oleh

Progres Polri Lamban Ungkap Kasus Novel, Gerindra Minta Tim Pencari Fakta Segera Dibentuk

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Ferry Juliantono mendesak Presiden Jokowi untuk segera membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF). Tim ini dibutuhkan demi mengungkap kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan.

Menurut Ferry, kasus kriminal tersebut terjadi secara terencana dan profesional. Sehingga pembentukan TGPF dianggap sebagai solusi utamanya di mana peran presiden sangat diharapkan.

“Kita tidak tahu siapa pihak itu (penyerang Novel). Tapi yang jelas, mereka kuat. Maka kita butuh presiden segera turut campur karena yang bisa mengalahkan kelompok itu ya cuma presiden,” ujar Ferry dalam diskusi bertajuk Cerita Novel, KPK, dan Pansus DPR di Cikini, Jakarta, Sabtu (5/8/2017).

Baca juga  Presiden Jokowi Titip PLBN Badau ke Warga

Dalam diskusi yang juga dihadiri oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak, juga Koordinator ICW Adnan Topan dan Wakil Ketua Pansus KPK Masinton Pasaribu, Ferry menilai bahwa Polri dalam pengungkapan kasus ini terkesan lamban.

Untuk itu, anjur Ferry, Kapolri Jenderal Tito Karnavian perlu untuk membenahi internal institusi Polri dan mengembalikan marwahnya agar bebas dari segala bentuk intervensi.

“Saya mengapresiasi keputusan Pak Tito yang mengganti jajarannya dan akhirnya bisa menghasilkan perkembangan adanya sketsa wajah. Tapi tidak ada yang lebih signifikan dari itu. Pak Tito harus bisa memposisikan diri sebagai Kapolri,” ujarnya kembali.

Baca juga  Presiden Sindir Kepala Daerah yang Hobi Tahan APBD di Bank

Karenanya, pembentukan TGPF, mesti hanya bisa memberi rekomendasi, tetapi tim ini dianggap mampu mengungkap siapa pelaku lapangan serta siapa dalang utama di balik kasus penyerangan yang menimpa Novel Baswedan.

Hal tersebut juga diungkap oleh Dahnil Anzar Simanjuntak. Ia justru pesimis melihat kinerja Polri dalam pengungkapan kasus Novel ini.

“Novel kecewa karena ia juga mantan penyidik. Ia paham betul bahwa sebetulnya pelaku bisa cepat tertangkap. Tapi seminggu dua minggu ditunggu, mala tidak ada perkembangan,” pungkasnya.