oleh

Mengapa Maulana Rumi Dicintai oleh Berbagai Golongan?

Oleh: Sitti Aisyah Sungkilang 

(Pecinta Maulana Jalaluddin Rumi, saat ini sedang menempuh pendidikan di Ankara University)

banner 1280x904

“Datanglah, siapa pun kamu, datanglah Apakah kamu seorang kafir, kaum majusi, ataupun musyrik, datanglah Gubuk kami bukanlah gubuk tanpa pengharapan Meski ratusan kali kamu melanggar pertobatanmu, datanglah” … Jangan menjadi setetes air, tapi jadikan dirimu lautan Ketika kamu merindukan laut, biarkan tetesan itu hilang, mendekatlah! Lebih dekat lagi. Sehebat apa jalan ini menghantam? Ketika kamu adalah aku dan aku adalah kamu, sungguh indah kekamuan dan keakuan ini… … Lihatlah seperti dirimu apa adanya atau jadilah seperti dirimu yang terlihat (Maulana Jalaluddin Rumi)

Orang Turki umumnya menyebut Rumi dengan gelaran Mevlana (baca: mewlana) yang artinya adalah “guru kami” atau Mevlavi (baca: mewlawi) yang artinya “guruku”, yang sesungguhnya berakar dari bahasa Arab. Jikapun mereka ingin menyebut Rumi, mereka akan melengkapi sebutan dengan gelarannya, yaitu Mevlana Calaleddin Rumi (baca: Mewlana Jalaleddin Rumi).*

Ini adalah kesan pertama saya ketika mengajak orang Turki berdiskusi tentang Rumi. Begitupun ketika berkunjung ke makam Rumi, di gerbang pintu masuk kuburan terdapat kaligrafi berbahasa arab “ya hadhrat maulana”. Pada area makam yang juga museum Rumi, seluruh teks petunjuk/penjelasan ataupun hanya tertulis Hazret Mevlana (guru kami terkasih), termasuk pada cinderamata Rumi.

Rumi begitu istimewa di dalam khasanah kebudayaan dan pandangan keagamaan orang Turki. Meski ratusan abad berlalu dari sejak wafatnya Rumi (17 Desember 1273), segala tentang Rumi masih dapat kita temukan dalam keadaan terawat dengan  baik dan lestari di kota Konya yang merupakan kota tempat makam Rumi berada. Konya hari ini menjadi salah satu kota yang menjadi ikon pariwisata kebudayaan dan keagamaan yang penting di Turki, dan itu semua karena daya tarik yang kuat dari pesona Rumi, sang mistikus cinta.

Turki adalah negara berbentuk republik dengan landasan konstitusi sekulerisme dengan mayoritas penduduk adalah muslim. Menurut statistika populasi pemeluk agama dan keperyaan yang ada di Turki, kelompok Sunni adalah kelompok mayoritas dengan jumlah populasi 70%. Dalam kelompok sunni ini teradapat dua mazhab utama, yaitu Hanafi dan Syafii.

Umumnya Hanafi mendiami jazirah tengah, barat dan utara Turki. Adapun mazhab Syafii sebagian besar mendiami daerah tenggara dan timur yang merupakan wilayah yang berbatasan dengan negara-negara Arab. Adapun populasi keagamaan lainnya adalah kelompok Alevi (20%), Syiah (4%), Kristiani 2%, Protestan 1% (Ortodoks Armenia 60,000 orang, Suryani 20,000 orang, ortodoks Romawi 2,270 orang, Ortodoks Rusia 15,000 orang, Protestan 7,000 orang, Katolik 25,000 orang, Kepercayaan Jehovah 5,000 orang dan Katolik Kaldian 3,000 orang)[3], Spiritualis (non agama) 6%, Agnostik 3%, Budis 1%, Budis Mahayana 1%, Yahudi sekitar 23,000 jiwa, Bahai 20.000 orang dan Yazidi 5.000 orang.[4]

Sebagai negara republik yang berlandaskan konstitusi sekulerisme, friksi sekuler dan agama membentuk ruang perdebatan yang terus-menerus, mencoba menemukan titik pertemuan antara sekulerisme yang membatasi ekspresi religiusitas di ruang publik untuk mewujudkan keadilan tanpa diskriminatif dengan pelaksanaan nilai keyakinan yang menjadi hak asasi dari setiap orang. Kebebasan sekaligus pembatasan.

Hari ini, di bawah kekuasaan Erdogan yang hampir 18 tahun berkuasa, kesan sekulerisme yang kesannya “anti agama” menjadi pudar digantikan dengan sekulerisme ala “Neo-Ottomanisme”. Di era Erdogan ataupun di era sebelumnya, Turki terus mengalami bentuk-bentuk “penindasan” dalam kerangka perdebatan konstitusi sekulerisme. “Penindasan” yang saya maksudkan tersebut sebagai contoh di era sebelum Erdogan, yang terjadi adalah pembatasan menggunakan jilbab bagi perempuan di perkantoran, sekolah dan RS. Adapun di era Erdogan, sekulerisme yang hakikatnya mendorong keadilan bagi seluruh umat beragama dan kepercayaan yang ada, tapi menurut aktifis kebebasan beragama, Direktorat Keagamaan Turki (Diyanet) hanya mengurusi dan membiayai urusan keagamaan golongan Sunni.

Melihat fenomena tersebut, saya melihat hal positif pada Kementrian Agama RI, meski tentu saja banyak hal yang masih harus dibenahi untuk mendukung perayaan berketuhanan seluruh umat beragama dan atau  kepercayaan yang ada di Indonesia, mau dari kelompok mayoritas ataupun minoritas.

Menggambarkan corak beragama Muslim Turki adalah seperti bentuk perpaduan corak tradisi Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Terasa sekali penerapan teknologi canggih dan ilmu modern dalam berbagai bidang kehidupan di Turki, namun demikian modernitas tersebut tidak meninggalkan tradisionalisme, yaitu tetap melakukan ziarah ke makam-makam orang suci atau tempat suci (jejak-jejak Nabi dan Rasul) untuk mendapatkan wasilah dan hidayah Allah SWT lewat perantara para waliyullah.

Inilah hal yang paling menarik di Turki, baik golongan modernis ataupun tradisionalis, muslim atau non-muslim atau ateis sekalipun, golongan pecinta sejarah dan kebudayaan, semuanya bisa datang berkunjung ke Turki, karena Turki menawarkan berbagai jenis paket wisata. Termasuk hari ini di masa pandemi, Turki membuka paket wisata kesehatan kepada dunia atas keberhasilannya mengatasi pandemi dengan dampak yang tidak begitu signifikan, baik dari segi kasus COVID-19 ataupun ekonomi secara nasional.

Mengelilingi jazirah Turki dari barat ke timur dan selatan ke utara, membuat kita belajar tentang peradabatan kita hari ini.  Setiap jengkal tanah Turki adalah warisan peradaban besar dunia hingga era sebelum masehi. Pemerintah Turki sangat serius merawat naskah-naskah kuno dan bangunan arkeologis bersejarah. Puing-puing bangunan ribuan tahun dibukan menjadi museum yang membuat kita dapat membangun imajinasi tentang luar biasanya karya dan kerja peradaban masa lalu. Museum arkeologis yang paling terkini adalah “Gobekli Tepe”, tempat penyembahan abad 12.000 SM.

Penemuan arkeologis terbesar ini merubah gagasan mapan yang selama ini kita yakini, yaitu tentang sejarah penyembahan manusia. Sebelumnya konsep kurban dikenal oleh masyarakat yang sudah mapan dan non-nomadik. Penemuan Gobekli Tepe ini menunjukkan bahwa pada zaman batu, ketika manusia masih hidup berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, mereka membangun area penyembahan dengan batu-batu besar dan tinggi dengan gambar simbol-simbol penyembahan dan pengurbanan. Ini artinya, kepercayaan kepada Zat Yang Maha Kuasa merupakan hal paling primordial dalam diri manusia.

Kita kembali pada Rumi. Setiap tanggal 17 Desember Konya akan dipadati oleh peziarah dari seluruh belahan dunia. Mereka merayakan hari haul Rumi, yang mereka sebut Şeb-ı Arus (baca: Syeb Arus) yang artinya Malam Pengantin. Disebut sebagai hari malam pengantin adalah karena momen kematian bagi seorang sufi adalah momen bertemunya makhluk dengan Khalik setelah memendam kerinduan yang lama. Hari meninggalnya Rumi adalah hari pertemuannya dengan Sang Kekasih, Sang Cinta. Peziarah merayakan hari cinta itu. Pagelaran tarian Sema digelar selama seminggu penuh. Untuk momen haul tersebut, jauh-jauh hari peziarah telah memesan hotel dan tiket penerbangan.

Entah dari mana asalnya, bagaimana bentuk tarikatnya, apapun itu latar belakangnya, area pemakaman Rumi dipadati oleh mereka yang mencintai Rumi dan pemikiran hikmatnya. Semua peziarah merapalkan doa di hadapan makam Rumi yang berbalut sorban berwarna Turkuaz. Adapula pengunjung yang hanya duduk termenung di sudut dan menangis tak henti-henti. Ada yang datang bersama rombongan, ada yang datang sendiri-sendiri. Tidak hanya muslim, non muslim pun ramai menziarahi makam Rumi.

Semua orang sibuk dengan pikirannya masing-masing mngenang Rumi dan ajarannya dengan caranya masing-masing. Syair indah yang menyerukan untuk menghidupkan cinta di dalam hati adalah daya mistis yang menarik orang mempelajari pemikirannya. Karena ketika melihat dengan cinta, segala sesuatunya menjadi indah. Dan cinta adalah perasaan universal yang ada dalam diri setiap makhluk.

Guru pembimbing jalan sufistik Rumi adalah Shams At-Tabriz. Terdapat perbedaan pandangan tentang keberadaan makam Shams at-Tabriz, dipercayai oleh orang Iran, makamnya berada di Tabriz, yaitu satu daerah di Iran. Sedang menurut pendapat orang Turki, makam sesungguhnya yang berada di Konya, yaitu terletak sekitar 300 meter dari makam Rumi. Sebagai mursyid Rumi, peziarah pun banyak berkunjung ke makam Shams at-Tabriz yang berada di dalam masjid. Sebagai penutup tulisan singkat ini, saya akan mencantumkan 40 aturan Sham at-Tabriz bagi peziarah jiwa yang berhati lapang agar bisa sampai pada level cinta yang sejati:

Aturan 1: Cara kita melihat Tuhan adalah refleksi langsung dari cara kita melihat diri kita sendiri. Melihat Tuhan dengan rasa takut yang berlebihan artinya dalam diri kita ada terlalu banyak rasa takut dan menyalahkan diri sendiri. Jika melihat Tuhan penuh cinta dan kasih sayang, artinya dalam diri kita pun penuh dengan rasa cinta.

Baca juga  Sitti Aaisyah Sungkilang, Jebolan IKAMI Bicara Rumi

Aturan 2: Jalan menuju Kebenaran adalah kerja hati, bukan kepala. Hatilah yang menjadi kompas perjalanan di dunia yang fana. Kenali apa itu nafsu apa itu ego, agar nafsu tidak menang dari hati dan agar pengetahuan akan ego menuntun kepada pengetahuan tentang Tuhan.

Aturan 3: Mengenali Tuhan tidak hanya melalui tempat-tempat ibadah, seperti masjid, gereja, sinagog, candi, dll. Tuhan dapat dikenali dari mempelajari alam semesta. Tetapi jika kita ingin mengetahui di mana tepatnya tempat tinggal-Nya, hanya ada satu tempat untuk mencarinya: di dalam hati seorang kekasih sejati.

Aturan 4: Rasio dan cinta berasal dari sumber yang berbeda. Rasio itu membuat kita terikat pada simpul logika sehingga sulit untuk mengambil risiko yang bertolak belakang dengan lingkup kuasa logika, tetapi cinta melarutkan semua yang kusut dan mempertaruhkan segalanya. Rasio selalu berhati-hati dan memberi nasehat untuk tetap tersadar dan tidak “mabuk” sedangkan cinta mengatakan, “biarlah, seluruh resiko ku tempuh untuk mendalami rasa”. Rasio tidak mudah rusak, sedangkan cinta begitu rentan mudah hancur berkeping-keping. Tapi harta karun tersembunyi di antara reruntuhan. Hati yang hancur menyembunyikan harta.

Aturan 5: Sebagian besar masalah di dunia berasal dari kesalahan linguistik dan kesalahpahaman yang sederhana. Makna seringkali terkurung dalam bahasa material, padahal dalam dunia cinta, bahasa menjadi usang. Apa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata hanya bisa dipahami melalui keheningan.

Aturan 6: Kesepian dan kesendirian adalah dua hal yang berbeda. Dalam kesepian, mudah untuk tertipu dengan persangkaan bahwa kita sedang dalam keadaan yang benar. Kesendirian lebih baik, karena meski sendiri tidak merasa kesepian sebab ada sesuatu yang menjadi cermin diri. Tetapi pada akhirnya itu yang terbaik untuk menemukan seseorang yang akan menjadi cermin Anda. Mengingat hanya di dalam hati dan disana benar-benar dapat melihat diri dan kehadiran Allah di dalam diri Anda.

Aturan 7: Apa pun yang terjadi dalam hidup, tidak peduli betapapun sulitnya, kita tidak boleh berputus asa. Bahkan ketika semua pintu tetap tertutup, Tuhan akan membuka jalan lainnya. Bersyukurlah. Sangat mudah untuk bersyukur ketika semuanya baik-baik saja. Namun bagi seorang sufi, bersyukur tidak hanya atas apa yang telah diberikan kepadanya tetapi juga untuk semua yang telah ditolaknya.

Aturan 8: Kesabaran tidak berarti bertahan yang pasif melainkan melihat akhir dari suatu proses. Kesabaran adalah melihat duri pada mawar, melihat malam pada fajar. Ketidaksabaran berarti berpikiran pendek sehingga tidak mau melihat hasilnya. Para pecinta Tuhan tidak pernah kehabisan kesabaran, karena mereka tahu bahwa diperlukan waktu bagi bulan sabit untuk menjadi bulan penuh.

Aturan 9: Timur, barat, selatan, atau utara mungkin sedikit berbeda. Namun, apa pun tujuan hidup, pastikan untuk menjadikan setiap perjalanan sebagai perjalanan hati. Dengan bepergian dengan hati, kita akan melakukan perjalanan ke seluruh dunia yang luas dan lebih jauh.

Aturan 10: Bidan tahu bahwa ketika tidak ada rasa sakit, jalan bagi bayi tidak bisa dibuka dan ibu tidak bisa melahirkan. Demikian juga, agar diri baru dilahirkan, diperlukan kesukaran. Sama seperti tanah liat yang harus melalui proses pembakaran dengan panas yang kuat untuk menjadi kuat, Cinta hanya dapat disempurnakan dengan rasa sakit.

Aturan 11: Pencarian cinta mengubah seseorang. Tidak ada pencari cinta yang mencari cinta yang belum matang dalam prosesnya. Saat kita mulai mencari cinta, kita mulai berubah luar dalam.

Aturan 12: Ada lebih banyak guru atau pembimbing palsu daripada jumlah bintang yang terlihat di alam semesta. Jangan tertipu dengan orang yang yang didorong oleh nafsu dengan seorang pembimbing yang sejati. Seorang guru spiritual sejati tidak akan mengarahkan perhatian Anda pada dirinya sendiri dan tidak akan mengharapkan kepatuhan mutlak atau kekaguman total dari Anda, tetapi sebaliknya akan membantu Anda untuk menghargai dan mengagumi batin diri Anda. Mentor sejati seperti kaca being. Mereka membiarkan cahaya Tuhan masuk melewati mereka.

Aturan 13: Usahakan untuk tidak menolak segala perubahan yang dialami, sebaliknya jalani perubahan itu. Tidak perlu khawatir jika takdir hidup berubah drastis sebab kita tidak pernah tahu kehidupan seperti apa yang lebih baik di masa depan.

Aturan 14: Tuhan sibuk mengurus urusan dunia, baik secara lahiriah maupun batin. Dia sepenuhnya sibuk dengan diri kita. Setiap manusia adalah karya dalam proses yang perlahan tapi pasti yang bergerak menuju kesempurnaan. Kita masing-masing adalah karya seni yang belum selesai dan sedang menunggu masa penyelesaiannya. Tuhan berurusan dengan kita masing-masing secara terpisah karena manusia adalah seni tulisan tangan terampil di mana setiap titik sama pentingnya untuk seluruh gambar.

Aturan 15: Sangat mudah untuk mencintai Tuhan yang sempurna, tidak bercela sedikit pun. Yang jauh lebih sulit adalah mencintai sesama manusia dengan segala ketidaksempurnaan dan kekurangannya. Perlu kita ingat, seseorang hanya mencintai apa yang ia ketahui. Tidak ada kebijaksanaan tanpa cinta, kecuali jika kita belajar untuk mencintai ciptaan Tuhan, kita tidak dapat benar-benar mencintai atau benar-benar mengenal Tuhan.

Aturan 16: Keyakinan sejati adalah yang bersemayam di hati. Segala noda di luar hati dapat dibersihkan. Hanya ada satu jenis kotoran yang tidak dapat dibersihkan dengan air murni, dan itu adalah noda kebencian dan kefanatikan yang mencemari jiwa. Kita dapat menyucikan tubuh dengan berpuasa, tetapi hanya cinta yang akan memurnikan hati.

Aturan 17: Seluruh alam semesta terkandung dalam diri manusia. Segala sesuatu yang kita lihat lihat di sekitar, termasuk hal-hal yang mungkin tidak disukai atau orang-orang yang dibenci, hadir di dalam diri dalam berbagai tingkatan. Karena itu, tidak perlu mencari setan di luar diri. Setan/iblis bukanlah kekuatan luar biasa yang menyerang dari luar melainkan dari dalam diri. Jika kita mengenal diri sepenuhnya, jalani dengan penuh kejujuran dan upaya keras.

Aturan 18: Jika kita ingin mengubah cara orang lain bersikap paa diri kita, maka kitalah yang terlebih dahulu merubah sikap kita kepada orang lain, yaitu bersikap tulus. Untuk sampai ke tahap itu, hendaknya kita bersyukur atas setiap duri yang mungkin dilontarkan orang lain kepada kita. Bisa jadi pertanda segera kita akan mandi mawar.

Aturan 19: Tidak perlu khawatir kemana takdir akan membawa, cukup fokuskan diri pada langkah pertama. Itulah hal tersulit yang dilakukan. Setelah langkah pertama, biarkan segala sesuatunya mengalir secara alami, sisanya akan mengikuti. Tidak perlu mengikuti arus melainkan jadilah arus itu sendiri.

Aturan 20: Kita semua diciptakan menurut gambar-Nya, namun kita masing-masing diciptakan berbeda dan unik. Tidak ada dua orang yang sama. Tidak ada jantung berdetak dengan irama yang sama. Jika Tuhan ingin semua orang sama, Dia pasti akan melakukannya. Karena itu, tidak menghargai perbedaan dan memaksakan pemikiran Anda pada orang lain adalah cara untuk tidak menghormati skema suci Tuhan.

Aturan 21: Ketika seorang pencinta Allah yang sejati masuk ke sebuah kedai minuman, kedai itu menjadi kamar doanya, tetapi ketika seorang pemabuk masuk ke tempat yang sama, tempat itu menjadi kedai minumannya. Dalam segala hal yang kita lakukan, hati kita yang membuat perbedaan, bukan penampilan luar kita. Para sufi tidak menghakimi orang lain atas penampilan mereka atau siapa mereka. Ketika seorang sufi menatap seseorang, dia menutup kedua matanya dan membuka mata ketiganya, yaitu mata batin.

Aturan 22: Hidup adalah pinjaman sementara dan dunia ini tidak lain hanyalah tiruan dari Dunia/Realitas. Hanya anak-anak yang akan salah mengira mainan untuk hal yang nyata. Namun manusia menjadi tergila-gila dengan mainan itu dan menghancurkannya dengan kasar lalu membuangnya. Dalam kehidupan fana ini, hendaknya kita menjauhi pandangan ekstrim, karena akan menghancurkan keseimbangan batin. Seorang sufi tidak terlalu ekstrem, ia selalu tetap lunak dan moderat.

Aturan 23: Manusia memiliki tempat yang unik di antara ciptaan Tuhan. “Aku menghembuskan napas kepadanya,” kata Tuhan. Masing-masing dari kita tanpa kecuali dirancang untuk menjadi utusan Allah di bumi. Tanyakan kepada diri sendiri, seberapa sering Anda berperilaku seperti seorang delegasi, jika Anda pernah melakukannya? Ingat, kita semua harus menemukan roh ilahi di dalam dan hidup dengan itu.

Aturan 24: Neraka ada di sini dan sekarang, begitu juga surga. Tidak usah mengkhawatirkan neraka atau bermimpi tentang surga, karena keduanya hadir saat ini. Setiap kali kita jatuh cinta, kita naik ke surge, setiap kali kita membenci, iri, atau berselisih dengan seseorang, segera kita terjatuh ke dalam neraka.

Baca juga  Parlemen Teken UU tentang Medsos, Warga Turki Tak Lagi Bebas Bermedsos

Aturan 25: Setiap orang membaca dan memahami Al-Quran pada tingkat yang berbeda sesuai dengan tingkatan kedalaman pemahamannya. Ada empat tingkat wawasan, yaitu yang pertama adalah yang membaca secara lahiriah dan tingkatan ini adalah yang paling banyak dilakukan orang banyak. Yang kedua adalah tingkatan batin, membaca dengan memahami maknanya. Yang ketiga adalah bagian dalam dari yang terdalam dari makna yang tersembunyi di tabir rahasiahnya. Yang keempat adalah tingkatan rahasia, karena begitu dalam sehingga tidak lagi bisa diungkapkan dengan kata-kata dan tak terlukiskan dengan berbagai imajinasi keratifitas.

Aturan 26: Alam semesta adalah makhluk yang seluruh isinya adalah satu kesatuan, saling terhubung melalui jaringan cerita yang tak terlihat. Apakah kita menyadarinya atau tidak, kita semua terhubung dalam kesenyapan. Jangan muda mempersalahkan orang lain, melainkan harus terus berlatih berbelas kasih. Tidak perlu mempergunjingkan orang lain sebab kata-kata yang keluar dari mulut tidak akan mudah lekang melainkan terus tersimpan di dalam ruang yang tak terbatas dan suatu saat hal itu akan kembali kepada diri kita. Rasa sakit yang diderita oleh satu orang akan melukai hati kita semua. Begitupun kegembiraan satu orang akan membuat semua orang tersenyum.

Aturan 27: Kata-kata yang terlanjur keluar, baik atau buruk, akan kembali kepada sang pembicara.. Karena itu, jika ada seseorang yang memikirkan hal-hal buruk tentang diri kita, tidak perlu memperburuk keadaan dengan membalas ucapan buruk kepadanya. Sebab kita akan dikunci dalam lingkaran energi setan yang jahat. Katakan dan pikirkan hal-hal baik tentang orang itu selama 40 hari, kita akan lihat perubahan besar yang terjadi di dalam diri kita.

Aturan 28: Fikiran kita tertutup oleh kabut tebal masa lalu sedang masa depan adalah ilusi, tertutup oleh tirai imajinasi kita. Dunia tidak lebih seperti garis lurus, kita berjalan dari masa lalu ke masa depan. Waktu bergerak melalui dan di dalam diri kita, dalam gerakan spiral tanpa akhir. Keabadian tidak berarti waktu tanpa batas. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, kita juga tidak dapat mengubah apa yang telah terjadi di masa lalu. Seorang sufi selalu berkhidmat dengan kesekarangan dan kekiniannya.

Aturan 29: Takdir bukanlah berarti bahwa ketentuan nasib kita diatur secara ketat sehingga kita menjalani hidup secara pasif dan tidak lagi berkontribusi pada harmoni alam semesta. Takdir hanya memberikan beberapa pilihan belokan jalan hidup, bukan seluruh jalan. Rute sudah jelas, yaitu menuju-Nya, tetapi pilihan jalan menuju Dia adalah milik kita. Dalam memaikan harmoni alam, indahnya bukan bergantung pada instrument apa yang dimainkan namun pad sebaik apa kita memainkannya.

Aturan 30: Sufi sejati adalah ketika difitnah secara keji, dituduh secara tidak adil, diserang dari semua sisi, dia tetap bersabar, tidak berkata buruk kepada pengkritiknya. Bagaimana mungkin ada lawan dan musuh atau bahkan “yang lain” sedangkan “diri” itu tidak ada? Bagaimana mungkin ada orang yang bisa dipersalahkan ketika hanya ada “Satu”?

Aturan 31: Untuk memperkuat iman, maka hati perlu dilunakkan. Agar iman menjadi kuat, hati harus selembut dan sehalus kapas. Melalui penyakit, kecelakaan, kehilangan atau ketakutan, dengan satu atau lain cara, kita semua dihadapkan dengan peristiwa yang mengajarkan kita bagaimana untuk menjadi makhluk yang tidak egois, tidak mudah menghakimi orang lain, bermurah hati dan welas asih. Namun, sebagian manusia dapat mengambil hikmah dari pelajaran hidup, berhasil menjadi seorang yang berhati santun dan lembut, sementara yang lain akhirnya menjadi lebih keras dari sebelumnya.

Aturan 32: Kita harus melepas tirai penutup satu persatu hingga kita dapat terhubung ke Allah dengan cinta yang murni. Kita punya pandangan sendiri-sendiri, tetapi jangan digunakan untuk menghakimi orang lain dengan sadis. Jika kita terus menghancurkan hati orang lain, tugas agama apa pun yang dilakukan menjadi tidak baik. Hendaknya kita menjauhi segala macam penyembahan berhala, karena akan mengaburkan visi perjalanan spiritual yang ditempuh. Kita seharusnya tidak sombong dengan kebenaran yang kita yakini, biar Tuhan dan hanya Tuhan yang menjadi pemandu kita, bukan karena pengetahuan kita.

Aturan 33: Ketika semua orang di dunia ini berusaha untuk mendapatkan sesuatu dan menjadi seseorang, padahal semua pencapaian itu akan ditinggalkan ketika ajal kematian tiba, kita berupaya untuk mencapai tahap tertinggi dari ketiadaan. Kita jalani hidup ini seringan mungkin dan kosong seperti angka nol. Ibarat ceret, bukan karena desain motif luar yang indah dia berfungsi tapi kekosongan di dalamnyalah yang membuatnya terpakai. Manusia pun demikian, bukan atas apa yang kita cita-citakan untuk dicapai tetapi kesadaran akan ketiadaan yang membuat kita terus maju.

Aturan 34: Kepasrahan tidak berarti lemah atau pasif. Kepasrahan tidak mengarah pada fatalisme. Justru sebaliknya, kekuatan sejati berada pada penyerahan kekuatan yang datang dari dalam diri. Mereka yang tunduk pada esensi kehidupan yang ilahi akan hidup dalam ketenangan dan kedamaian, tidak terganggu sedikitpun meski seluruh dunia mengalami pergolakan demi pergolakan.

Aturan 35: Di dunia ini, bukanlah persamaan atau keteraturan yang membawa kita selangkah lebih maju, tetapi justru perbedaan. Semua yang saling berlawanan di alam semesta ada di dalam diri kita masing-masing. Karena itu, mereka yang beriman perlu berjumpa dengan sisi kemungkara yang tinggal bersemayam di dalam dirinya, dan yang tidak beriman harus mengenali keyakinan yang senyap yang tersembunyi di dalam dirinya. Begitu seterusnya sampai di suatu ketika seseorang mencapai tahap Insan Kamil, manusia yang sempurna. Iman adalah proses bertahap dan proses yang membutuhkan pembolak-balikan setiap saat: kepercayaan – ketidakpercayaan.

Aturan 36: Dunia ini berjalan berdasarkan prinsip timbal balik. Baik setetes kebaikan maupun setitik kejahatan semua akan terbalas setimpal. Ketika seseorang merencanakan menjebak dan menyakiti kita, ingatlah, demikian juga Tuhan merencanakan sesuatu. Dialah Sang Perencana terbesar dan terbaik. Tidak ada sehelai daun pun yang bergoyang yang berada di luar pengetahuan Tuhan. Cukup dan sepenuhnya percaya akan hal itu. Apa pun yang dilakukan Tuhan, Ia melakukannya dengan indah.

Aturan 37: Tuhan adalah pembuat jam yang sangat teliti. Begitu tepat sistem-Nya bekerja sehingga segala sesuatu di bumi terjadi pada waktunya, tidak terlambat satu menit atau lebih awal satu menit. Dan untuk semua orang tanpa kecuali, waktunya bekerja secara akurat. Untuk setiap insan, masing-masing ada waktu untuk mencintai dan ada waktu kematian.

Aturan 38: Tidak ada kata terlambat untuk bertanya pada diri sendiri, “apakah saya siap untuk mengubah hidup yang saya jalani?” Jika kita hari ini adalah sama saja dengan hari-hari  sebelumnya, itu pasti sangat disayangkan. Setiap saat dan dengan setiap tarikan napas, kualitas seseorang harus diperbarui terus-menerus. Hanya ada satu cara untuk dilahirkan dalam kehidupan baru: matilah sebelum kematian.

Aturan 39: Sementara sebagian berubah, keseluruhan selalu tetap sama. Untuk setiap pencuri yang meninggalkan dunia ini, akan ada pencuri baru yang lahir. Setiap orang jujur yang meninggal digantikan oleh orang jujur lainnya. Artinya, tidak ada yang tetap tapi juga tidak ada yang benar-benar berubah. Begitupun sufi, yang minggal akan digantikan oleh sufi lainyya yang lahir di suatu tempat.

Aturan 40: Kehidupan tanpa cinta adalah kehidupan yang tak bermakna. Jangan bertanya cinta macam apa yang harus kita cari, apakah cinta spiritual atau material, ilahi atau duniawi, Timur atau Barat? Pembagi-bagian hanya menyebabkan lebih banyak pembagian. Cinta tidak memiliki label, tidak ada definisi. Cinta itu apa adanya, murni dan sederhana. Cinta adalah dunia itu sendiri, apakah kita berada di pusatnya atau di luarnya. Cinta adalah air kehidupan. Dan seorang pecinta adalah adalah jiwa api. Alam semesta berubah secara berbeda ketika api menyukai air.

Semoga tulisan ini ada manfaatnya. Wallaahu a’lam bishshawab.

catatan:

Lidah orang Turki dalam penyebutan berbahasa Arab sedikit tipis, seperti contohnya Aisyah mereka menyebutnya Aisye, Ahmad jadi Ahmed, Marwa jadi Merwe, dsb.

Laporan Kebebasan Beragama di Turki oleh Kemenlu AS pada tahun 2012

– Sumber data statistik Lembaga Ipsos pada tahun 2016

Komentar