Mummy Ditemukan Dalam Peti Mati yang Selama 160 Tahun Dianggap Kosong

Mummy Ditemukan Dalam Peti Mati yang Selama 160 Tahun Dianggap Kosong

SYDNEY, SUARADEWAN.com -- Sejak dibeli 160 tahun lalu, arkeolog Universitas Sydney mengabaikan sebuah peti mati berharga yang ternyata berisikan mumi

Jejak Pelaut Bugis Makassar dan Islamnya Warga Asli Australia
Indonesia Bisa Meniru Australia dalam Membangun Canberra
Bahas Pertahanan dengan Australia, Ryamizard Sampaikan Kebijakan Maritim Indonesia

SYDNEY, SUARADEWAN.com — Sejak dibeli 160 tahun lalu, arkeolog Universitas Sydney mengabaikan sebuah peti mati berharga yang ternyata berisikan mumi yang berusia 2.500 tahun, sebab dianggap tidak akan memberikan hasil apapun.

Sebuah peti mati bernama Mer-Neith-es itu sebelumnya berada di Museum Nicholson, terdaftar sebagai kosong di buku pegangan tahun 1948, sementara pangkalan data museum mengatakan bahwa itu berisi puing-puing campuran. Sekitar tahun 664-525 SM, telah dibeli oleh pendiri awal universitas, Sir Charles Nicholson, sebagai bagian dari 408 benda-benda Mesir yang akan membentuk basis untuk koleksi.

Pandangan itu semua berubah pada bulan Juni lalu, ketika para peneliti perlu mengambil foto hieroglif yang sebelumnya tidak terdokumentasi di bawah peti mati. Di situlah mereka menemukan sisa-sisa kaki dan tulang manusia.

Baca juga  PM Australia akan Buka Konjen di Surabaya

“Ini adalah momen penemuan yang luar biasa,” kata kurator senior Nicholson Museum Universitas Sydney, Jamie Fraser sebagaimana dikutip dari Reuters, Rabu (28/3).

Baca juga: Janggut Tutankhamun Rusak, Pegawai Museum Mesir Diadili

Dengan kesempatan mendapatkan mumi yang sudah tidak utuh, membuat akademisi dapat meneliti dan menguji mayat yang ditemukan. Biasanya, mumi yang ada akan dibiarkan utuh dan membatasi manfaat ilmiah yang bisa digali.

Baca juga  Indonesia Ajak Australia Rundingkan Kembali Batas Maritim Laut Timor

Fraser menyatakan, hieroglif menunjukkan, jika sisa mumi yang ada di dalam peti itu mayat seorang perempuan bernama Mer-Neith-it-es. Akademisi percaya adalah pendeta tinggi pada 600 SM, terakhir kali Mesir diperintah oleh penduduk asli Mesir.

“Kami tahu dari hieroglif bahwa Mer-Neith-it-es bekerja di Kuil Sekhmet, dewi berkepala singa. Ada beberapa petunjuk dalam hieroglif dan cara mumifikasi telah dilakukan dan gaya peti mati yang memberitahu kita tentang bagaimana Kuil Sekhmet ini mungkin berhasil,” kata Fraser. (AFS)

Baca: Prioritaskan Anak, Politisi Wanita ini Menyusui di Ruang Parlemen

COMMENTS

DISQUS: