oleh

Politik Gerobak dan Asap Nyamuk ala Perindo

JAKARTA, SUARADEWAN. com–  Partai Persatuan Indonesia adalah wujud kulminasi perjalanan politik Hary Tanoesoedibjo setelah sempat berlabuh di partai-partai pecahan Golongan Karya, yakni NasDem dan Hanura.

Perindo mulanya adalah organisasi masyarakat bentukan Hary Tanoe pada awal 2013. Dua tahun berselang, Perindo menjadi kendaraan politik sang taipan media. Hary Tanoe memilih berpaling sepenuhnya dari partai besutan Surya Paloh dan Wiranto karena berseberangan paham.

Perjalanan Perindo menjadi partai politik terbilang mulus. Perindo setidaknya memiliki modal untuk bersaing di ajang Pilkada 2018 menuju Pemilu 2019: struktur keanggotaan yang rapi –didominasi orang-orang dekat Hary Tanoe, media massa, tokoh atau figur terkenal, serta kemapanan finansial.

Menjelma menjadi partai ‘mapan’, Perindo tetap berusaha membumi dengan berangkat pada prinsip ketika ormas dibentuk, yakni keberpihakan kepada masyarakat lapisan menengah ke bawah. Wujud konkret dari misi Perindo antara lain berupa pemberian bantuan berupa gerobak untuk memberdayakan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masyarakat di sejumlah daerah.

“Gerobak ini kan sebagian dari identitas masyarakat yang lemah. Masyarakat di lapisan yang paling bawah dan itu mayoritas,” kata Sekjen Perindo Ahmad Rofiq. Program gerobak dan ragam kucuran bantuan dari Perindo itu sudah lama disosialisaikan Perindo melalui media-media yang berada di bawah naungan MNC Grup milik Hary Tanoe, Jumat (9/3).

Jauh sebelum euforia tahun politik, iklan mars Perindo kerap menghiasi jeda tayangan sinetron, acara situasi komedi, maupun program-program yang menjadi segmentasi tontonan ibu-ibu rumah tangga dan kelas menengah ke bawah.

Baca juga  Pengisian Silon Caleg 2019 oleh Parpol Hampir 100 Persen

Mars Perindo itu diputar hampir di setiap jeda iklan sampai membuat siapapun yang –meski hanya sekilas– mendengarnya akan terngiang dengan alunan nada dalam penggalan lirik ‘oleh Perindo… oleh Perindo… Jayalah Indonesia’. Belakangan memasuki 2018, Komisi Penyiaran Indonesia mengeluarkan surat peringatan terhadap empat stasiun televisi swasta dari MNC Group yakni INewsRCTIGTV, dan MNC TV karena dianggap kerap menyiarkan konten berbau kampanye Partai Perindo.

Rofiq menampik Perindo telah memanfaatkan kerajaan bisnis Hary Tanoe sebagai media untuk mereproduksi sosialisasi kepentingan partai. “Orang yang menganggap bahwa Partai Perindo memiliki media secara khusus itu juga tidak benar, karena Partai Perindo masang iklan juga bayar,” kata dia.

Pada masa-masa awal Perindo terbentuk, keberpihakan Hary Tanoe terhadap kelas menengah ke bawah terlihat ketika dia mengkritisi kesenjangan sosial dan ekonomi di era pemerintahan Joko Widodo. Dari hasil keliling ke beberapa daerah pada Juni 2015, Hary Tanoe mendapati kondisi nelayan, petani dan buruh masih banyak hidup dalam kemiskinan. Hary Tanoe kala itu menganggap kinerja para menteri ekonomi Kebinet Kerja masih kurang mengena sasaran.

Dukungan Hary Tanoe berbuah manis. Anies-Sandi berhasil mengalahkan Ahok-Djarot selaku petahanan. Namun kemeriahan akhir hajat Pilkada DKI itu beriringan dengan pengusutan polisi terhadap dugaan ancaman pesan kaleng yang dilakukan Hary Tanoe terhadap seorang jaksa. Berselang bulan sejak itu, polisi menetapkan Hary Tanoe sebagai tersangka atas dugaan memberikan ancaman melalui pesan singkat terhadap seorang jaksa bernama Yulianto, Juni 2017.

Baca juga  Hari Baik untuk Pendidikan Politik

Syahdan, Agustus 2017, Perindo secara resmi menyatakan dukungan terhadap Jokowi di Pilpres 2019. Hary Tanoe berpaling dari Prabowo  Subianto yang sempat dia dukung di Pilpres 2014. Dukungan untuk Jokowi itu sekaligus menggugurkan ambisi Hary Tanoe menjadi capres yang sempat diperjuangkan olehnya.

Perindo kini telah ditetapkan sebagai partai politik peserta Pemilu 2019 oleh KPU dengan nomor urut 9. Perindo dinyatakan memenuhi syarat dalam proses seleksi tahap penelitian administrasi dan verifikasi. Perindo mencanangkan target yang tak tanggung-tanggung di Pemilu 2019: membidik suara di atas 10 persen tingkat nasional –target yang terbilang muluk untuk sebuah partai baru, namun dianggap bukan hal mustahil bagi Perindo.

Partai baru umumnya sekadar ingin meraih suara di atas ambang batas parliamentary threshold, yakni 4 persen suara nasional. Partai yang hanya meraih suara di bawah 4 persen, tidak akan mendapat kursi di DPR. “Parliamentary threshold bagi partai Perindo itu bukan sebuah momok. Parliamentary threshold itu sesuatu hal yang kecil,” tutur Rofiq.

Untuk mencapai misi tersebut, kata Rofiq, Perindo akan fokus merangkul kalangan menengah ke bawah dengan konsisten memberikan pelayanan yang menjadi program partai yang di antaranya mencakup pemberian gerobak usaha hingga bantuan pengasapan nyamuk demam berdarah. (af)