oleh

Politisi Keras Mengecam Rohingya, Tapi Diam Soal Yaman dan Ahmadiyah Yang Jadi Pengungsi Di Negeri Sendiri

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Aksi kecaman terhadap etnis muslim Rohingya di Myanmar begitu deras muncul dari berbagai elemen dari seluruh dunia meminta penghentian persekusi yang telah berlangsung bertahun-tahun oleh pemerintah dan kelompok nasionalis Budha.

Politisi dan Tokoh di tanah air termasuk keras mengecam aksi kejahatan kemanusiaan tersebut dimana etnis minoritas muslim Rohingya diperlakukan seperti imigran gelap dan kewarganegaraannya ditolak. Mereka bersuara lantang dan mengutuk aksi kejahatan kemanusiaan tersebut.

banner 1280x904

Salut atas rasa solidaritas kemanusiaan yang ditunjukkan oleh para politisi dan tokoh di tanah air lantang mengecam aksi kekejaman kepada etnis rohingya tapi kita dibuat prihatin dengan sikap diam mereka atas aksi kejahatan kemanusiaan yang terjadi pada kelompok syiah di Yaman, Ahmadiyah yang hampir 12 tahun terlantar di negeri sendiri tanpa solusi.

Zuhairi Misrawi, Intelektual Muda Nahdlatul Ulama dan seorang analis pemikiran dan Politik Timur-Tengah The Middle East Institute adalah salah satu yang mengkritik sikap inkonsitensi politisi dan tokoh di tanah air tersebut.

Zuhairi mengkritik aksi diam para politisi tersebut pada krisis Yaman yang menyebabkan 10 ribu warga tewas, 40.000 luka-luka akibat bombardir rudal Saudi. “Apa karena korbannya syi’ah?,” tanya Zuhairi

Sebagaimana dilaporkan Stasiun televisi Al-Jazeera, setidaknya menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ada 10.000 warga Yaman tewas dan 40.000 warga terluka. Belum lagi ancaman penyakit kolera yang sudah akut yang bisa berakibat hilangnya nyawa dalam jumlah yang lebih besar lagi. Ribuan warga terancam tewas akibat konflik yang berkepanjangan.

Dalam 5 tahun terakhir, dunia hanya fokus pada Irak dan Suriah yang dilanda krisis politik dan perang melawan ISIS (Islamic State of Iraq and Syria). Padahal konflik yang melanda Yaman tidak kalah pelik dan tragisnya, termasuk korban yang diakibatkan oleh perang yang berkepanjangan itu.

Baca juga: Komnas HAM: Kasus Ahmadiyah adalah Pelanggaran HAM

Di tanah air, nasib 349 jiwa pengungsi Syiah Sampang yang selama lima tahun terakhir tinggal di penampungan dengan kondisi memprihatinkan dan tempat penampungan yang tidak layak, belum bisa kembali lagi ke kampung halaman, bekerja lagi sebagai petani dan menjalani kehidupan secara normal seperti hari-hari sebelumnya.

Yang juga tak kalah menyedihkan adalah nasib warga Ahmadiyah di NTB yang oleh Zuhairi ketika mengkritik Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Zainul Majdi (Tuan Guru Bajang) untuk mengurusi warga Ahmadiyah di wilayahnya yang terlantar sebelum berbicara masalah Rohingnya, mereka terlantar hampir 12 tahun di NTB yang menurutnya Kisah Ahmadiyah mirip dengan Rohingya mereka juga dikejar-kejar dan ada yang dibunuh.

“Mereka sekarang mengungsi di negeri sendiri tanpa solusi,” tulis Zuhairi di akun twitternya.

Sikap inkonsisten para politisi dan tokoh di tanah air atas kejahatan kemanusiaan seharusnya tidak perlu terjadi jika memang benar aksi protes yang mereka lakukan atas dasar kemanusiaan dengan tidak menyandingkangkan dengan sentimen-sentimen yang lain.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Ketua MPR RI Zulkifli Hasan, bahwa membela Rohingya adalah menyelamatkan kemanusiaan.

“Indonesia mengutuk kekerasan yang dilakukan terhadap Etnis Rohingya. Diskriminasi ini harus segera diakhiri. Bung Karno tegaskan Pancasila menolak penindasan manusia terhadap manusia. Apapun agamanya, membela Rohingya adalah menyelamatkan kemanusiaan, Kita dukung langkah-langkah diplomasi yang akan diambil Kementerian Luar Negeri untuk menjadi fasilitator perdamaian di Rohingya,” kata Zulkifli Hasan di Jakarta, Selasa (29/8/2017).

Jika atas dasar kemanusiaan, kenapa para politisi dan tokoh di tanah air diam dengan kejahatan kemanusiaan di Yaman, pengungsi syiah sampang dan jamaah ahmadiyah di Indonesia, dan sejumlah pelanggaran hak asasi manusia di tanah air. (ALH)

Komentar