oleh

Ma’ruf Amin Didapuk Sebagai Cawapres Jokowi, Begini Tanggapan Analis Politik

TANGSEL, SUARADEWAN.com — Didapuknya ketua MUI Ma’ruf Amin sebagai Cawapres mendampingi petahana Joko Widodo diluar dugaan banyak pihak, terlebih dalam rilis survey politik sejauh ini nama Ma’ruf Amin tak diunggulkan. Analis politik Universitas Telkom Bandung Dedi Kurnia Syah menilai keputusan koalisi PDI P ini mengindikasikan isu Agama cukup ditakuti dan dianggap sebagai ancaman.

“Citra Kiai Ma’ruf Amin sebagai presentasi kelompok Islam dianggap penting bagi mereka (Koalisi Jokowi), sehingga masuk akal kalau kemudian pilihan cawapres harus dari kalangan Islam, sekaligus ini penanda koalisi Jokowi mengakui jika capresnya takharmonis dengan pemilih Islam” ujarnya kepada suaradewan.com, pada Jum’at (10/8/2018).

banner 1280x904

Ia menambahkan, tren politik hari ini telah bergeser dari dominasi parpol ke arah ketokohan, sehingga banyaknya dukungan parpol tidak menjamin peroleh kemenangan dalam kontestasi Pilpres. “Hari ini politik kita didominasi oleh keterpilihan tokoh, sehingga penting menakar ketokohan cawapres dan capres, masyarakat akan cenderung memilih tokoh yang paling sedikit celahnya untuk dirisak (bully) di media sosial maupun publik” tambahnya.

Baca juga  Rais Aam PBNU Amini Pandangan Presiden Soal Agama-Politik Harus Beriringan
Dedi Kurnia Syah

Senada dengan itu, ia juga menaruh perhatian soal masuknya Ulama ke dalam politik praktis, menurutnya Ulama tidak akan berpengaruh signifikan terhadap kontestasi Pilpres 2019 mendatang.

“Masyarakat hari ini lebih rasional dibanding pemilu tahun-tahun lalu, mereka akan memilih yang memang memiliki kapasitas, Ulama tidak serta merta mampu meraih sokongan suara tambahan bagi Jokowi, bahkan publik pun sekarang bisa memisahkan mana ulama dakwah, mana ulama politik” tukasnya.

Lebih dari itu, Dedi Kurnia menyinggung banyak tokoh politik, kepala daerah yang dicitrakan sebagai tokoh religius, tetapi justru berakhir dengan skandal korupsi, “Saat ini, bukan pilihan bagus menempatkan ulama sebagI pemain, ulama cukup menjadi penasihat, berada di barisan belakang yang memimpin masyarakat untuk mengarahkan pilihan terbaik” lanjutnya.

Baca juga  Politikus Partai Demokrat: Kiai Ma’ruf Bukan Pembohong

Disinggung soal kekuatan Prabowo Subianto yang akan menjadi penantang Jokowi, Dedi menilai harus banyak kehati-hatian menyusun strategi, termasuk memunculkan cawapres yang lebih unggul dari cawapres Jokowi.

“Prabowo memiliki peluang yang sama dengan Jokowi, bahkan mungkin saja lebih potensial, terlebih SBY berada di belakang koalisi Gerindra, hematnya harus memunculkan tokoh muda yang cukup memesona publik, tidak perlu tokoh yang langsung dicitrakan dari kalangan Islam, karena dibelakang mereka tidak sedikit tokoh Islam berpengaruh, sebut saja Abdul Somad, Aa Gym, Arifin Ilham” pungkasnya. (FN)

Komentar