oleh

Pengungkapan Kasus Novel Berjalan Lamban, Kinerja Polri Pun Terus Dipertanyakan

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Kinerja Kepolisian Republik Indonesia (Polri) terus menjadi tanda tanya di benak banyak pihak. Sebab yang bergulir, karena lambannya pengungkapan kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan.

Padahal, sudah puluhan saksi diperiksa dalam penyelidikan yang dilakukan oleh Polda Metro Jaya. Sejumlah tokoh yang menjual bahan-bahan kimia, termasuk air keras pun sudah diselidiki guna melacak pelaku. Tetapi sampai di bulan keempat kasus Novel ini, tak ada perkembangan yang signifikan.

Sebelumnya, Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan bahwa akan membentum tim gabungan investigasi dengan KPK. Lagi-lagi, sampai hari ini, rencana tersebut belum terealiasi.

Baca juga  Kena OTT, Bupati Pakpak Bharat Jadi Tersangka Suap Proyek PU

Menurut anggota Wdah Pegawai KPK Hery Nurdin, Polri bukan tidak mampu mengungkap kasus yang disinyalir melibatkan para petinggi di negeri ini. Tetapi baginya, penuntasa kasus ini hanya tinggal menunggu kemauan dari Korsp Bhayangkara saja.

“Karena berdasarkan fakta, fakta yang kami miliki itu, ya bukan masalah. Jadi,  saya enggak usah bicara detail ya,” ujarnya.

Lantas, kenapa KPK tidak mengambil alih langkah penuntasan kasus penyidik seniornya ini? menurut Hery, pihaknya masih memberikan kesempatan kepada Polri. Ya, meski sudah sejak awal pihaknya pesimis bahwa kasus ini akan cepat selesai.

“Kita berikan waktu dululah. Kalau ibaratnya kita berikan waktu dan ruang cukup, biar beliau-beliau (Polri) berpikir lagi untuk Indonesia yang lebih baik lagi,” imbuhnya.

Baca juga  KPK Diharapkan Usut Koorporasi Penerima Dana Korupsi e-KTP

Tentu saja, lambannya pengungkapan kasus Novel ini menjadi catatan buruk tersendiri bagi institusi kepolisian. Ditambah lagi, karena lambannya ini, juga menjadi catatan buruk bagi Jenderal Tito Karnavian sendiri selaku pimpinan Polri.

Jika sampai kasus ini tidak juga-juga diungkap secara jelas, lanjut Hery, pihaknya akan mencari jalan lain.

“Pada sampai titiknya tak bisa optimal, kita cari jalan lain. Tapi bukan menjelekkan siapa-siapa, tapi untuk ungkap kebenaran. Kami bukan mau serang sana-sini,” pungkasnya.