oleh

MUI: Mbah Priok Bukan Ulama Penyiar Islam

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Ketua Tim Pengkajian Makam Mbah Priok tahun 2010 dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Syafi’i Mufid menegaskan bahwa Habib Hasan al-Hadad alias Mbah Priok bukanlah tokoh atau ulama penyiar Islam di Jakarta.

Ia menyebutkan bahwa dalam penelitian sejarah yang dilakukan, tak satupun bukti yang dapat ditemukan bahwa Mbah Priok merupakan tokoh dalam dakwah dan penyebaran Islam di kawasan Betawi itu.

banner 728x419

“Intinya dari sisi kesejarahan, Mbah Priok bukan tokoh ulama penyiar Islam di Betawi. Uraian kami sangat jelas di situ (hasil penelitian),” pungkas Syafi’i, Rabu (8/3/2017).

Meski demikian, dari hasil penelitian yang pihaknya kaji, tetap menemukan bahwa Mbah Priok adalah orang saleh dari Palembang yang pernah dimakamkan di daerah tersebut. Itulah yang menjadi salah satu alasan mengapa kawasan tersebut disebut sebagai kawasan Priok hingga sekarang.

Baca Juga:  Merawat Sejarah, Ahok Resmikan Makam Mbah Priok Sebagai Cagar Budaya

Sebelumnya, makam Mbah Priok ini kembali menjadi sorotan publik setelah Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menetapkan makam Mbah Priok sebagai salah satu cagar budaya di DKI. Inilah yang kemudian juga mengundang reaksi dari Tim Pengkaji MUI untuk membeberkan kembali fakta-fakta temuan penelitiannya.

Ia menjelaskan bahwa penelitian yang dilakukan MUI bertujuan untuk mempelajari apakah jasad dari Mbah Priok masih di Dobo, Koja, Jakarta Utara. Penelitian ini juga berkaitan dengan konflik yang terjadi saat itu.

Baca Juga:  Merawat Sejarah, Ahok Resmikan Makam Mbah Priok Sebagai Cagar Budaya

Adapun metode penelitiannya, pihaknya melakukan berbagai macam keahlian, di antaranya dari sisi kesejarahan. Bahkan juga melibatkan sejarawan JJ Rizal guna mengungkap aspek kesejarahan dari makam Mbah Priok tersebut.

“Kesimpulannya untuk kepentingan supaya tidak terjadi konflik di eks pemakaman Dobo dibuatkan prasasti yang dikatakan pernah Habib al-Hadad dimakamkan di sini, hanya seperti itu. Itu pun sebetulnya kompromi dari kepentingan sejarah. Bukan seperti situs dalam arkeologi. Itu hanya asal, pernah dimakamkan di situ,” jelas Syafi’i. (ms)

Komentar

Berita Lainnya