oleh

Pengangguran Terdidik Masih Banyak, JPPI Nilai Penguatan Pendidikan Vokasi Belum Maksimal

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Penguatan pendidikan vokasi atau di jenjang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) serta Perguruan Tinggi (PT) oleh pemerintah dinilai masih belum maksimal. Hal tersebut disampaikan oleh Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI).

Meski sebenarnya, tujuan utama dari program vokasi ini, untuk menyiapkan generasi bang yang bisa terjun langsung ke dunia kerja, serta mempunyai peranan penting untuk menyiapkan dan mengembangkan tenaga kerja yang siap pakai di skala industri.

banner 1280x904

“Realitanya, keberadaan vokasi ini masih belum sepenuhnya sesuai dengan harapan. Bisa dikatakan tingkat pengangguran terbuka untuk lulusan SMK sampai saat ini masih cukup tinggi,” kata Koordinator Advokasi JPPI Nailul Faruq, kepada SuaraDewan.com, pada Jum’at (11/8).

Baca juga  Kecelakaan Beruntun di Tol BSD, Lima Mobil Terlibat Tabrakan

Dikatakan Nailul, dari hasil data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2016, menyebutkan bahwa, jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7,02 juta orang, dan dari jumlah tersebut, tingkat pengangguran tertinggi berasal dari jenjang SMK 9,84 persen. Kemudian disusul lulusan Diploma I, II, dan II 7,22 persen dan lulusan SMA 6,95 persen.

“Itu angka fantastik. Bisa jadi, ada ketidak-sesuaian (mismatch) antara dunia pendidikan dengan dunia kerja. Artinya, terdapat kekosongan peluang kerja dan menunggu hasil pendidikan (output). Akan tetapi di sisi lain terjadi kelebihan kapasitas (overloaded) dan pasti menghasilkan pengangguran terdidik,” katanya.

Baca juga  DPRD Tangsel Dukung Workshop Komite Integritas

Belum lagi, sambung Nailul, Indonesia dihadapkan dengan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). “Tentunya lembaga pendidikan vokasi dan alumninya akan berperan dalam persaingan MEA,” sambunya.

Selain itu, Indonesia juga akan menghadapi bonus demografi, yakni sekira 70 persen warganya merupakan usia produktif. Sehingga, para pelaksana pendidikan harus melaksanakan peran dan fungsinya sesuai dengan program kerja yang telah disusun.

“Menghadapi peluang tersebut, peran pendidikan menjadi penting, khususnya yang pendidikan yang berbasis keterampilan. Jadi peran pelaksana pendidikan harus sesuai dengan program kerja yang telah disusun,” tandasnya. (fn)

Komentar