oleh

Pendidikan Papua masih Tertinggal, Stafsus Presiden: Karena Itu saya Mendirikan Yayasan

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Otonomi Khusus untuk masyarakat Papua sudah berjalan 20 tahun. Tetapi tidak bisa menampik bahwa di Papua masih terdapat masalah yang belum maksimal teratasi, salah satunya adalah masalah pendidikan.

Wajah pendidikan di Papua dinilai masih tampak suram. Meskipun kini banyak orang Papua sudah bersekolah tinggi, bahkan hingga menjadi Profesor dan doctor, namun realitas itu belum menggambarkan kondisi nyata wajah pendidikan di Papua.

banner 1280x904

Peneliti IAIN Sorong, Papua, Dr. Ismail Marsuki Wakke, Ph.D mengungkapkan bahwa di pedalaman Papua masih banyak anak-anak yang belum tersentuh pendidikan.

“saya melihat dana Otsus hanya beputar di masyarakat perkotaan. Kita berharap kemudian jangan sampai ada anak-anak Papua yang tidak tersentuh pendidikan” ucap Ismail saat mengisi Wabinar bertajuk “Otsus dan Masa depan Papua, Kamis siang (20/08)

Baca juga  Kesehatan Masyarakat Korowai Cenderung Terabaikan, HMI Cabang Jayapura Galang Aksi Sosial

Sementara Staf Khusus Presiden, Billy Membrasar yang juga turut hadir dalam kegiatan webinar tersebut, mengatakan, bahwa pendidkan di Papua harus mendapat perhatian khusus oleh Pemerintah.

“Pendidikan di Papua masih tertinggal saya menyadri itu. Saya mendirikan yayasan Kitong Bisa yang konsen terdap kemajuan pendidikan di Papua. Saya sendiri lulusan S1 melalui beasiswa Otsus ke ITB,” ungkap pria kelahiran Papua

Oleh karena itu Otsus perlu di evaluasi dengan melibatkan elemen masyarakat. “harapan saya proses perbaikan dapat melibatkan masyarakat terutama pengguna anggaran,” ucapnya.

Baca juga  Aparat Keamanan Belum Bisa Evakuasi 24 Korban oleh KKB di Papua

Wabinar tersebut diselenggarakan oleh Indonesian Demokrasi Network (IDN) Academik yang berkolaborasi dengan IKAMI SUL-SEL dan Forum Jogja Rembug. Dalam kegiatan itu menghadirkan beberapa pembicara seperti Anggota DPD RI dan Ketua MPR For Papua Yorrys Riwayai, Staf Khusus Presiden Billy Mambrasar, Peneliti IAIN Sorong, Papua Barat DR. Ismail Suardi Wakke, Ph.D, Ketum Badko HMI Papua, Papua Barat Hardi Arifianto.

reporter : sha

Komentar