oleh

Pidato Peringatan HUT RI dari Presiden Soekarno sampai Presiden Jokowi

JAKARTA, SUARADEWAN.com — Setiap Presiden, dari Soekarno sampai Jokowi punya visi dan gaya masing-masing dalam menyampaikan pidato pada setiap peringatan HUT Kemerdekaan RI. Bersumber dari Arsip Kompas merangkum tema setiap pidato berdasarkan berita Kompas dan diperkaya oleh foto.

Kemerdekaan adalah hak segala bangsa, hal ini tercantum dalam pembukaan UUD 1945 yang disahkan sehari setelah Indonesia merdeka. Arsip Kompas berhasil merekam berbagai pemberitaan seputar pidato kenegaraan memperingati hari Kemerdekaan Indonesia sejak tahun 1965. Dinamisnya situasi ekonomi, politik, sosial, dan budaya di Indonesia memengaruhi isi pidato kenegaraan dan suasana yang tercipta di hari spesial tersebut.

banner 1280x904

Bung Karno, sang orator ulung, memakai kesempatan penyampaian amanat saat upacara peringatan hari lahir Indonesia untuk menanamkan ideologi dan semangat kemerdekaan kepada masyarakat. Temperamennya yang terkenal menggebu-gebu juga terlihat saat ia menyampaikan amanat dalam waktu berjam-jam. Pidatonya selalu menunjukkan sikap patriotis dan sikap optimis untuk masa depan Indonesia.

Tamu undangan dan masyarakat luas dengan antusias mengikuti upacara peringatan HUT RI ke-5. Upacara tahun 1950 tersebut merupakan kali pertama digelar di Istana Merdeka, Jakarta, setelah sebelumnya dilaksanakan di Yogyakarta. Berbeda dengan saat ini, setiap pidato kenegaraan menyambut HUT RI dibacakan di gedung DPR sebelum tanggal 17 Agustus, pada Era Presiden Soekarno kala itu pidato menjadi bagian dalam upacara.

Salah satu pidatonya yang sekarang masih diingat oleh masyarakat adalah amanatnya yang berjudul “Jangan sekali-kali Meninggalkan Sejarah”. Amanat ini tertuang di Arsip Kompas yang terbit pada 18 Agustus 1966 halaman 1 dengan judul “Presiden Sukarno pd Perajaan Ulang Tahun Proklamasi ke XXI: Gembleng terus Persatuan Berlandaskan Sedjarah Perdjoangan Masa Lalu”.

Lain hal dengan Presiden Soeharto. Pembangunan masif yang dilakukan di era Orde Baru seringkali menjadi pembahasan inti dalam setiap peringatan hari kemerdekaan RI. Sebelum Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun) dilaksanakan pada tanggal 1 April 1969, ia menyampaikan pentingnya hal tersebut dalam amanatnya pada tahun 1968. Ketika akhirnya Repelita terlaksana pada tahun pertama, sebuah pawai besar terselenggara beberapa hari sebelum perayaan Hari Kemerdekaan. Pawai Pelita menjadi nama dari pawai tersebut agar menonjolkan semangat dan usaha bangsa Indonesia untuk menyukseskan Pembangunan Lima Tahun.

Baca juga  Di Atas Helikopter, Jokowi-Doni Bahas Vetiver

Presiden BJ Habibie mengemban tugas berat saat melanjutkan pemerintahan Presiden Soeharto terkait krisis ekonomi, konflik sosial dan permasalahan lainnya yang terjadi di masyarakat. Pidato-pidato kenegaraan Habibie pun berisi permintaan maaf atas pelanggaran-pelanggaran HAM masa lalu, penegakan hukum dan keadilan.

Berlanjut dengan pemerintahan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Pada masa pemerintahannya masih dalam suasana reformasi dan dibayang-bayangi dengan adanya gerakan separatisme. Gus Durpun dalam pidato kenegaraannya menekankan tentang nilai-nilai kebangsaan, kemerdekaan dan demokrasi. Kondisi ini masih dirasakan pada masa pemerintahan Megawati. Namun, sedikit demi sedikit pemulihan ekonomi akibat krisis 98 mulai terasa. Di awali dengan tindakan untuk memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme yang tertuang dalam pidato kenegaraannya sebagai komitmen pemulihan krisis.

Berbeda halnya pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Jokowi. Situasi seputar perayaan HUT RI sudah cenderung lebih kondusif. Dalam pidato kenegaraannya SBY selalu menekankan ajakan rekonsiliasi dan menyatakan bahwa kebijakannya adalah meneruskan kebijakan pemerintahan sebelumnya. Sementara Presiden Jokowi dalam pidato kenegaraannya selalu menekankan tentang pemerataan pembangunan ke seluruh pelosok.

Masa Presiden Soekarno

Melalui artikel yang tersimpan di Arsip Kompas, sari dari dua pidato presiden Soekarno pada peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia tersaji. Kedua pidato tersebut berjudul “Mencapai Bintang-bintang di Langit (Tahun Berdikari)” yang terbit pada Koran Kompas tanggal 18 Agustus 1965 dan “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah” yang terbit pada Koran Kompas setahun kemudian. Keduanya menjadi headline utama pemberitaan Kompas.

Baca juga  Megawati Soekarnoputri Digaji Rp 112 Juta Oleh Negara

Dalam pidato “Mencapai Bintang-bintang di Langit (Tahun Berdikari)”, optimisme tersalurkan melalui gagasannya yang dikenal dengan “Pantja Azimat”. Menurutnya, Pantja Azimat merupakan pengejawantahan seluruh jiwa nasional masyarakat Indonesia. Ia meyakini bangsa Indonesia tidak akan kalah lagi dari penjajahan atau imperialisme. Masa yang menghampar di depan Istana Merdeka, menyambut meriah pidato Bung Karno yang berdurasi 2 jam 10 menit.

Sementara itu, melalui amanatnya yang berjudul “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah” Bung Karno menunjukkan sikap patriotiknya. Bung Karno mengajak bangsa Indonesia terus mengingat perjuangan para pahlawan yang sudah merebut kemerdekaan dari para penjajah. Tidak hanya itu, Bung Karno mengajak masyarakat untuk percaya akan kemampuan diri sendiri dalam melaksanakan pembangunan setelah merdeka.

  • 17 Agustus 1965

Presiden Soekarno sampaikan gagasan Pantja Azimat dalam pidato perayaan kemerdekaan Indonesia. Dalam pidato yang berjudul “Mencapai Bintang-bintang di Langit (Tahun Berdikari)” Bung Karno menyampaikan optimisme bahwa Indonesia tidak akan kalah lagi (tetap merdeka).

“Mencapai Bintang2 Dilangit”: Mentjapai Kemenangan dengan Lima Azimat Revolusi (Kompas, 18 Agustus 1965 halaman 1)

  • 17 Agustus 1966

Dalam amanat yang berjudul “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah”, Presiden Soekarno mengajak bangsa Indonesia untuk menengok sejarah perjuangan bangsa selama ini. Menurutnya makna 21 tahun kemerdekaan merupakan 21 tahun Indonesia dalam masa pengembangan diri, penempaan rasa harga diri dan percaya pada diri sendiri.

Presiden Sukarno pd Perajaan Ulang Tahun Proklamasi ke XXI: Gembleng terus Persatuan Berlandaskan Sedjarah Perdjoangan Masa Lalu (Kompas, 18 Agustus 1966 halaman 1)

Next

Next

Komentar