oleh

Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad Mengundurkan Diri

JAKARTA, SUARADEWAN.com — Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad mengirimkan surat pengunduran diri kepada Raja (Yang Dipertuan Agung) Malaysia, Abdullah, pada hari ini, Senin (24/2).

Pengunduran diri tersebut dikonfirmasi melalui akun Twitter resmi Mahathir Mohamad, @chedetofficial, serta setelah Ketua Partai Keadilan Rakyat (PKR), Anwar Ibrahim, beserta istri yang juga Wakil Perdana Menteri Malaysia, Wan Azizah Wan Ismail, serta Menteri Keuangan sekaligus Ketua Partai Aksi Demokratis (DAP), Lim Guan Eng, datang ke Kantor Perdana Menteri di Putra Perdana untuk rapat pada pukul 09.26 waktu setempat.

Sontak hal ini menjadi babak baru sekaligus ujian bagi koalisi Pakatan Harapan yang memenangkan pemilihan umum pada 9 Mei 2018 lalu, setelah mengalahkan pesaing mereka, Barisan Nasional.

Kendati begitu, sumber menyatakan Raja Abdullah tidak bakal menyetujui langkah Mahathir.

“Yang Dipertuan Agung akan menolaknya dan mengatakan Mahathir didukung penuh oleh parlemen,” kata sumber tersebut seperti dilansir Straits Times.

Diduga langkah Mahathir itu dipicu penolakan gagasannya untuk mengubah peta koalisi pemerintahan. Sebab PKR, salah satu partai utama pendukung koalisi Pakatan Harapan yang saat ini menguasai pemerintahan, dilaporkan pecah kongsi.

Presiden Partai Keadilan Rakyat, Anwar Ibrahim, mengatakan meminta Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, untuk berpikir kembali terkait niat mengundurkan diri dari jabatannya.

Anwar mengatakan dalam pertemuannya, Mahathir mengatakan dia kecewa karena namanya dicatut oleh sejumlah pihak yang berniat merombak koalisi Pakatan Harapan yang saat ini berkuasa, dengan menggaet kelompok oposisi seperti UMNO dan Partai Islam SeMalaysia (PAS).

“Itu bukan beliau (Mahathir), nama beliau digunakan oleh orang-orang di dalam partai saya dan pihak luar. Beliau kembali mengulangi tidak terlibat dalam hal itu. Beliau menjelaskan tidak akan mungkin kembali bekerja sama dengan orang-orang yang terhubung dengan rezim lampau,” kata Anwar dalam jumpa pers di kantor Dewan Pimpinan Pusat PKR di Petaling Jaya, seperti dilansir Malaysiakini, Senin (24/2).

Jika Raja Abdullah mengabulkan permohonan pengunduran diri Mahathir, maka saat itu juga kabinet dibubarkan. Raja lantas harus menunjuk pengganti atau merangkap jabatan sementara.

Raja mempunyai wewenang menunjuk PM baru dari politikus yang menjadi pemimpin mayoritas di parlemen. Jika tidak ada yang memenuhi syarat, maka dia diberi diskresi untuk menentukannya dengan pertimbangan.

Banyak spekulasi bermunculan terkait manuver politik Mahathir. Ada yang menyatakan hal ini sebagai langkah politikus berusia 94 tahun itu untuk terus berkuasa dan menjegal langkah Anwar untuk menuju tampuk kepemimpinan, sebagaimana janji mahathir akan menyerahkan kepemimpinan ke Anwar.

Partai Pribumi Bersatu Malaysia (PPBM) yang menaungi Mahathir juga menyatakan mundur dari koalisi Pakatan Harapan. Hal ini bisa membuat jalan Anwar untuk meraih kekuasaan semakin terjal.(cn)

Komentar