Mengenal Kuntowijoyo: Pelopor Ilmu Sosial Profetik yang Mahir Menulis Novel

Mengenal Kuntowijoyo: Pelopor Ilmu Sosial Profetik yang Mahir Menulis Novel

Jejak Islam Dr. Zakir Abdul Karim Naik
Abdul Rahman Farisi: Mengabdi Demi Keadaban Politik
Andi Sose Hembuskan Nafas Terakhir, Berikut Sepak Terjangnya

SUARADEWAN.com – Pada awal 1992, sastrawan cum sejarawan Kuntowijoyo dikabarkan sakit akibat virus Meningo encephalitis. Kondisi itu tak memungkinkan dirinya untuk bekerja ataupun menulis. Padahal, kala itu ia termasuk penulis produktif.

Hingga saat itu setidaknya ia telah menerbitkan delapan karya sastra berupa novel, naskah drama, dan antologi puisi. Di antara karya sastranya yang terkenal adalah Suluk Awang-uwung (kumpulan puisi, 1975), Pasar (novel, 1972), Khotbah di Atas Bukit (novel, 1976), dan Topeng Kayu (drama, 1973).

Sebagai akademisi, Kuntowijoyo telah menerbitkan tiga kumpulan esai ilmiah. Umumnya ia menelaah persoalan sosial, budaya, dan tentu saja sejarah. Di antara karyanya itu adalah Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia (1985), Budaya dan Masyarakat (1987), dan Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi (1991).

Ketika kabar tentang sakitnya Kuntowijoyo yang cukup parah itu tersebar, beberapa koleganya pesimistis. Penyakit itu memang membuatnya tak cekatan bergerak dan kesulitan berbicara. Seorang kawannya di Jurusan Sejarah UGM bahkan menganggap “misi” Kuntowijoyo telah berakhir.

“Dalam kenyataannya, pernyataan itu sama sekali tidak benar, Kuntowijoyo terus menulis fiksi dan buku-buku ilmiah tentang sejarah dan kebudayaan yang sangat banyak diminati oleh para cerdik pandai dari kalangan manapun,” bantah Bakdi Soemanto dalam pengantarnya untuk kumpulan cerpen Kuntowijoyo, Pelajaran Pertama Bagi Calon Politisi (2013: ix).

Kuntowijoyo belum habis. Setelah dua tahun rehat dari dunia intelektual dan sastra, ia kembali dengan karya-karya pilih tanding. Cerpen-cerpennya—“Lelaki yang Kawin dengan Peri”, “Pistol Perdamaian”, dan “Anjing-anjing Menyerbu Kuburan”—terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas pada 1995 hingga 1997. Kompilasi-kompilasi esainya juga terbit setelah itu. Sebut misalnya Demokrasi dan Budaya Birokrasi (1994), Identitas Politik Umat Islam (1997), hingga yang cukup terkenal Muslim Tanpa Masjid (2001).

Ia tak berhenti menulis hingga mangkat pada 22 Februari 2005. Kini, atas tinggalan karya-karyanya, kita mengenal Kuntowijoyo setidaknya dalam tiga predikat: sastrawan, sejarawan, dan intelektual Muslim.

Bermula dari Sebuah Surau

Kuntowijoyo lahir di Bantul, Yogyakarta, pada 18 September 1943. Ia tumbuh dalam keluarga seniman. Ayahnya seorang dalang dan pembaca macapat, sementara kakek buyutnya adalah kaligrafer. Agaknya lingkungan keluarga ini ikut berpengaruh terhadap minatnya dalam sastra.

Kuntowijoyo kecil mulai belajar mendongeng dan mendeklamasikan puisi di sebuah surau di desa Ngawonggo, Klaten. Di sana ia mendapat bimbingan dari M. Saribi Arifin dan Yusmanan, dua sastrawan kondang kala itu. Waktu luang yang ada dimanfaatkannya untuk membaca karya-karya penulis masyhur Indonesia dan dunia.

Wan Anwar dalam Kuntowijoyo: Karya dan Dunianya (2007) menulis, “Begitu pula ketika memasuki SMP, ia membaca karya Hamka, H.B. Jassin, Pramoedya Ananta Toer, Nugroho Notosusanto, hingga pada masa SMA berkenalan dengan karya dunia, misalnya karya Charles Dickens dan Anton Chekov” (hlm. 3).

Pada 1964, semasa berkuliah di Jurusan Sejarah UGM, ia mulai menulis novel pertamanya. Novel yang ia juduli Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari kemudian diterbitkan sebagai cerita bersambung di harian Djihad pada 1966.

Menurut Mochamad Irfan Hidayatullah dalam tesisnya di UI yang berjudul “Estetika Sastra Profetik: Analisis Struktural-Semiotik Atas Gagasan dan Karya Sastra Kuntowijoyo” (2006), bakat menulis Kuntowijoyo memang semakin kilap saat berkuliah. Tak hanya menulis, putra dalang ini juga sempat mendirikan Lembaga Kebudayaan dan Seniman Islam (Leksi). Ia juga terlibat dalam Studi Grup Mantika bersama Dawam Rahardjo, Sju’bah Asa, Ikranagara, Abdul Hadi W.M., dan Arifin C. Noer (hlm. 36).

Setamat sarjana, Kuntowijo lantas mengajar sejarah di almamaternya sejak 1970. Studi master dan doktoral berturut-turut ditempuhnya di University of Connecticut dan Columbia University, Amerika Serikat. Di luar kegiatan akademik kampus, suami Susilaningsing—yang dinikahinya pada 1969—itu sering mengisi ceramah ilmiah dan menulis.

Karya cerpen Kuntowijoyo turut mengisi halaman majalah sastra seperti Budaya Jaya dan Horison juga rubrik sastra di koran Kompas dan Republika. Sementara karya ilmiahnya—meliputi soal-soal sejarah, budaya, dan keislaman—banyak terbit di jurnal Prisma, Ulumul Quran, dan Keadilan. Serangkaian tulisannya tentang politik Islam juga pernah menjadi pengisi tetap majalah Ummat pada 1996.

“Tidak banyak sastrawan Indonesia yang ‘sukses’ sebagai sastrawan sekaligus sebagai intelektual dan akademisi. Kualitas dan produktivitas Kuntowijoyo menulis karya sastra sebanding dengan kekuatannya menulis karya ilmiah dalam bidang sejarah atau pemikiran sosial berbasis Islam,” tulis Wan Anwar dalam bukunya

COMMENTS