Mengarang Itu Gampang

Mengarang Itu Gampang

Hizbut Tahrir dan Doktrin Nazi Hitler
Abah Kita (Bag.1) : Kelahiran Sang Semar
Solusi Maksiat ala Ali Sadikin

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Ya mengarang itu gampang, kata Arswendo Atmowiloto. Tapi Putu Wijaya bilang “menulis itu menggorok leher, mencurahkan makna”. Keduanya benar, buat saya.

Keduanya jualah yang membuat saya ketika itu ingin dan mau menjadi penulis — meski sejak SD saya sudah termasuk golongan murid yang dianggap “jagoan” untuk mata pelajaran mengarang bebas. Kala itu topik yang “viral” adalah mengarang dengan tema berlibur di rumah nenek.

Kembali ke Arswendo. Saya berkenalan langsung dan mewawancarainya sekitar tahun 90 an di kawasan Palmerah Jakarta. Arswendo sebagai Pemred Tabloid MONITOR dan saya wartawan tabloid WANITA INDONESIA milik Bu Tutut Siti Hardiyanti Rukmana.

Baca juga  Kisah Sarung Bugis dan Dubes Bugis Di Qatar

Meski kasta pangkat saya jauh lebih rendah dengan Arswendo (Beliau Pemred dan saya reporter), namun saya berhasil “mengerjainya” dengan “menelanjanginya”.

Iya saya benar benar bikin Arswendo telanjang tanpa baju dan mengganti membungkus tubuhnya dengan lembaran kertas tabloid Monitor. Untuk diketahui kala itu tabloid MONITOR termasuk paling berani memasang cover wanita seksi dengan busana rada rada minim. Jepretan yang saya buat itu semacam ledekan ke Arswendo yang memang selalu nyeleneh.

Hasil foto saya: Arswendo dengan balutan kertas koran Tabloid MONITOR kemudian tayang sebagai Sampul Depan Tabloid WANITA INDONESIA lengkap dengan wawancara panjang sosok Arswendo.

Lama tak bersua, ya dari tahun 90 an hingga akhirnya saya bersua kembali sekitar awal tahun 2014. Perjumpaan ini terjadi di Studio METRO TV dengan status yang berbeda dengan tahun 90 an. Arswendo sebagai pembawa acara talk show politik dan saya sebagai nara sumbernya. Kali ini Arswendo mewawancarai saya sebagai Caleg DPR RI Partai Golkar Dapil Jaksel Jakpus dan Luar Negeri.

Baca juga  Kisah Sarung Bugis dan Dubes Bugis Di Qatar

Sore ini sepulang dari kantor, dalam perjalanan membelah kemacetan Jakarta saya termasuk yang ikut dikejutkan atas wafatnya sastrawan dan tokoh penulis super produktif itu. Selamat jalan Mas Wendo.

Damai di Surga. Terima kasih sudah mengatakan mengarang itu gampang

Egy Massadiah, 19 Juli 2019