oleh

Pernyataan Kontroversialnya Picu Kegaduhan Politik, Azyumardi Azra Kuliahi SBY

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Azyumardi Azra menilai pernyataan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berpotensi menimbulkan kegaduhan politik. Ia pun berharap SBY ke depan bisa lebih bersikap arif-bijaksana, menampilkan dirinya selaku sosok negarawan sejati.

“Dalam konteks ini, untuk menjaga Indoensia dari eskalasi politik menjelang Pilpres 2019, sepatutnya setiap dan seluruh elite politik menahan diri dari pernyataan kontroversial,” ujar Azyumardi dalam keterangan tertulisnya bertajuk Politik dan Kenegarawanan, Selasa (1/8/2017).

banner 1102x704

Memang, SBY dalam pertemuannya dengan Prabowo Subinto di Cikeas beberapa waktu lalu, sempat mengeluarkan pernyataan yang sangat kontroversial. Saat itu, di konferensi persnya seusai “Diplomasi Nasi Goreng”, SBY menyatakan, power must not go unchecked (kekuasaan harus tidak dibiarkan tak terkendali)—kekuasaan harus terbatas, tidak boleh absolut.

“Artinya, kami (SBY dan Prabowo) harus memastikan bahwa penggunaan kekuasaan oleh pemegang kekuasaan tidak melampaui batas sehingga masuk ke dalam yang disbut sebagai abuse of power (penyalahgunaan kekuasaan,” kata SBY.

Baca Juga:  Tolak Cabut Laporan Soal Antasari, Demokrat: Tuhan Tidak Tidur

Meski tidak jelas siapa “pemegang kekuasaan” yang dimaksud SBY, juga tak menyodorkan bukti konkrit terkait power goes unchecked yang masuk ke dalam kategori abouse of power tersebut, tetapi bagi Azyumardi, publik pasti paham bahwa itu tertuju kepada Presiden Joko Widodo.

“Jika tidak sesuai dengan kenyataan dan kebenaran, pernyataan itu dapat menimbulkan kegaduhan politik yang tidak perlu,” lanjut Azyumardi.

Karenanya, ia pun meminta para elite politik di negeri ini, termasuk juga untuk SBY dan Prabowo, agar selalu menampilkan sikap kearifan dan kenegarawanan.

“Untuk jadi negarawan, pemimpin perlu memiliki dan menampilkan empat kualitas penting. Pertama, prinsip yang teguh dan tak berubah pada kebenaran,” terang Azyumardi mengutip pendapat guru besar sejarah J Rufus Fears.

Bahwa seorang gagal menjadi negarawan, lanjut Azyumardi, jika dia tidak memiliki prinsip yang bertitik tolak dari kebenaran karena kepentingan politik sesaat.

Baca Juga:  PDI-P: Kenapa SBY Selalu Serang Jokowi?

“Kedua, panduan moral dan etis yang kuat. Seorang gagal jadi negarawan jika dia adalah relativis yang mudah mengubah kebenaran moral dan etis,” lanjutnya kembali.

Yang ketika, tambahnya, visi yang jelas tentang ke arah mana negara-bangsa ini mau dibawa.

“Negarawan visioner tahu hal yang harus dia lakukan untuk membawa negara dan rakyatnya ke kemajuan,” jelasnya.

Dan yang terakhir, kemampuan membangun konsensus untuk mewujudkan visi kemajuan.

“Seorang pemimpin gagal menjadi negarawan jika dia justru menimbulkan perpecahan dan konflik internal bangsa sehingga menciptakan keadaan tidak kondusif bagi kemajuan negara dan rakyatnya,” pungkasnya.

Komentar

Berita Lainnya