oleh

Membangun Ekonomi Umat Berbasis Masjid Belum Menjadi Perhatian

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Masjid-masjid di Indonesia belum menjadi barometer kemajuan ekonomi masyarakat Muslim. Padahal, seharusnya masjid bisa menjadi barometer kemajuan ekonomi masyarakat Muslim.

“Saat ini masjid belum menjadi barometer kemajuan ekonomi,” kata Sekretaris Jenderal DMI, Imam Addaruqutni, Senin (4/9) sebagaimana dikutip dari Republika.co.id.

banner 1280x904

Padahal jumlah masjid yang terdaftar di Indonesia ada sekitar 950 ribu masjid. Sementara, masjid yang tidak terdata masih banyak jumlahnya. Hanya saja tidak ada yang secara serius memikirkan bagaimana membangun ekonomi umat berbasis masjid.

Menurut Imam, ada aspek kemiskinan dari tasawuf semangat sufi yang diambil oleh beberapa komunitas masjid. Sehingga mereka kurang menyemangati aspek dan komunitas ekonomi. Jadi, tasawufnya perlu dimoderinasasi supaya mengarah kepada pemberdayaan ekonomi umat melalui gerakan dakwah ekonomi di masjid.

DMI menilai, masjid harus menjadi bagian terpenting dari tolak ukur kemakmuran umat. Oleh karena itu DMI memasang tagline ”memakmurkan dan dimakmurkan masjid.” Masjid yang makmur menurut DMI bukan hanya masjid yang punya banyak uang di kotak amal.

“Sekarang banyak masjid yang punya uang di kotak amal miliaran rupiah. Tapi, masjid bisa dikatakan kaya kalau jamaahnya juga makmur secara ekonomi,” ujarnya.

Baca juga  Dewan Masjid Indonesia Ragu Data 40 Masjid di DKI Terpapar Radikalisme

Ia juga menegaskan, masjid jangan dipisahkan dari profesionalisme masyarakat. DMI berencana meningkatkan program pemberdayaan profesionalisme di kalangan komunitas masjid. Di samping itu, akan terus membuka program-program masjid yang tidak hanya bersifat ritual. Supaya ekonomi umat menjadi lebih baik lagi.

“Sebab selama ini yang dimasukan begitu kuat ke dalam program masjid hanya pengajian. Tapi pemberdayaan yang bersifat profesionalisme masih kurang,” jelasnya.

Secara terpisah, Pimpinan Majelis Ta’lim Wirausaha (MTW), Ustad Valentino Dinsi mengatakan ada beberapa kendala untuk membangun ekonomi umat berbasis masjid. Kendala yang pertama, pemahaman umat tentang fungsi masjid belum cukup. Di beberapa masjid bahkan ada yang melarang orang membicarakan tentang masalah ekonomi di dalam masjid. Padahal yang dilarang oleh Rasulullah itu tidak boleh bertransaksi di dalam masjid. Sebenarnya, dulu membicarakan masalah ekonomi, umat, perang dan politik di dalam masjid.

“Jadi yang pertama tentang masalah kepahaman masyarakat, tentang bagaimana fungsi masjid,” kata Ustaz Dinsi, Senin (4/9).

Ia menerangkan, yang kedua, umat tidak tahu cara membangun ekonomi umat berbasis masjid. Mereka bingung, usaha seperti apa yang akan mereka buat di masjid. Sebab mereka bukan pengusaha. Padahal ada 14 contoh jenis usaha yang bisa dibangun di masjid-masjid, seperti yang dijelaskan di dalam buku Panduan Masjid Mandiri.

Baca juga  Dewan Masjid Indonesia Ragu Data 40 Masjid di DKI Terpapar Radikalisme

Menurutnya, kalau pun mereka tahu usaha yang bisa dibangun di masjid, dari mana mereka akan memulai membangun ekonomi umat berbasis masjid. Selain itu, masih banyak masjid-masjid yang tidak terkoneksi antara satu dengan yang lainnya.

“Makanya saya mencoba, Majelis Ta”lim Wirausaha yang saya pimpin ini menyatukan masjid-masjid di seluruh Indonesia agar masuk ke dalam satu jaringan,” ujarnya.

Menurutnya, model bisnis yang cocok untuk umat Islam adalah model bisnis sharing ekonomi. Di dalam sharing ekonomi melibatkan masyarakat dan umat sebagai konsumen. Di satu sisi umat juga sebagai pemilik.

“InsyaAllah kami akan menjadikan umat sebagai produsen. Kedepannya InsyaAllah umat akan menjadi sebagai konsumen, produsen dan pemilik. Dengan cara seperti ini bisa menjadi bisnis yag adil,” jelasnya. (REP)

Komentar