oleh

Pelaku Pencabulan 65 Siswa Akan Dites Kejiwaan

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Berbeda dengan kasus pencabulan lainnya yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi atau di ruangan tertutup, MSH (29) wali kelas yang mencabuli 65 anak di bawah umur melakukan aksinya di depan anak didiknya. Polisi mengindikasi adanya penyimpangan perilaku seksual, dan akan melalukan tes kejiwaan pada pelaku.

“Pelaku berinisial MSH berbeda, pelecehannya dilakukan dan disaksikan anak-anak lain. Dia tergolong unik orientasi seksnya, dan perlu pendalaman tertentu,” ujar Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Frans Barung Manger, Jakarta, Senin (26/2).

banner 1280x904

Pemeriksaan kejiwaan ini penting, tambah Barung, karena dari pemeriksaan akan terlihat hasil yang akurat dan memudahkan proses pemeriksaan. Barung juga mengatakan, pemeriksaan ini sebagai upaya pencegahan kembali terulangnya kejadian ini.

Kendati demikian, diketahui dulunya pelaku merupakan korban pelecehan seksual oleh guru laki-lakinya. Saat diinterogasi oleh petugas, MSH yang tertarik dengan anak-anak sejak tahun 2013 ini mengaku pernah menjadi korban pelecehan oleh gurunya.

Ketika ditanya apa aksinya ini merupakan balas dendam, MSH tidak mengiyakan. “Saya tidak mengatakan, saya ragu apakah itu alasannya. Tapi ada dorongan dan rasa keinginan,” tambah bapak dari dua anak ini. Sementara itu, untuk menangani traumatik pada korban, polisi telah melakukan konseling yang digelar di sekolah. Hal ini dinilai penting untuk pendampingan dan pemulihan kejiwaan anak-anak.

“Sampai saat ini, anak yang kami konseling untuk pemulihan psikologi sudah capai 32 orang. Mereka akan didampingi oleh tim ahli dalam pemulihannya,” ujar Barung. MSH yang telah ditangkap sejak Rabu (21/2) ini mengaku melakukan aksinya di beberapa tempat. Pertama di ruang kelas. Lalu di kolam renang saat ada ekstrakurikuler renang, hingga di dalam bus ketika ada rekreasi sekolah.

Sebanyak 65 siswa yang dilecehkan oleh MSH. Dalam rinciannya, sebanyak 34 siswa dilecehkan secara verbal, dan 31 lainnya secara non verbal. Semua korbannya rata-rata masih berusia 8 hingga 11 tahun. MSH mengatakan modusnya ini bermacam-macam. Ada yang mempertontonkan murid dengan video tak senonoh, ada juga perbuatannya yang ia lakukan dengan langsung di depan kelas. (af)

Komentar