Perdagangan Daging Anjing Berdampak pada Pariwisata di Bali

Perdagangan Daging Anjing Berdampak pada Pariwisata di Bali

Merasa Gagal Menikmati Liburan? Lihat Dulu Tanda-tandanya
Dukung Sektor Pariwisata, IMA DKI Buat Model Pariwisata Zaman Now
Anggota MPR: Indonesia Kehilangan Visi Menjadi Bangsa Yang Unggul di Pariwisata

MANGUPURA, SUARADEWAN.com — Pemerintah Kabupaten Badung, Provinsi Bali, melalui Dinas Pertanian dan Pangan setempat melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) yang digelar di ruang Kriya Gosana Puspem Badung. FGD ini untuk menyikapi Perdagangan daging anjing di Bali.

“Kegiatan FGD yang dihadiri perwakilan Dinas Pertanian kabupaten/kota di Bali, tokoh agama, adat, budaya dan mahasiswa digelar terkait isu perdagangan daging anjing di Bali,” kata Plt Kadis Pertanian dan Pangan Badung, Putu Oka Swadiana, Kamis (5/4).

Oka Swadiana menjelaskan, berdasarkan Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 524.3/9811/KKPP/Disnakkeswan tanggal 6 Juli 2017 yang ditujukan kepada bupati dan wali kota, isu perdagangan daging anjing yang sempat beredar diharapkan tidak berdampak kepada citra pariwisata Bali.

Baca juga  10 Tempat Pemandangan Luar Biasa Di Berbagai Belahan Dunia

“Bupati dan wali kota juga diminta melaksanakan empat poin. Yaitu pertama, pendataan terhadap lokasi penjualan daging anjing. Kedua, sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat bahwa daging anjing bukan merupakan bahan pangan asal hewan yang direkomendasikan untuk dikonsumsi,” ujarnya.

Yang ketiga, pengawasan terhadap kemungkinan adanya penjualan daging anjing dengan merk daging lain. Dan yang terakhir, penertiban terhadap penjualan daging anjing karena tidak dijamin kesehatannya dan dapat berpotensi terhadap penularan penyakit ‘zoonosis’ terutama rabies dan bahaya fatal lainnya.

Oka Swadiana mengatakan, melalui FGD tersebut, pihaknya berharap dapat terjadi diskusi dari berbagai pihak sekaligus mendapat masukan dari berbagai pihak. “Selain berkaitan dengan citra pariwisata, isu penjualan daging anjing juga perlu mendapat masukan dari tokoh agama, adat, dan budaya di Bali. Secara umum, konsumsi daging anjing dinyatakan tak sesuai dengan adat dan budaya Bali,” ujarnya.

Baca juga  Jalin Kerjasama, Hotel Desa Wisata Siap Jadi Hunian Atlet Asian Games 2018

Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian RI, Syamsul Maarif mengatakan, isu penjualan daging anjing sangat riskan terhadap pariwisata Bali, khususnya dan Indonesia pada umumnya. “Itu karena di luar negeri, anjing merupakan hewan peliharaan yang sangat disayang. Jadi, isu penjualan daging anjing sangat berpengaruh terhadap pariwisata,” ujarnya. (ant)

COMMENTS