oleh

Pecat Kader Lewat Media, Anggota GMPG: Partai Golkar Dikelola Seperti Warung Klontong

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Partai Golkar memecat Ketua Generasi Muda Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia. Pemecatan Ahmad Doli Kurnia dari Partai Golkar disampaikan oleh Idrus Marham kepada awak media karena telah dianggap bertindak tidak sesuai aturan partai.

“Beberapa hari lalu DPP Partai Golkar telah mengambil sebuah keputusan memecat keanggotaan yang bersangkutan,” ujar Sekjen Partai Golkar Idrus Marham di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta pada Rabu (30/8).

banner 1280x904

Pemecatan terhadap kader muda partai Golkar ini yang disampaikan lewat media, mendapat kritikan dari kader GMPG Misbach Shoim Haris yang menganggapnya sebagai tak beretika dan tak bermoral. Memecat seseorang melalui penyebaran opini tanpa yang bersangkutan tahu dianggap sebagai pembunuhan karakter.

“Di mana etika dan moralnya, itu character assassination namanya. Kami sedang kaji apakah ini bisa masuk kategori pencemaran nama baik atas tindakan pengecut seperti itu,” ujar anggota Generasi Muda Partai Golkar (GMPG) Misbach Shoim Haris dalam keterangan persnya, Kamis (31/8).

Baca juga  DPR dan Pemerintah Sepakat Pilkada Serentak Digelar 9 Desember 2020

Ia juga mengatakan, bila bicara prosedural atau mekanisme pemberhentian seseorang sebagai pengurus, apalagi anggota, partai Golkar sudah dibangun ke arah oligarki absolut oleh Setya Novanto dan Idrus Marham. Melihat Doli baru beberapa hari lalu menerima surat peringatan tapi kini sudah dinyatakan dipecat.

“Sebelumnya tidak ada panggilan, dialog, teguran, dan sebagainya. Lantas setelah itu tiba-tiba ada pemecatan tanpa melalui rapat pleno seperti yang diatur dalam peraturan organisasi,” jelasnya.

Miscbah Shoim Haris

Selain itu, menurutnya memecat seseorang dari keanggotaan sebuah partai politik bukanlah perkara yang sederhana. Dalam era politik dan demokrasi modern saat ini, partai politik itu merupakan milik publik.

“Setiap individu dijamin hak asasinya untuk memilih dan menentukan keanggotaan, afiliasi, aspirasi, dan politiknya kepartai politik yang dianggap sesuai visi, misi, dan programnya,” katanya.

Baca juga  Mantan Gubernur Sulbar Eks Ketua DPD Golkar, Resmi Gabung Nasdem

Partai politik yang modern, lanjut Haris, seharusnya tidak bisa lagi dikelola seperti warung di pinggir jalan. Dengan sesuka hati, kapan pegawainya mau ditambah atau dipecat seenak “udel” si punya warung.

“Kami, kalian, dan kita semua punya kesadaran penuh untuk memilih menjadi anggota Partai Golkar karena itu adalah hak kita masing-masing,” katanya.

Menurutnya lagi, Partai Golkar merupakan milik rakyat Indonesia, para simpatisan, pemilih, dan konstituen Golkar. Golkar bukan milik Setya Novanto, Idrus Marham, dan juga bukan milik kelompok siapapun.

“Partai Golkar bukan juga perusahaan, bukan juga toko apalagi warung pinggir jalan,” tambahnya. (REP)

Komentar