Mengenal Albania, Negeri Muslim di Benua Eropa yang Toleran

Mengenal Albania, Negeri Muslim di Benua Eropa yang Toleran

Habib Jamal Baagil: Islam Agama Damai, Bukan Agama Balas Dendam
Bukti Komitmen Keraton Yogyakarta Terhadap Penyebaran Ajaran Islam
Inilah Ar-Rayah dan Liwa’, Bendera Tauhid Milik Rasulullah SAW

JAKARTA, SUARADEWAN.com — Gemerlap Piala Dunia 2018 dalam partai Swiss versus Serbia lalu diwarnai selebrasi emosional Granit Xhaka dan Sherdan Shaqiri. Dua pemain Swiss yang merupakan imigran asal Albania tersebut membentuk serupa elang dengan tangannya usai mencetak gol ke gawang Serbia. Lambang tersebut merupakan bendera resmi Albania.

Xhaka dan Shaqiri merupakan pemain asal Kosovo yang hijrah ke Swiss karena konflik dengan Serbia, Kosovo yang mendeklarasikan kemerdekaan dari Serbia pada 2008 tersebut sempat tegang karena Serbia tak mau mengakui kemerdekaan negeri balkan tersebut.

Nama Kosovo berarti burung sikatan hitam. Nama ini juga diambil dari Lahan Kosovo (Kosovo Polje), sebuah lahan di bagian timur Kosovo dan tempat terjadinya pertempuran Kosovo pada 1389 antara Serbia dan Kesultanan Utsmaniyah.

Selebrasi Shaqiri & Xhaka pada matchday kedua Grup E Piala Dunia 2018, Sabtu (23/6) dini hari WIB di Stadion Kaliningrad, Rusia.

Pemerintah Utsmaniyah menamakan sebuah provinsi (Vilayef) yang mencakup Kosovo dan sekitarnya dari lahan tersebut. Mayoritas warga Kosovo berasal dari ras Albania yang umumnya merupakan mayoritas Muslim. John L Esposito me nulis, penggalian arkeologis di Butrint, sepanjang Laut Adriatik dekat perba tasan Albania dan Yunani menunjukkan bahwa Albania dihuni mula-mula oleh suku Kaon. Suku ini mendiami kawasan tersebut sejak 800 hingga 600 SM.

Baca juga  Ada Tulisan Arab Allah dan Ali di Kostum Kuburan Viking Abad 9

Albania yang juga dikenal dengan sebutan Illyria pernah diserang orang Yunani, Romawi, Bizantium, dan Turki. Di Butrint, masih ada amfiteater indah peninggalan Romawi yang berasal dari abad kedua. Di dekatnya terdapat makam-makam Utsmaniyah bercirikan tulisan Arab dari abad ke-15.

Sultan Muhammad II mengalahkan Skanderberg yang memberontak kepada Ottoman pada 1479. Kecuali pada awal abad ke-19 saat Ali Pasha mendirikan kerajaan berumur pendek, Albania nyaris menjadi bagian dari Kesultanan Turki Utsmani hingga 1912. Selama itu, banyak orang Albania mengamalkan ajaran Islam. Namun, sebagian di antaranya memilih Gereja Ortodoks dan lainnya memilih Katolik Roma.

Muslim Albania

Albania sempat menjadi markas kaum Bektashiyah pada awal abad ke- 20. Pada 1928, ketika Kemal Attaturk memimpin sekularisasi di Turki, mereka lantas diusir. Pemimpin mereka, Salih Dedei, hijrah ke Albania dan menetap di Tirana. Pada Perang Dunia II, Albania terkenal dengan semangat toleransinya.

Baca juga  Di Mata Dunia, Islam Indonesia Tampil Dengan Penuh Toleran

Rakyat Albania menolak untuk menyerahkan tiga rataus anggota komunitas Yahudi kepada Nazi Jerman. Perlindungan yang diberikan dari tetangga Muslim dan Kristen Ortodoks kepada warga Yahudi tersebut membuat hanya lima orang Yahudi Albania yang tewas.

Albania juga sempat menderita di bawah rezim komunis pada 1944-1990. Enver Hoxha mendeklarasikan Albania sebagai negara ateis pertama di dunia. Rezim Hoxha menutup ribuan rumah ibadah dari masjid, gereja hingga biara. Para pemeluk agama yang tertangkap basah mengenakan simbol agama lantas dihukum penjara 10 tahun.

Muslim Kosovo

Pada 1991, tidak lama setelah kebebasan beribadah dibuka kembali, lebih dari 15 ribu orang berkumpul di dalam dan di sekitar Masjid Ethem Bey di pusat Kota Tirana. Untuk pertama kalinya dalam 24 tahun terakhir, mereka bisa beribadah secara legal.

Albania kemudian menjadi negara OKI pada awal 1922. Banyak di antara bangsa Albania yang tinggal di Kosovo juga mendeklarasikan kemerdekaan Republik Kosovo dari kekuasaan Serbia. Albania menjadi satu dari negara yang mengakui kemerdekaan Kosovo. (rep)

COMMENTS