Pluralisme dan Cara Merangkul Perbedaan ala Jalaluddin Rakhmat

Pluralisme dan Cara Merangkul Perbedaan ala Jalaluddin Rakhmat

Ada Tiga Faktor yang Mendasari Mengapa ISIS Bukanlah Islam
Rasionalitas Syiah Menangkal Terorisme
Ada Penolakan, Muslim Syiah Semarang Tetap Gelar Peringatan Asyura. Polisi Siap Amankan

SUARADEWAN.com — Suatu ketika, saat tinggal di Australia sebagai mahasiswa, Jalaluddin Rakhmat tak dikirimi hak-haknya sebagai penerima beasiswa. Karenanya, hidup Jalaluddin saat itu kritis. Saban hari, berharap rekening miliknya kembali dipenuhi pundi-pundi, ia berdoa pada Tuhan. Sayangnya, Tuhan tidak langsung mengabulkan permintaan tersebut.

Di titik kritis, bahkan ia kecewa dengan “keputusan” Tuhan yang tak kunjung mengisi rekeningnya. Untunglah, Jalaluddin kemudian teringat kisah-kisah si saleh, yang doanya tidak kunjung terkabul karena Tuhan rindu dan senang dengan doa-doa yang ia panjatkan. Ia juga ingat kisah-kisah si salah, yang doanya langsung dikabulkan karena Tuhan hanya ingin menemuinya kelak dengan lumuran dosa.

Umumnya, pikir Jalaluddin, seseorang yang telah putus asa berdoa punya dua alasan, pertama “kesulitan hidup tak pernah selesai dengan doa.” Dan kedua, “bila doa kita tidak dikabulkan karena gelimang dosa, sedang semua orang pasti berdosa, apa perlunya berdoa.”

Dalam buku berjudul Doa Bukan Lampu Aladin, buku yang memuat kisah Jalaluddin di Australia itu, sang cendekiawan ingin mengingatkan bahwa doa, meski manusia menganggapnya sebagai ungkapan cinta, bukanlah mantra magis. Jika setiap doa langsung terkabul dan Tuhan tunduk atas segala permintaan manusia, “doa kita mirip lampu Aladin dan tuhan menjadi jin. Jika demikian, Ketika kita berdoa, Tuhan harus keluar untuk bersimpuh di depan kita, ‘Tuan, katakan kehendak Tuan.’”

Jalaluddin Rakhmat atau akrab disapa Kang Jalal merupakan cendekiawan Muslim yang lahir di Bandung pada 29 Agustus 1947. Di banyak buku-buku yang ditulisnya, selain bertema fikih, Kang Jalal juga membahas hadirnya perbedaan dan pluralisme dalam kehidupan umat manusia.

Gambar: tirto.id

Merangkul Perbedaan

“Seluruh agama pada awalnya adalah agama samawi,” tutur Kang Jalal dalam bukunya berjudul Madrasah Ruhaniah: Berguru Pada Ilahi di Bulan Suci. Karena itu, “seluruh agama mensyariatkan puasa.”

Bagi Kang Jalal, puasa tidak identik dengan Islam. Semua agama, Yahudi, Nasrani, maupun agama-agama lainnya, punya ibadah puasa. Secara tersirat, dalam bukunya itu ia berpesan bahwa puasa merupakan salah satu ibadah yang bertujuan mendidik nilai moral tertentu, yang universal. Moral yang dimaksud, mengutip perkataan Ali bin Abu Thalib, adalah “jangan jadikan perutmu sebagai kuburan hewan.”

Baca juga  Ada Penolakan, Muslim Syiah Semarang Tetap Gelar Peringatan Asyura. Polisi Siap Amankan

Puasa adalah sarana mendidik manusia agar tidak menjadi kuburannya orang-orang kecil dengan tidak sembarangan memakan hak-hak mereka.

Jika puasa sukses ditunaikan sebagai sarana mendidik moral, tujuan ibadah ini akan diperoleh. Kang Jalal mengatakan bahwa puasa ditujukan “mendekatkan diri pada Allah dan memenuhi kebutuhan spiritual.”

Kang Jalal, meski tidak pernah mendaku diri, merupakan sosok “pluralis”, antitesis dari “eksklusif”. Dalam bukunya berjudul Islam dan Pluralisme: Akhlak Quran Menyikapi Perbedaan, ia mengatakan bahwa seorang eksklusif merupakan orang-orang yang percaya bahwa “hanya pemeluk agamanya saja yang selamat dan masuk surga. Di luar lingkungan agama kita, semuanya masuk neraka.”

Menurut Kang Jalal, pemikiran ini bisa menjadi bumerang. “Lingkungan agama kita” yang mana yang akan menggiring penganutnya masuk surga? Dalam buku tersebut, Kang Jalal menegaskan bahwa akan tercipta perpecahan yang disebabkan oleh klaim masuk surga ini.

“Umat Islam akan pecah menjadi 73 golongan. Semua masuk neraka, kecuali golonganku. Lebih lanjut, dalam golonganku, semuanya masuk neraka kecuali mereka yang ikut kepada Ustaz Fulan sana. Maka rahmat Allah yang meliputi langit dan bumi sekarang diselipkan di sudut surau yang sempit,” cetus Kang Jalal di bukunya.

Sementara seorang pluralis menganggap bahwa setiap pemeluk agama punya kesempatannya sendiri-sendiri untuk, katakanlah, masuk surga. Lebih lanjut, Kang Jalal mengingatkan kaum Muslim yang konservatif, yang eksklusif, yang totok bahwa Alquran surat al-Maidah ayat 105 sudah mewanti-wanti soal sikap eksklusif itu. “Wahai orang-orang yang beriman, diri kalian adalah tanggung jawab kalian. Orang yang tersesat tidak akan membahayakan kalian mendapat petunjuk.”

Karenanya tak heran, untuk urusan puasa, misalnya, Kang Jalal secara tersirat lebih menitikberatkan pada tujuan moral, alih-alih klaim agama tertentu. Meskipun terlihat mencampuradukkan agama, ia tegas mengatakan bahwa “pluralisme sama sekali tidak berarti semua agama itu sama.” Katanya, “perbedaan sudah menjadi kenyataan.”

Baca juga  Tokoh Muhammadiyah: Banyak Berita Tentang Iran dan Syiah Tidak Sesuai Fakta

“Tuhan tidak menghendaki kamu semua menganut agama yang tunggal. Semua agama itu kembali kepada Allah. Adalah tugas dan wewenang Tuhan untuk menyelesaikan perbedaan di antara berbagai agama,” tegas Kang Jalal dalam bukunya.

Secara tersirat, Kang Jalal melihat berbagai agama dan mazhab-mazhab di dalamnya bukanlah perbedaan yang memisahkan, tetapi justru mempersatukan. Ini paling tidak terekam dalam hidupnya sendiri. Cendekiawan yang pernah jadi anggota DPR tersebut mengaku lahir dari keluarga Nahdliyin, yang dibuktikan dengan sosok sang kakek yang memiliki pesantren bergaris NU. Lalu, ketika muda, ia bergabung dengan Persatuan Islam (Persis) dan lantas masuk kelompok Rijalul Ghad. Berselang waktu, Kang Jalal kemudian bergabung dengan Muhammadiyah, yang menurut klaimnya, ia dididik di Darul Arqam Muhammadiyah, suatu organisasi pengkaderan Muhammadiyah.

Sayangnya, selepas menjadi bagian dari Muhammadiyah, Kang Jalal punya cela. Menurut pengakuannya dalam buku “Islam dan Pluralisme,” ia sempat pulang ke kampung, dan “membasmi” segala bidah yang berkembang di sana. Namun, Kang Jalal kemudian sadar, ia sebenarnya tidak sedang membela agama, membela Alquran dan sunnah, melainkan mempertentangkan fikih ala Muhammadiyah dan ala NU.

Menurutnya, “fikih hanyalah pendapat para ulama dengan merujuk pada sumber yang sama, yaitu Alquran dan sunnah.” Bukan merupakan Alquran dan sunnah itu sendiri. Akibatnya, menentang fikih tidak bisa disamakan dengan menentang Alquran dan sunnah. Jika menentang Alquran dan sunnah seseorang bisa disebut kafir, maka sebaliknya tidak.

Selepas bergabung di tiga organisasi Islam terbesar di Indonesia, NU, Persis, dan Muhammadiyah, perjalanan Kang Jalal tidak berakhir. Ia lantas mendirikan dan menjadi pemimpin Ikatan Jamaah Alhulbait Indonesia alias Ijabi, salah satu organisasi resmi kaum Syiah di Indonesia.

Pengakuan bahwa dirinya Syiah salah satunya dilakukan di hadapan Heyder Affan, Wartawan BBC Indonesia, yang mewawancarainya pada pertengahan Juli 2013. Ketika itu, Kang Jalal berkata bahwa “secara fikih dan akidah, saya sekarang Syiah.” (Ahmad Zainuddin melalui tirto.id)

COMMENTS