Pesan JK: Pemimpin Itu Harus Lebih Pintar Dan Bijaksana Dari Anak Buah

Wapres JK memberikan Pembekalan Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat I di Istana Wapres. (Dok. Setwapres/awy)

Pesan JK: Pemimpin Itu Harus Lebih Pintar Dan Bijaksana Dari Anak Buah

JAKARTA, SUARADEWAN.com -- Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, para pemimpin di kalangan kantor pemerintahan harus lebih pintar daripada anak buahn

Gerindra Bantah Intervensi JK dalam Tim Sinkronisasi Anies-Sandi
Indonesia Dituduh Curang oleh Trump, JK: Amerika Harus Introspeksi
JK: Jokowi Pasti Terima SBY

JAKARTA, SUARADEWAN.com — Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, para pemimpin di kalangan kantor pemerintahan harus lebih pintar daripada anak buahnya. Dengan begitu, mampu memimpin sesuai dengan perkembangan situasi terkini.

“Jadi pemimpin itu harus lebih pintar, bijaksana dan mengayomi anak buahnya. Artinya Anda harus lebih pintar dari anak buah, mengetahui lebih daripada anak buah. Anda tidak bisa memimpin hanya berdasarkan selembar kertas SK,” kata Wapres saat memberikan Pembekalan Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat I Angkatan XXXVIII dan XL di Istana Wapres Jakarta, Senin, (8/10).

Baca juga  Terkait Tudingan Victor Laiskodat, Jusuf Kalla: Proses Hukum Saja

Gaya kepemimpinan yang tunduk kepada atasan saat ini perlahan mulai berganti menjadi demokratik. Saat anak buah tidak sepakat dengan pendapat atasannya maka dapat mengutarakan opini untuk perubahan lebih baik.

Bahkan, lanjut JK, apabila ada anak buah yang tidak suka dengan atasan, mereka bisa saja mengunggah ekspresi tersebut ke media sosial dengan mudah. Akibatnya, melalui keterbukaan informasi tersebut maka dapat muncul penilaian masyarakat yang sangat cepat terjadi.

“(Sekarang) Kalau anak buah tidak suka, dia bikin di media sosial macam-macam, gampang saja semua orang tahu. Kalau ada yang menyeleweng yang korup, maka langsung muncul di mana-mana. Jadi terjadi perubahan-perubahan,” jelas Jusuf Kalla.

Baca juga  JK Disebut Diskreditkan Pemerintahan SBY dan Boediono

Wapres juga mendorong para pemimpin dan pejabat birokrasi, baik di pusat maupun daerah, untuk terbuka dalam melaksanakan tugasnya sehingga tercipta gaya kepemimpinan politis demokratis dan terbuka secara otonomi.

“Perubahan-perubahan itu harus dilakukan, perubahan kepada alam politik lebih demokratis dan terbuka secara otonomi, menyebabkan kepemimpinan itu harus berubah. Tidak bisa lagi mengatakan ‘saya atasan, you mesti ikut sama saya’, tidak bisa lagi,” jelasnya. (Sumber : Antara)