Politik Uang di Pilkada DKI, dari Kopi sampai Kirim Sapi

Politik Uang di Pilkada DKI, dari Kopi sampai Kirim Sapi

JAKARTA, SUARADEWAN.com - Modus Politik Uang di Pilkada DKI begitu banyak variannya, mulai dari modus pengiriman kopi sampai pengiriman sapi. Badan Pe

Bawaslu DKI : Ada Indikasi Mobilisasi Massa Saat Hari H Pemungutan Suara
Kasus Ahok Dinilai Ikut Pengaruhi Jumlah Partisipasi Pemilih
Inilah Modus Curang Pilkada, Berikut Ancaman Pidananya

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Modus Politik Uang di Pilkada DKI begitu banyak variannya, mulai dari modus pengiriman kopi sampai pengiriman sapi. Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) DKI Jakarta menerima banyak laporan soal adanya dugaan politik uang jelang pilkada putaran kedua ini.

Beragam modus dilakukan untuk menyamarkan politik uang atau money politics, mulai dari pengaturan agenda dan bentuk politik uang itu sendiri. Yang paling menjadi sorotan dan Nampak nyata adalah pembagian sembako.

“Modus sembako yang akan didistribusikan ke warga DKI Jakarta. Di Menteng pembagian kopi. Di Klender Duren Sawit viral di medsos bagi-bagi sembako. Di Jakut, ada di Warakas sampai di Rusun Marunda,” kata Mimah di kantornya, Sunter, Jakarta Utara, Selasa 18 April 2017.

Bau menyengat dugaan politik uang juga diduga terjadi di Pulau Seribu. Bawaslu DKI mengakui mendapatkan laporan soal adanya pengiriman sapi ke beberapa pulau yang ada di Kepulauan Seribu. Dugaan bagi-bagi sapi termasuk modus yang baru ditemukan.

“Di Pulau Tidung ada 150 paket sembako, 57 paket di Pulau Kelapa terus ada temuan 23 ekor sapi. Itu sapi sudah terdistribusi di 4 pulau,” ujar Mimah.

Diakui oleh Bawaslu, laporan dugaan politik uang pihak Bawaslu DKI sudah melakukan pemanggilan terhadap terlapor untuk dimintai keterangan dan klarifikasi. Namun, sampai sejauh ini menurut Bawaslu belum ada yang mengaku bahwa sembako dan sapi itu berasal dari pihaknya.

“Penindakan dilanjutkan dengan memanggil semua pihak. Memeriksa saksi-saksi sesuai mekanisme yang ada. Tidak ada yang mengakui ini barang sembako punya siapa,”

Mimah menegaskan, kedua pasangan yang bertarung dalam pilkada putaran kedua ini diduga terlibat. Baik itu pasangan Ahok-Djarot atau Anies-Sandi diduga telah melakukan politik uang.

“Dua-duanya diduga melakukan politik uang. Kalau laporan ya masing-masing saling melaporkan,” Mimah menandaskan. (SD)

COMMENTS

DISQUS: