhan tahun depan. Insha Allah.

Setelah Ramadhan berlalu, dan situasi pandemic ini masih tetap berlangsung yang kelak juga dia akan berlalu, itu berarti bahwa kita harus membantu jiwa sedikit demi sedikit lepas dari keterikatan dengan terus bepergian hingga bila datang safar keabadian nanti.

Baca juga  BPP KKSS Serahkan Bantuan Paket Sembako

Sebab kita tidak tahu bagaimana akan akhir hidup kita, kita hanya berdoa agar Yang Maha Suci memberikan pada kita kesucian. Kita ingin menjadikan kematian sebagai sesuatu yang dirindukan, yang nyaman dibicarakan, yang baik dipersiapkan. Untuk kembali ke kampung asal, untuk menempuh sebuah perjalanan pulang tanpa kepergian awal.

Sebagaimana sering kita dikisahkan bahwa kehadiran dunia sendirinya adalah pelajaran mencintai perjalanan. Baginda Nabi Saw pernah menyampaikan bahwa harta itu untuk diberikan, bukan disimpan. Ilmu itu diamalkan, bukan diperdebatkan. Menghamba itu untuk kerendahan diri, bukan keagungan. Dan dunia itu untuk dipelajari bukan untuk dimakmurkan (ad-dunya lil-ibarah la lil-imarah).

Kata ‘ibarah artinya mengambil hikmah dan pelajaran. ‘Imarah artinya membangun istana yang gemerlapan. Dunia itu ibarah bukan imarah. Pada yang sama, masih dalam satu derivasi, abarah artinya berlalu, lewat, bepergian.

Dalam sebuah hadits disebutkan Jadilah di dunia ini seperti orang asing atau orang yang melintas jalan. Ia yang selalu merasa tidak di kampung halaman, ia yang punya kerinduan untuk selalu pulang. Tidak tertarik oleh segala sesuatu yang dilihatnya sepanjang jalan, tak ada yang mengikatnya. Tak ada yang menawannya. Tak ada yang mengalihkan perhatiannya.

Maksudnya satu, tujuan yang hendak dicapainya. Lain dari itu tidak. Itulah makna hidup di dunia. Tak kerasan, tak betah, serba keterasingan dan selalu berkobar hasrat untuk pulang ke ‘rumah’. Sehingga godaan apa pun sepanjang perjalanan dapat dikesampingkan.

Dalam melakukan sebuah perjalanan, sudah tentu kita membutuhkan suatu bekal. Bekal terbaik untuk perjalanan kembali ke kampung asal, untuk menempuh sebuah perjalanan pulang tanpa kepergian awal.

Seperti yang sering diceramahkan ada dua bekal teramat berharga. Pertama, bekal amal. Ia akan membentuk pakaian kita di akhirat, ia akan menjadi tubuh untuk ruh meminjamnya. Dan bekal kedua adalah bekal persahabatan, bekal persaudaraan, bekal bergabung dengan orang-orang saleh sepanjang zaman. Dari bekal kedua ini kita beroleh bekal semisal doa dan penopang lainnya. Inilah bekal kecintaan.

Perjalanan kita diantarai oleh tanah. Darinya kita diciptakan, kepadanya kita dikembalikan, dan daripadanya kita akan dibangkitkan kembali (Innaa lillaahi wa inna ‘ilayhi raaji’un). Karena itulah ketika sujud, kita meratakan dahi kita ke arah dan diatas tanah.

Imam Aly Kwa berkata “Sujudmu adalah perlambang asalmu. Sujud pertama awal penciptaanmu, dari tanah. Duduk diantara dua sujud adalah kehidupan duniamu, sesaat saja. Sujud kedua adalah kembalimu, ke tanah lagi. Andai manusia tahu beratnya beban yang akan ia pikul di hari akhirat, niscaya ia takkan hendak beranjak dari sujudnya itu.”

Baca juga  Sejumlah Mahasiswa Gelar Aksi Solidaritas Bela Muslim Patani - Thailand di Bandung

Rumi pun bergumam, “kemana aku harus berlari, kalau perjalanan itu di dalam diri?” Mengapa perjalanan itu di dalam diri? Karena keakuanlah yang akan menghalangi untuk berbagi. Jalan itu terlalu panjang untuk ditempuh seorang diri. Hanya dengan kebersamaan, ringan sama dijinjing, berat sama dibagi.

Melalui perjalanan juga dikenali sahabat sejati, pendamping yang paling layak mengiringi. Dalam sebuah riwayat dikatakan ujilah sahabatmu dalam tiga, pada menjaga rahasiamu, pada saat ia marah menghadapi kesalahanmu, dan pada saat ia menemani perjalananmu.

Dalam perjalanan tak ada yang lebih awal atau datang belakangan. Yang ada adalah lebih cepat dan yang lambat dalam bergerak, tak ada senioritas. Hikmah mesti dicari dari siapa dan kapan saja, karena kita tak menempuh perjalanan ini sendirian. Setiap orang yang kita jumpai, adalah benang-benang terhubung yang akan mengikat seluruh keberadaan kita.

Mereka dihadirkan Tuhan bukan tanpa makna. Mereka dilibatkan Tuhan dalam hidup kita tidak sia-sia. Kau punya orang tak kau sukai, ia menunjukkan padamu apa yang kau sukai. Kau tahu orang yang membencimu, ia mengajarkan padamu apa yang kau cintai.

Tantangan itu ada dalam perjalanan. Karena Dia tahu ada potensi dalam diri kita untuk menyelesaikannya. Karena Dia tahu kita memerlukannya. Laa yukalifullaahu nafsan illa wus’aha.

Itulah maksud dari seluruh perjalanan. Agar kita diingatkan pada sejatinya tujuan. Agar kita terbiasa tanpa keterikatan, agar kita senantiasa diliputi kerinduan. Hingga tiba saat yang dinanti. Tanpa ketakutan, tanpa kecemasan. Tiada beda akankah kematian menjemput, atau kita yang menyambut.

Al-qur’an empat ayat terakhir surah al-Fajr mengisahkan jemputan itu. Bagi hamba-hamba Allah yang berjiwa tenang, yang kembali tanpa keraguan. Sebelum dipersilakan ke surgaNya, ia bergabung dalam barisan hambaNya.

Lalu siapa yang akan menjemput kita? Siapa yang akan hadir saat kita menutup mata? Jawabannya sangat bergantung pada apa yang kita cinta.

Maka kemudian kita berguru apakah syarat tulus mencinta. Syarat yang pertama dan utama, tanyalah apa yang di lubuk hati kini bertahta. Bagaimana kita tahu? Dengan mencari apa yang membuat kita berduka.

Marilah kita tanya, apa yang membuat kita sakit hati. Itulah yang kita simpan di dalam jiwa. Itulah tanda cinta sesungguhnya. Ketika sanubari berbicara, tulus, bening, tanpa prasangka. Mengingatkan kita kesejatian makna. Selamat Jalan Ramadhan semoga dapat berjumpa lagi tahun depan. Insha Allah.

Wallahu a’lam bish-showab.

*Penulis adalah: Penulis Buku: Ngeteh di Ruang Tamu NDP

Komentar