Profil BJ Habibie “Bapak Teknologi dan Demokrasi Indonesia”"Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup." --BJ Habibie

Profil BJ Habibie “Bapak Teknologi dan Demokrasi Indonesia”

Kondisi Kesehatan Mantan Presiden BJ Habibie Membaik
Usai Bebas, Anwar Ibrahim Mengunjungi Indonesia dan Bertemu BJ Habibie
HMPI: Habibie Adalah Manusia Indonesia Dalam Karya Besar Saintifik

JAKARTA, SUARADEWAN.com — Prof. DR (HC). Ing. Dr. Sc. Mult. Bacharuddin Jusuf Habibie atau lebih dikenal dengan BJ Habibie tutup usia di usia 83 tahun. Presiden RI ke-3 yang dikenal sebagai ‘bapak teknologi dan Demokrasi Indonesia’ itu meninggal dunia setelah dirawat sejak beberapa hari lalu.

Dirangkum dari berbagai sumber, Rabu (11/9/2019), Habibie lahir di Parepare, Sulsel, pada 27 Juni 1936. Ia merupakan Presiden RI ke-3 menggantikan Soeharto, yang mengundurkan diri pada 1998. Sebelumnya, Habibie menjabat wakil presiden menggantikan Try Sutrisno.

BJ Habibie kemudian digantikan oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang terpilih sebagai presiden pada 20 Oktober 1999 oleh MPR hasil Pemilu 1999.

Dengan menjabat selama 2 bulan dan 7 hari sebagai wakil presiden dan juga selama 1 tahun dan 5 bulan sebagai presiden, BJ Habibie merupakan Wakil Presiden dan juga Presiden Indonesia dengan masa jabatan terpendek.

Ketika seseorang menghinamu, itu adalah sebuah pujian bahwa selama ini mereka menghabiskan banyak waktu untuk memikirkanmu, bahkan ketika kamu tidak memikirkan mereka.

-Habibie

Habibie, yang merupakan anak ke-4 dari pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan RA Tuti Marini Puspowardojo, menuntut ilmu di SMA Kristen Dago. Ia lalu belajar tentang keilmuan teknis mesin di Fakultas Teknik Universitas Teknologi Bandung pada 1954.

Pada 1955-1965, Habibie melanjutkan studi teknik penerbangan, spesialisasi konstruksi pesawat terbang di RWTH Aachen, Jerman Barat, hingga menerima gelar doktoringenieur dengan predikat summa cum laude.

Karir BJ Habibie Muda

Karir Habibie di bidang teknologi sangat moncer. Ia pernah bekerja di sebuah perusahaan penerbangan yang berpusat di Hamburg, Jerman, Messerschmitt-Bölkow-Blohm (MBB). Atas prestasinya, Habibie pun dilirik oleh Presiden Soeharto. Ia awalnya menjabat Menteri Negara Riset dan Teknologi pada 1978 hingga 1998.

Sebelum memasuki usia 40 tahun, karir Habibie sudah sangat cemerlang, terutama dalam desain dan konstruksi pesawat terbang. Ia menjadi “primadona” di negeri Jerman dan ia pun mendapat kedudukan terhormat, baik secara materi maupun intelektualitas oleh orang Jerman.

Seorang pria tidak akan menjadi pria besar tanpa adanya wanita hebat di sisinya yang selalu memberi dukungan dan harapan, dalam setiap langkah dan keputusan yang diambil. –Habibie

Selama bekerja di MBB Jerman, Habibie menyumbang beragam hasil penelitian dan sejumlah teori untuk ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang Thermodinamika, Konstruksi dan Aerodinamika. Beberapa rumusan teori yang ditemukan olehnya dikenal dalam dunia dirgantara seperti “Habibie Factor“, “Habibie Theorem” dan “Habibie Method“.

Baca juga  Membendung Paham Radikal, Tito Karnavian: Dibutuhkan Paham Tandingan

Pada tahun 1968, Habibie mengundang sejumlah insinyur untuk bekerja di industri pesawat terbang Jerman. Ada sekitar 40 insinyur Indonesia yang akhirnya dapat bekerja di MBB atas rekomendasi darinya.

Hal ini dilakukan untuk mempersiapkan skill dan pengalaman insinyur Indonesia untuk suatu saat dapat kembali ke tanah air dan membuat produk industri dirgantara, maritim dan darat secara mandiri.

Dan ketika kala itu Presiden Soeharto mengutus Ibnu Sutowo ke Jerman untuk menemui serta membujuk Habibie pulang ke Indonesia, ia langsung bersedia walaupun melepaskan jabatan dan posisi tingginya di Jerman.

Hal ini dilakukan Habibie demi memberi sumbangsih ilmu dan teknologi pada bangsa yang sangat ia cintai. Pada tahun 1974 genap di usia 38 tahun, Habibie pulang ke tanah air.

Ia pun diangkat menjadi penasihat pemerintah (langsung di bawah Presiden) di bidang teknologi pesawat terbang dan teknologi tinggi sampai tahun 1978. Meskipun demikian dari tahun 1974-1978, Habibie masih sering perjalanan ke Jerman sebab masih menjabat sebagai Vice Presiden dan Direktur Teknologi di MBB.

Habibie mulai benar-benar fokus setelah ia melepaskan jabatan tingginya di Perusahaan Pesawat Jerman MBB pada tahun 1978. Dan sejak saat itu, dari tahun 1978 hingga 1997, ia diangkat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) sekaligus merangkap menjadi Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Tidak hanya itu, ia juga diangkat sebagai Ketua Dewan Riset Nasional dan berbagai jabatan lainnya.

Gebrakan Habibie saat menjabat Menristek diawalinya dengan keinginannya untuk mengimplementasikan “Visi Indonesia.” Menurut Habibie, lompatan-lompatan Indonesia dalam “Visi Indonesia” bertumpu pada riset dan teknologi, khususnya pula dalam industri strategis yang dikelola oleh PT. IPTN, PINDAD, dan PT. PAL. Targetnya, Indonesia sebagai negara agraris dapat melompat langsung menjadi negara Industri dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Bukan hanya kepada Indonesia, kiprah Habibie cukup berpengaruh di dunia. Ia dikenal mahir dalam membuat pesawat. Beberapa pesawat yang berhasil dibuat Habibie adalah R80 dan N250. Habibie diketahui juga ikut serta mendesain pesawat angkut militer C-130 Hercules. Ia pun juga punya andil dalam terciptanya pesawat Do 31, jet transportasi eksperimental VTOL Jerman Barat yang dibangun oleh Dornier.

Baca juga  Penangkapan Jurnalis yang Meliput Kegiatan Pemberontak di Myanmar Dinilai Penghinaan atas Demokrasi

Puncak Karir

Puncak karir Habibie adalah saat ia diangkat sebagai presiden pada 1998. Ia diangkat menjadi presiden pada 21 Mei 1998, setelah menjabat Wapres sejak 14 Maret di tahun yang sama.

Tak sampai 2 tahun, Habibie pun digantikan Abdurrrahman Wahid pada 20 Oktober 1999. Habibie juga merupakan Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang pertama. Ia terpilih secara aklamasi pada 7 Desember 1990.

Habibie mewarisi kondisi penuh hiruk pikuk setelah pengunduran diri Soeharto akibat tata kelola yang salah pada zaman orde baru, sehingga menimbulkan berbagai kerusuhan dan disintegerasi sosial hampir di seluruh wilayah Indonesia. Kemudian setelah memperoleh kekuasaan Presiden Habibie segera membentuk sebuah kabinet.

Salah satu tugas pentingnya yakni kembali mendapatkan sokongan dari Dana Moneter Internasional dan komunitas negara-negara donor untuk program pemulihan sektor ekonomi. Ia juga membebaskan para tahanan politik dan meredakan kontrol pada kebebasan berpendapat dan kegiatan organisasi.

Pada masa pemerintahannya yang cukup singkat, ia berhasil memberikan pondasi yang kokoh bagi Indonesia, pada eranya lahirlah UU Anti Monopoli atau UU Persaingan Sehat, perubahan UU Partai Politik dan yang paling penting yakni UU otonomi daerah.

Melalui penerapan UU otonomi daerah inilah gejolak disintergrasi sosial yang diwariskan era Orde Baru berhasil di redam dan pada akhirnya dapat dituntaskan di masa kepemimpinan presiden Susilo Bambang Yudhoyono, tanpa adanya UU otonomi daerah dapat dipastikan Indonesia akan mengalami nasib sama seperti Uni Soviet dan Yugoslavia.

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

Setelah ia melepaskan tampuk kekuasaan sebagai presiden, BJ Habibie lebih banyak tinggal di Jerman daripada di Indonesia. Namun, ketika masa kepresidenan Susilo Bambang Yudhoyono, ia kembali aktif sebagai penasehat presiden demi mengawal proses demokrasi di Indonesia lewat organisasi yang didirikannya Habibie Center.

Selamat jalan Pak Habibie, kami mencintaimu tetapi Allah Swt lebih mencintaimu. Semoga Allah Swt meletakkanmu disisiNya Yang Mulia.