oleh

Pesan untuk Muhammadiyah dan NU

Apabila benteng Muhammadiyah-NU jebol ditembus infiltrasi ideologi impor dan teologi kebenaran tunggalnya, integrasi nasional Indonesia akan goyah dan oleng. Kedua arus besar komunitas santri ini harus tetap awas.

Oleh: AHMAD SYAFII MAARIF

banner 728x419

Pada petang hari, Senin, 28 Desember 2020, Dr Ahmad Alim Muttaqin SpA kirim WA ke ponsel saya yang berisi pesan: ”Saya dikirimi Gus Mus. Ini lukisan Pak Djoko Susilo. Salam takzim kagem (untuk) Buya.” Lukisan itu adalah tentang Gus Mus (Mustofa Bisri, Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) dan saya, yang digandengkan.

Bagi saya pesannya sangat jelas: Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah harus berpikir besar, saling membantu, dan berbagi. Pada lukisan itu, baik Gus Mus maupun saya sama-sama dengan kepala terbuka. Keduanya pakai kacamata.

Karena belum kenal dengan pelukis Djoko Susilo, saya segera minta Dr Alim mencarikan nomor kontaknya. Hanya dalam tempo kurang dari satu jam nomor yang dinanti itu telah sampai. Sebelumnya sebuah komentar saya kirimkan dulu kepada Dr Alim: ”Imajinasi Pak Djoko sungguh mendahului zaman. I am proud of him.”

Ungkapan ”mendahului zaman” saya maksudkan sebagai sebuah harapan akan munculnya corak tafsiran Islam Indonesia pasca NU-Muhammadiyah, Islam yang tidak tercemar oleh warisan silang sengketa mazhab, sejarah, dan kepentingan politik.

Lukisan Djoko Susilo telah menuntun imajinasi saya ke jurusan itu.

Siapa tahu Gus Mus dan saya bisa dikategorikan sebagai mewakili arus kultural NU-Muhammadiyah dan sekaligus menjadi simbol masa depan Islam yang ramah, lapang dada, mengayomi, dan inklusif. Lukisan Djoko Susilo telah menuntun imajinasi saya ke jurusan itu.

Pada petang yang sama, inilah pembicaraan saya dengan sang pelukis: ”Pak Djoko, matur nuwun sanget (terima kasih banyak). Di bawah ini catatan saya atas lukisan Pak Djoko yang dahsyat itu.” Lalu saya kirimkan kepadanya komentar yang sebelumnya telah disampaikan kepada Dr Alim, seperti tertulis itu.

Pelukis Djoko segera menjawab: ”Assalamu’alaikum Warahmatullahi WabarakatuhNgapunten sanget (mohon maaf sekali) Buya, saya baru tahu ini nomor Buya…Apakah Buya berkenan menerima lukisan dari saya…? Saya akan bikinkan lukisan persis itu…”.

Langsung saya balas: ”Matur nuwun sanget (terima kasih banyak). Sangat tajam dan gagasan sebuah corak Islam pasca-NU-Muhammadiyah. Luar biasa.” Lima menit kemudian, Pak Djoko menulis: ”Siap Buya, saya lukis ulang lukisan itu untuk Buya. Mtrwn (terima kasih) Buya.”

Keprihatinan Tokoh Lintas Agama – Sejumlah tokoh lintas agama berjalan bersama menuju Tugu Proklamasi untuk menyuarakan keprihatinan terhadap situasi kehidupan bangsa (18/10). Mereka membacakan tujuh butir keprihatinan yang diberi tajuk “Surat Terbuka Kepada Rakyat”. Tokoh yang menyatakan keprihatinan antara lain: Ahmad Syafii Maarif, KH Salahuddin Wahid, Mgr Martinus D Situmorang, Pdt Andreas Yewangoe, Bikkhu Sri Panyavaro Mahathera, Ida Pedande Sebali Tianyar Arimbawa, Haksu Thjie Tjai Ing Xueshi, Frans Magnis-Suseno, Djohan Effendy, Azyumardi Azra, dan Abdul Mu’ti. (Kompas/Iwan Setiyawan)

Dari informasi Dr Alim yang berasal dari Gus Mus kemudian saya terima kalimat ini: ”Ternyata Pak Djoko Susilo …sudah lama punya obsesi membuat pameran dengan tajuk NU-Muhammadiyah. Dan lukisan tadi merupakan salah satu lukisan yang akan dipamerkan.”

Rentetan pembicaraan ini saya sebarkan juga kepada anak-anak muda Muhammadiyah, dan kepada Zuhairi Misrawi, intelektual Indonesia dari sub-kultur NU. Semua mereka senang dengan menyampaikan serba tanggapan yang memberi harapan.

Bergandengan tangan

Apa artinya semuanya ini? Bagi saya, maknanya dalam sekali. Seorang pelukis Djoko Susilo dengan kepekaan batinnya yang tajam punya gagasan yang jauh ke depan: NU-Muhammadiyah mesti bergandengan tangan untuk menjaga keutuhan Indonesia dari segala macam tangan-tangan perusak, termasuk dari mereka yang memakai bendera agama.

Setidak-tidaknya begitulah tafsiran saya terhadap lukisan Pak Djoko Susilo yang sejak petang itu, pertalian batin kami terasa telah akrab. Sependek ingatan saya, baru pertama kali ini kami berhubungan, berkat uluran tangan Gus Mus via Dr Alim.

NU-Muhammadiyah yang mewakili arus utama Islam Indonesia harus semakin menancapkan jangkarnya di samudra Nusantara sedalam-dalamnya. Generasi baru dari kedua arus utama ini mesti berpikir besar dan strategis dalam upaya menjaga dan mengawal kepentingan keindonesiaan yang kadang-kadang terasa masih goyah.

Tentu bersama-sama dengan kekuatan masyarakat sipil lainnya yang derajat kesetiannya kepada Indonesia sudah teruji.

Tentu bersama-sama dengan kekuatan masyarakat sipil lainnya yang derajat kesetiaannya kepada Indonesia sudah teruji. Sekiranya riak-riak kecil yang ”agak aneh” yang menyusup ke dalam kedua jemaah santri ini harus cepat disadarkan agar tubuhnya menjadi aman dan kebal terhadap serbuan ideologi impor yang sedang terkapar di tanah asalnya.

Muhammadiyah-NU adalah benteng utama untuk membendung infiltrasi ideologi yang telah kehilangan perspektif masa depan untuk Islam, keindonesiaan, dan kemanusiaan.

Untuk melangkah kepada tujuan besar dan mulia itu, Muhammadiyah dan NU mesti mengembangkan sikap-sikap yang lebih dewasa dan terukur dalam menghadapi isu-isu semasa yang kadang-kadang dapat mengundang salah paham yang tidak perlu.

Karakteristik hubungan NU-Muhammadiyah pasca-proklamasi dapat bercerita banyak kepada kita tentang apa yang saya maksud. Sekalipun ranah khilafiah sudah terkubur dalam mencoraki hubungan Muhammadiyah-NU, di ranah lain dalam masalah keduniaan masih memerlukan perbaikan-perbaikan yang konkret, terbuka, dan jujur.

Pengasuh Pondok Pesantren Radlatul Thalibin KH Ahmad Mustofa Bisri (tengah) saat menjadi pembicara dalam acara “Merawat Persatuan, Menghargai Kebangsaan”, yang digelar oleh Gerakan Suluh Kebangsaan di Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, Selasa (14/1/2020). KOMPAS/NINO CITRA ANUGRAHANTO

Kedua kubu santri ini dalam kaitannya dengan masalah kenegaraan mesti mengubah paradigma berpikirnya untuk tidak lagi terjebak ”berebut lahan” dalam kementerian tertentu yang dapat mempersempit langkah besar ke depan.

Muhammadiyah-NU seharusnya tampil dan berfungsi sebagai tenda besar bangsa dan negara. Pertanyaannya kemudian adalah: apakah generasi baru Muhammadiyah-NU yang lebih terbuka dan relatif punya radius pergaulan yang lebih luas bersedia keluar dari kotak-kotak sempit selama ini? Semestinya tidak ada alasan lagi untuk terus berkurung dalam lingkaran terbatas yang bisa menyesakkan napas dan sia-sia.

Akhirnya, sebagaimana pernah saya sampaikan bahwa bila benteng Muhammadiyah-NU jebol ditembus infiltrasi ideologi impor dengan teologi kebenaran tunggalnya, maka integrasi nasional Indonesia akan goyah dan oleng. Oleh sebab itu, kedua arus besar komunitas santri ini harus tetap awas dan siaga dalam menghadapi segala kemungkinan buruk itu.

Energi jangan lagi dikuras untuk memburu kepentingan pragmatisme jangka pendek. Islam terlalu besar dan mulia untuk hanya dijadikan kendaraan duniawi yang bernilai rendah. Eman-eman (sangat disayangkan). Lukisan Djoko Susilo harus dibaca dalam perspektif masa depan yang lebih adil dan ramah untuk semua.

Ahmad Syafii Maarif,  Ketua Umum PP Muhammadiyah 1998-2005.

(artikel pertama kali diterbitkan di harian Kompas edisi 5 Januari 2021 di halaman 6 dengan judul “Pesan untuk Muhammadiyah dan NU”)

Komentar

Berita Lainnya