Perempuan Lintas Iman: Perempuan Agen Perdamaian, Perempuan Tolak Terorisme

Perempuan Lintas Iman: Perempuan Agen Perdamaian, Perempuan Tolak Terorisme

9 Aktivis Muslimah yang Berprestasi di Dunia
Untukmu Para Cewek, Jaga 8 Kepribadianmu ini Agar Cepat dinikahi Cowokmu
Kisah Carley Watts Model Pakaian Dalam Wanita yang Kini Berhijab

JAKARTA, SUARADEWAN.com — Fatayat NU menyelenggarakan kegiatan do’a dan refleksi kemanusiaan perempuan lintas iman sebagai tanggapan atas fenomena yang menjadikan perempuan dan anak menjadi tren baru dalam kasus radikalisme dan terorisme, bertempat di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Jumat (18/5).

Dalam kegiatan tersebut perempuan dari masing-masing agama menyampaikan pernyataan sikapnya terhadap terorisme sebagai respon menyikapi kasus terorisme di Surabaya yang pelakunya melibatkan perempuan baru-baru ini.

Acara doa dan refleksi ini dihadiri perwakilan dari Komnas Perempuan, KPAI, PP Nasyiatul Aisyiyah, Biro Perempuan dan Anak Persekutuan Gereja Indonesia (PGI), Perempuan Konghucu Indonesia (Perkhi), Wanita Budhis Indonesia. Hadir pula Sekretariat Gender dan Perempuan KWI, Perempuan PHDI, Perempuan Bahai, Perempuan Penghayat Indonesia, PP IPPNU dan PB KOPRI PMII.

Baca juga  Balap Sepeda Perempuan Perdana Digelar di Arab Saudi

“Acara ini memang inisiasi teman-teman Fatayat NU untuk mengundang semua perempuan lintas agama, menyikapi dan merespons kasus terorisme yang beberapa hari ini mendera bangsa Indonesia,” ujar Anggia Ermarini Ketua Umum Fatayat NUdi Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Jumat (18/5).

Dalam kegiatan yang mengangkat tema ‘Perempuan Agen Perdamaian, Perempuan Tolak Terorisme’ ini, Anggia menuturkan jika saat ini perempuan dan anak menjadi tren baru dalam kasus-kasus ekstrimisme, radikalisme, dan terorisme di Indonesia. Karena itu, menurut dia, kondisi ini menjadi keprihatinan yang luar biasa bagi perempuan lintas iman

Baca juga  International Women’s Day; Refleksi Kuatnya Perempuan dan Hore untuk itu!

“Ini menjadi keprihatinan yang luar biasa bagi kita semua, tidak hanya Fatayat. Makanya kita bertemu,” ucapnya.

Menurut dia, tokoh perempuan lintas agama tersebut mempunyai komunitas masing-masing. Sehingga ke depannya akan terus menyuarakan kepada masyarakat bahwa tidak ada satu agama pun yang mengajarkan kekerasan atau terorisme. Dia menambahkan, para teroris ini melakukan aksinya untuk menyebar ketakutan, sehingga masyarakat tidak bomeh takut dan percaya kepada negara untuk mengatasi maraknya terorisme ini. (ftn)

COMMENTS