oleh

Mashal Khan, Satu Diantara Korban-Korban Kaum Intoleran dan Sumbu Pendek

JAKARTA, SUARADEWAN.com — Mashal Khan – 26 tahun, mahasiswa di Pakistan, dipukul beramai ramai hingga meninggal oleh rekan-rekannya sendiri dengan alasan penodaan agama waktu mereka kalah debat.

Mashal seorang mahasiswa pintar, selalu menulis menyesali keterbelakangan negaranya Pakistan, diseret dipukul sampai mati.

banner 1280x904

Selain pintar, Mashal juga seorang humanis dan bisa mengemas pemikirannya secara gamblang di status-status facebooknya.

Imam masjid menolak sholatkan jenasahnya. Keluarganya lalu meminta seorang teknisi untuk jadi imam. Para tetangga yang tadinya takut menshalatkan Mashal, akhirnya meminta maaf dan membaca Al Fatihah di makamnya.

Pada dasarnya mereka baik tetapi takut pada kaum intoleran. Sampai sekarang warga Karachi terus berkabung untuk Mashal. Tetapi mereka tahu bahwa kejadian ini akan berulang terus.

Ayah Mashal Khan menolak kompensasi. Ia berkata, “gunakan uang ini untuk menderadikalisasi masyarakat Pakistan.”

Baca juga  Alasan Jaksa Ajukan Banding Kasus Ahok

What a man!

Di Pakistan ada modus operandi mirip Indonesia. Kalo mau menyingkirkan orang, pakai tuduhan penistaan agama. Undang-undang Penodaan Agama Pakistan dibuat rejim militer Zia Ul-Haq puluhan tahun silam untuk konsolidasi kekuasaan dan menghantam kaum moderat & sekular.

Undang-undang Penodaan Agama membuat intoleran merasa benar. Setiap tahun selalu ada yang mati dirajam karena dianggap meremehkan agama di Pakistan. Negara sudah berubah jadi negara terror dan ketakutan.

Nasionalis Pakistan sepanjang tahun protes pada radikalisme yg semakin beringas. Apa ada hasilnya?, tidak ada, karena radikal pakai kekerasan, warga takut. Protes menuntut keadilan bagi Mashal Khan. Apalah gunanya, mampukah kemanusiaan dan keadilan hadir di tempat intoleran subur seperti Pakistan?.

Baca juga  Arshad Khan, Penjual Teh Yang Berubah Nasib Jadi Model Terkenal

Kaum radikal intoleran tidak perlu jadi mayoritas untuk berkuasa karena mereka vokal dan militan, sedangkan mayoritas moderat diam dan ragu-ragu.

Kaum intoleran bersedia melakukan apa saja untuk menang dan kaum moderat hanya menonton di tv.

Inilah kemungkinan Indonesia di masa depan, negara berkembang yang dipenuhi kaum intoleran dan sumbu pendek. Tidak sulit menghancurkan negara yang kecanduan agama.

Tidak perlu rudal dan peluru. Buatin ring, beri asupan penistaan agama dan lain-lainnya maka ikan piranha akan bangkit. (sumber: iran corner)

Komentar