Menteri Muda di Kabinet Jokowi, Pengamat: Jangan LatahPresiden dan Wakil Presiden Terpilih, Jokowi-Ma'ruf Amin

Menteri Muda di Kabinet Jokowi, Pengamat: Jangan Latah

Eks Ketua HMI: Generasi Milenial Penentu Kualitas Demokrasi di Indonesia
Mereka yang Muda; Kritis lalu Dilenyapkan
Milenial: Tempat Kerja Nyaman Lebih Penting Ketimbang Gaji Besar

JAKARTA, SUARADEWAN.com — Presiden Jokowi mengisyaratkan pembentukan kementerian baru sesuai dengan kebutuhan dan tantangan zaman, salah satu upayanya adalah memberi tempat buat anak muda dalam hal ini kaum milenial (20-30 tahun) masuk dalam kabinet periode keduanya.

Hal tersebut ditanggapi baik oleh banyak kalangan utamanya dari kalangan milenial itu sendiri, namun menurut Pengamat Politik Adi Prayitno jika Jokowi ingin menghadirkan menteri muda dalam kabinetnya pertimbangannya harus murni kompetensi bukan karena ‘latah’ mengikuti negara-negara lain.

“Milenial ini jangan hanya latah-latahan karena di negara lain ada milenial menjadi menteri kita juga ikut-ikutan juga janan dipaksakan juga. Kalau kelompok milenial yang kita cari tidak ada enggak perlu dipaksakan,” kata Adi Prayitno di Jakarta sebagaimana dilansir oleh Antara (12/7).

Baca juga  Milenial: Tempat Kerja Nyaman Lebih Penting Ketimbang Gaji Besar

Menurutnya, penentuan menteri milenial yang layak akan sangat rumit karena selain cerdas dan memenuhi kualifikasi, menteri dengan usia sekitar 30 tahun ini harus tahan banting dan mampu dengan total membantu presiden mewujudkan visi, misi, dan janji politik yang sudah dinanti masyarakat.

“Dinamika sistem politik kita ini susah ditebak. Mungkin ada milenial pinter cerdas punya kapasitas. Kalau tidak punya backup politik, dia bisa terancam di-bully di Senayan karena tempat ini hutan belantara,” katanya.

Baca juga  Eks Ketua HMI: Generasi Milenial Penentu Kualitas Demokrasi di Indonesia

Selain itu, Adi juga mengingatkan menteri milenial yang dipilih juga mempunyai dukungan penuh dari partai politik agar mampu bertahan dan terbebas dari rong-rongan politik dari unsur oposisi maupun partai pendukung pemerintah.

Pada prinsipnya dia mendukung. Akan tetapi, di sisi lain kualitas kompetensi totalitas mendukung presiden dan mendapat dukungan partai itu yang paling penting.

“Bukan hanya masalah anak muda, melainkan dia akan cenderung lugu menghadapi realitas politik yang sesungguhnya karena menteri itu suka tidak suka harus menghadapi kritik dari kalangan bukan dari oposisi, bahkan partai pendukung pemerintah,” ujarnya. (an)